Siapa yang tidak kenal dengan Dono?
30 Desember, 18 tahun yang lalu, dunia hiburan Indonesia ditinggal salah satu bintang besar di industri perfilman, khususnya film komedi. Wahyu Sardono atau yang lebih dikenal dengan Dono Warkop meninggal pada usia 50 tahun karena kanker paru-paru.

Dialah salah satu pentolan grup lawak legendaris Indonesia, Warkop DKI, yang masih dikenang namanya meski telah berpulang ke hadapan sang pencipta tahun 2001 silam. 
Setiap peran yang didapatkan para artis belum tentu sesuai dengan karakter asli mereka di kehidupan nyata. Ada yang mendapatkan peran bodoh plus bloon, padahal aslinya pintar. Berikut 9 fakta sosok Dono yang terkenal karena peran bloon-nya padahal berotak encer:

1. Seorang Pelawak Ikonik

Wahyu Sardono

Wahyu Sardono via https://goo.gl

Pasca meninggalnya Dono, Warkop DKI hanya menyisakan Indro. Personel Warkop yang lain, Nanu dan Kasino sudah terlebih dulu dipanggil Tuhan.

Advertisement

Dono bersama grup lawaknya, Warkop DKI yang beranggotakan Nanu, Kasino dan Indro dikenal akan peran mereka yang kerap mengocok perut. Selain itu, salah satu ciri khas dalam setiap film Warkop adalah, kehadiran wanita seksi sebagai pemeran pembantu.

2. Ketua Osis Semasa SMA

Berorganisasi

Berorganisasi via https://goo.gl

Selain kerap menyelipkan kritikan sosial, masih banyak fakta dari pelawak yang pernah menjadi ketua OSIS semasa SMA di Surakarta. Berikut fakta-fakta Dono Warkop yang mungkin belum diketahui publik.

 

3. Aktif di Kegiatan Kampus

Lirik nyanyian

Lirik nyanyian via https://goo.gl

Advertisement

Selesai kuliah, Dono sempat jadi Dosen. Setelah menamatkan sekolah menengah atas di Surakarta, Dono melanjutkan pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia dan mengambil jurusan Sosiologi.

Di kampus, pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, 30 September 1951 ini aktif di kegiatan kampus, salah satunya Mapala UI.

 

4. Asisten Dosen

Ilmu Fisip

Ilmu Fisip via https://goo.gl

Dari pernikahannya dengan Titi Kusumawardhani atau yang biasa disapa Didiet, Dono memiliki tiga orang anak, Andika Aria Sena, Damar Canggih Wicaksono, dan Satrio Sarwo Trengginas. 

Setelah menamatkan jenjang S1, bapak dari tiga orang anak ini dipercaya menjadi asisten dosen jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, di Universitas yang sama Dono juga menjadi Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

5. Dosen Sosiologi

The lonely ranger

The lonely ranger via https://goo.gl

Sosok Dono begitu dikenal berkat karakter kocaknya sebagai seorang komedian yang ikonik, mungkin tidak banyak orang yang tahu jika Dono juga adalah seorang dosen Sosiologi di Universitas Indonesia. 

 

6. Seorang Fotografer

Adegan fotografer gagal

Adegan fotografer gagal via https://goo.gl

Majalah Matra edisi Juli 1992 mewawancarai Dono soal foto dan pornografi, ia diposisikan sebagai pakar fotografi, bersama Darwis Triadi. Ia juga seorang sosiolog (bahkan asisten Selo Soemardjan), sutradara, pernah jadi aktivis mahasiswa, dan yang terpenting dari semuanya, Dono menulis! Foto aparat militer 'mengamankan' Dono yang memakai kaus bertuliskan Join us, we fight for a clean government, sempat viral di jejaring sosial.

Konon, foto tersebut diambil pada Peristiwa Mei 1998. Mudah ditebak, yang ramai menyebarkan foto Dono di jejaring sosial adalah para aktivis mahasiswa.

Mereka mengenal Dono sebagai aktivis sekadar dari foto, sehingga dengan gegabah aktivisme langsung dilekatkan dalam citra demonstran.

7. Redaksi Surat Kabar

Redakstur dan penyiar radio

Redakstur dan penyiar radio via https://goo.gl

Dono menggiatkan kritik terhadap Orde Baru melalui penerbitan koran mahasiswa, yang ia sertai dengan kartun-kartun bikinannya (Badil, dkk., 2010: xiii). Dono pun dipercaya mengisi kolom opini surat kabar lokal di Solo, soal ini aktivis mahasiswa belum banyak yang tahu, selama belum beredar foto-fotonya. Maklum, kita sekarang hidup di zaman citra!

 

8. Kritikus ulung

Peristiwa malari

Peristiwa malari via https://goo.gl

Namun siapa sangka, selain menyuguhkan aksi lawak slapstick, Warkop juga menyelipkan kritik sosial dalam setiap dialog, baik di film maupun sandiwara. Salah satunya seperti yang diucapkan Dono dalam film 'Gengsi Dong'.

Dalam film tersebut, Dono yang berperan sebagai Slamet, anak dari desa yang kuliah di Jakarta, menyindir Paijo, anak bos minyak yang diperankan Indro. dalam salah satu adegan, Slamet menyindir Paijo dan menduga uang yang dihasilkan bapaknya didapat dengan cara korupsi. Dono memang terlibat demonstrasi, tapi peran pentingnya justru saat menjelang aksi.

9. Seorang Penulis

Pernah menulis

Pernah menulis via https://goo.gl

Kiprah kepenulisan Dono mewujud dalam lima buku yang diwariskan kepada kita. Karya pertama Dono adalah buku humor berjudul Balada Paijo (1987).

Setelah buku humor, Dono menerbitkan novel perdana berjudul Cemara-Cemara Kampus (1988). Tokoh utama dalam novel ini, terasa sangat Dono sekali. Kodi, tokoh utama yang bernama asli Kodiat Suryokusumo itu, punya latar belakang seperti Dono.

Novel ketiga, Dua Batang Ilalang (1999), barangkali adalah karya puncak Dono yang bertemakan kampus dan aktivisme mahasiswa. Dono memberi catatan dalam novel itu: Diselesaikan di saat negeri ini dalam keadaan sulit. Lenteng Agung, 1999. Dono, di novel Dua Batang Ilalang, masih memakai mahasiswa sosiologi asal Klaten (kali ini ia lebih detail) sebagai tokoh utamanya.

Sadar telah mencapai puncak, Dono berhenti menulis novel-novel serius bertema mahasiswa. Lagipula, setelah Reformasi, situasi politik sudah tidak sepanas masa Orde Baru. Aktivisme mahasiswa pun 'melempem', sampai hari ini, pantas bila Dono merasa berjarak.

Padahal, Dono selama ini menulis apa yang dekat dengan dirinya saja. Maka dari itu, ia mencoba kembali ke jalur humor. Dono berencana untuk menulis seri novelet humor, tapi takdir menghendaki lain. Baru satu novelet humor yang berhasil Dono tulis, Senggol Kiri Senggol Kanan (2009), itu pun terbit setelah kematiannya. Terima kasih, Dono, atas warisan literernya. 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya