Artikel ini aku tulis based on my experience ketika berwisata ke salah satu kabupaten di ujung timur Pulau Jawa, yaitu Kabupaten Banyuwangi. Wisata yang menghabiskan waktu empat hari lima malam tersebut, memberi banyak pengalaman dan tentunya menumbuhkan cerita-cerita baru dari setiap tempat yang aku kunjungin di Banyuwangi. Ini adalah perjalanan wisata backpacker petamaku bersama seorang teman jadi bisa dibilang kesannya cukup mendalam.
Aku dan temanku memulai perjalanan dari Kota Malang menunju Banyuwangi dengan menggunakan kereta api dan perjalanan ini memakan waktu kurang lebih tujuh jam. Sesampainya di Banyuwangi, kita menyewa sepeda motor sebagai alat mobilitas buat kemana-mana. Seru! Itu satu kata yang terlintas di benakku selama plesir di kota tersebut, mulai dari mengunjungi Taman Nasional Baluran, Kawah Ijen, Pantai Watudodol, Pantai Red Island, Pantai Mustika, dan terakir Taman Nasional Alas Purwo. Mata dan batinku rasanya benar-benar dimanjakan oleh keindahan alam di tempat itu, namun rupanya tidak hanya kesan alamnya yang indah saja, berwisata di Banyuwangi ini pun membuka mataku akan realitas kehidupan dari berbagai macam sisi. Maka dari itu, dalam tulisan ini aku akan membahas hal-hal lain selain keindahan alam, yang bisa ditemui jika berwisata ke Banyuwangi.

1. Mencicipi Kuliner yang Unik

Kenapa aku bilang makanan khas Banyuwangi itu unik? Soalnya beberapa kuliner khas yang populer dari tempat ini memiliki nama yang tidak biasa dan nama kulinernya seperti gabungan anatara dua jenis makanan. Misalnya nih, Rujak Soto. Mungkin sebagian dari kamu bertanya-tanya, masa iya makanan rujak dicampur dengan soto? Kenyataanya memang iya dan rasanya pun lumayan enak, nggak fail lah pokoknya. Saat disantap, rasa rujaknya menurutku lebih dominan ketimbang rasa sotonya sehingga lebih terasa seperti rujak sayur yang berkuah. Harganya pun cukup murah kok, waktu itu aku beli dengan harga Rp 6.000,00/ porsi.

Kemudian kuliner unik yang kedua adalah hidangan bernama Pecel Rawon. Nggak kalah enak dibanding Rujak Soto, makanan yang cukup populer ini juga gampang ditemui di Banyuwangi. Rasa rawon yang gurih dan segar bercampur dengan sayur-mayur dan sambal pecel ini pun bakal memberikan sensasi cita rasa yang lezat. Untuk hidangan yang satu ini, menurutku rasa rawonnya yang cukup dominan ketika disantap. Selain dua makanan itu, ada satu lagi kuliner unik nan lezat yang patut untuk dicicip ketika berwisata ke Banyuwangi yakni Nasi Tempong. Basicly kuliner yang satu ini menyerupai kudapan bernama Lalapan kalau di Malang tapi bedanya ada sayur bayam dan kangkung rebus yang ikut dihidangkan. Jika dibandingkan harga Lalapan di Malang, Nasi Tempong Banyuwangi terbilang lebih mahal sih, namun nggak afdol kalau ke Banyuwangi belum nyobain kuliner ini.

2. Menyaksikan Tarian Tradisional “Barong Ider Bumi”

Barong Ider Bumi via http://indonesiakaya.com

Advertisement

Sebenarnya waktu aku berwisata ke Banyuwangi itu bukan waktu dimana digelar upacara adat atau festival budaya tapi mungkin lagi lucky aja ya jadi bisa menyaksikan tarian tradisional “Barong Ider Bumi”. Bahkan menyaksikannya pun di tempat yang tidak disangka-sangka, tepatnya saat lagi mengunjungi Pantai “Red Island” dan kemudian ada seorang pemain “Barong Ider Bumi” yang lagi memeragakan tarian ini untuk keperluan shooting.

Bagi kamu yang ingin puas melihat keseruan tarian tradisional khas Banyuwangi ini, better datang aja ke Banyuwangi saat lebaran atau Bulan Syawal. Biasanya Suku Osing Banyuwangi menggelar upacara adat tolak bala dan ritual bersih desa yang tentunya mempertontontan tarian “Barong Ider Bumi” sebagai hiburannya.

3. Wisata Budaya di Kampung Osing

Kampung Osing Banyuwangi tepatnya berada di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota, kurang lebih menempuh waktu satu jam dengan sepeda motor untuk mencapai tempat ini, mungkin bagi yang sudah hafal jalannya bakal sampai lebih cepat. Di desa wisata ini wisatawan dapat melihat kearifan lokal dari rumah adat sekaligus furniture yang khas, berjumpa langsung dengan warga keturuna Osing dan mendengar cara mereka berinteraksi dengan bahasa Osing secara langsung. Suku ini memang populasinya bukan menjadi mayoritas warga Banyuwangi tapi pola kehidupan serta loyalitasnya terhadap budaya leluhur perlu diacungi jempol. Rumah adat yang memang masih mencolok tampak dipertahankan, kalau pakain adat yang dikenakan oleh warga Osing bisa dibilang sebagian sudah seperti warga Banyuwangi pada umumnya.

4. Berjumpa dengan Para Penambang Belerang di Kawah Ijen

Penambang Belerang via http://www.banyuwangibahagia.com

Ketika mengunjungi Kawah Ijen, ada realitas yang menyentil hati. Di balik keindahan kawahnya yang bisa dinikmati ribuan mata, ada kontradiksi yang dapat disaksikan di dalamnya, tentang realita orang-orang yang mengumpulkan nafkah di tempat itu. Pertama, hal yang menjadi perhatianku saat berkunjung ke Kawah Ijen ialah adanya para penambang belerang di sana. Most of them adalah para pria dan emang nggak ada yang perempuan deh kayaknya, dari yang berusia around twenties sampai bapak-bapak paruh baya pun melakoni profesi ini. Hebatnya mereka adalah bisa memikul bongkahan-bongkahan belerang dengan naik turun kawasan Kawah Ijen tanpa menggunakan alat pelindung apapun. Bahkan para penembang belerang tersebut seolah-olah udah kebal sama hawa dingin serta aroma belerang yang menyengat, sedikit dari mereka yang mengenakan jaket, masker ataupun alat pelindung diri lainnya.

Kedua, ada penyedia jasa trolley naik turun gunung juga lho di sana. Kebayang kan capeknya mendaki 2.368 mdpl, nah ini justru ada penyedia jasa yang dapat mengangkut wisatawan untuk naik turun-gunung dengan dinaikkan semacam kereta mini gitu. Para pendaki yang nggak dibebani barang bawaan apa-apa saja udah ngos-ngosan untuk naik turun Gunung Ijen, apalagi mereka para penyedia jasa trolley itu. Sebenarnya melihat realitas itu menumbuhkan rasa kagum sekaligus iba di dalam hati. Beruntung bisa menyaksikan perjuangan orang-orang tangguh yang pantang menyerah untuk mengumpulkan rezeki, belajar dari cara mereka melawan lelah, takut dan ketidakmungkinan.

5. Banyuwangi dan Cerita Mistisnya

Banyuwangi memang masih kental dengan hal-hal klenik, apalagi kota ini sempat santer dengan pemberitaan santet di media-media. Padahal menurut penuturan beberapa warga lokal, santet di Banyuwangi tidak seperti yang publik pikirkan selama ini, bukan santet untuk menyakiti orang lain tapi santet untuk menarik perhatian atau membuat orang lain jatuh cinta. Di samping santet, cerita mistis Banyuwangi juga muncul karena adat istiadat kejawen di sini masih dijunjung tinggi, seperti adanya ritual-ritual tertentu, banyaknya tempat pertapaan dan ada beberapa tempat yang merupakan spot untuk mencari pesugihan.

Selama berwisata ke Banyuwangi, sebanarnya aku nggak mengalami kejadian mistis yang gimana-gimana. Hanya saja memang ketika menyempatkan mengunjungi Taman Nasional Alas Purwo, ada hawa yang sedikit berbeda. Mungkin karena namanya juga hutan ya jadi sepi, rimbun dan akhirnya menciptakan keseraman tertentu. Apalagi waktu itu, aku dan temanku hanya berdua memasuki area tersebut sehingga cukup membuat bulu kuduk merinding. Namun perjuangan mencapai Alas Purwo itu bakal terbayar dengan keindahan savana, satwa dan pantainya.