Sudahkah Kita Berterima Kasih Terhadap 5 Jenis Pekerja Ini?

Banyaknya pelajaran kehidupan justru kita dapatkan setelah tidak tinggal dengan orang tua.

Banyaknya pelajaran kehidupan justru kita dapatkan setelah tidak tinggal dengan orang tua. Entah itu merantau untuk kuliah, bekerja, maupun selepas menikah. Dari sekian pelajaran yang kita peroleh adalah belajar mandiri serta mampu menghargai orang yang nasibnya kurang beruntung dibandingkan kita.

Setelah kita tinggal mandiri, kita akan belajar bagaimana harus mengurus diri sehari-hari, seperti menyiapkan makanan, membersihkan makanan maupun tempat tinggal kita, mencuci serta menyetrika pakaian. Selain itu, pelajaran terpenting lainnya adalah bagaimana kita bisa merawat diri kita sendiri di kala sakit.

Dengan melakukan semua kegiatan secara mandiri, kita menjadi lebih paham mengenai pentingnya orang-orang yang berjasa di sekitar lingkungan dan kehidupan kita. Tidak seperti nasib kita sebagai pekerja dengan gaji memadai, jam kerja yang jelas, dan mempunyai waktu istirahat yang cukup, terutama di malam hari. Pekerja-pekerja dalam bidang jasa ini, tidak mempunyai jam kerja tetap, waktu istirahat yang lebih sedikit, serta pendapatan yang kurang layak dengan batasan maksimal Upah Minimum Provinsi, namun dengan beban kerja dan tanggung jawab yang besar.

Kebetulan masih di bulan Mei, yaitu beberapa minggu setelah hari buruh yang diperingati setiap awal bulan ini, yuk saatnya kita berterima kasih terhadap lima jenis pekerja ini:

1. Pekerja Rumah Tangga (PRT)

"Yuk, anggap mereka sebagai bagian dari keluarga kita"

"Yuk, anggap mereka sebagai bagian dari keluarga kita" via https://www.slideshare.net

Advertisement

Apakah kita sering mendengar keluhan, "aduh PRT gw gak balik nih, jadi harus cepet cari yang baru!" Perkataan tersebut biasanya disampaikan oleh seorang ibu rumah tangga yang sibuk berkarier dan mempunyai anak yang masih kecil.

Menanggapi problematika tersebut, kita bisa saja menyalahkan PRT yang tidak serius bekerja. Di sisi lain, sebaiknya kita introspeksi dalam memperlakukan mereka. Mungkin bisa berasal dari rendahnya gaji yang kita berikan, beban kerja yang terlalu banyak, atau kurang memberikan waktu istirahat yang memadai.

Padahal seperti yang kita sadari, tugas dan tanggung jawab PRT sangat banyak. Selain dituntut untuk bisa mengasuh anak majikannya, mereka berkewajiban untuk selalu menjaga kebersihan rumah, mencuci dan menyetrika pakaian, bahkan berperan untuk menjaga rumah beserta properti majikannya ketika sedang di luar.

Advertisement

Mengingat banyaknya peran yang mereka jalankan, sudah sepantasnya kita berterima terhadap mereka. Dalam ajaran Islam itu sendiri, juga dianjurkan," sebaik-baik dari kalian adalah yang baik terhadap pekerja rumah tangganya." Anjuran tersebut dapat kita terapkan dengan menganggap mereka sebagai bagian dari keluarga, dengan sesekali mengajak mereka makan bersama atau berlibur ke luar kota.

2. Satuan Pengamanan (Satpam)

"Pak, tetap semangat dan jangan pernah lelah..."

"Pak, tetap semangat dan jangan pernah lelah…" via https://kriminologi.id

Selama ini kita kurang tepat, apabila kita menilai satpam hanya duduk-duduk santai menyambut warga yang memasuki lingkungan tempat tinggalnya. Padahal, satpam merupakan garda terdepan di lingkungan perumahan kita. Mereka menjadi tempat bertanya nomer satu bagi tamu dan pengirim barang. Selain itu, satpam juga merupakan orang pertama yang akan dimintai pertanggung jawabannya, apabila terdapat kejadian seperti pencurian dan kebakaran.

Pada kenyataanya, untuk menjadi seorang satpam dibutuhkan kondisi fisik dan mental yang kuat. Pernahku kamu berpikir, "siapa yang akan mengamankan rumah, aset, dan lingkungan perumahan pada saat kita tidur terlelap di malam hari, kalau bukan mereka?" Satpam juga diharuskan tetap bertugas ketika warganya sedang tidak ada di rumahnya, seperti pada hari-hari besar atau libur. Mental yang kuat itu sendiri, dibutuhkan untuk menghadapi orang-orang asing yang mencurigakan di area perumahan kita.

Sebagai salah satu bentuk rasa terima kasih terhadap mereka yang setia menjaga keamanan lingkungan perumahan yaitu kita dapat membagikan perlengkapan sholat seperti sarung dan persediaan makanan seperti kopi, gula, dan mie instan; ketika memasuki bulan Ramadan seperti ini.

3. Petugas Kebersihan

"Semoga jasa dan lelahmu terbayarkan Pak"

"Semoga jasa dan lelahmu terbayarkan Pak" via https://dontorro.wordpress.com

Kunyahan saat sedang asyik menikamti makan siangku sontak terhenti ketika terdapat seseorang sambil membawa gerobak sampah dari kejauhan bertanya kepada pelayan rumah makan" ada sisa kepala ayam kan buat gue?" Seketika itu ku alihkan pandanganku ke lauk dan nasi yang tersaji di piring yaitu ikan patin dan dua jenis lauk sayuran. Dalam hati ku bergumam, " Ya Allah, betapa beruntungnya diriku, makan siang sehari-hari masih bisa memilih lauk sesukanya."

Pertanyaan, "ada kepala ayam?" terus terngiang di telingaku seiring langkah kakiku keluar meninggalkan rumah makan. Meskipun saya tidak pernah melihat mereka makan sehari-hari secara langsung, lewat pertanyaan tersebut saya bisa menemukan suatu fakta bahwa video kumpulan nasi bungkus dengan lauk sederhana seperti nasi dengan telur dadar yang sempat viral, benar adanya.

Dengan pendapatan yang mereka tidak seberapa, petugas kebersihan yang ironinya di Indonesia disebut sebagai tukang sampah adalah pekerjaan yang sangat berjasa terhadap kehidupan kita. Mereka bertugas untuk selalu membersikan lingkungan tempat tinggal kita dan memastikan sampah selalu terangkut setiap harinya. Bisakah kita bayangkan, pekerja ini harus selalu berkutat dengan bau sampah yang menyengat setiap harinya, belum termasuk dengan berbagai jenis hewan dan serangga yang menjijikan.

Selain dengan memberikan uang tip, alternatif lain sebagai bentuk penghargaan atas jasa mereka, kita dapat sesekali memberikan nasi bungkus dengan lauk yang biasa kita makan. Kegiatan tersebut bisa kita lakukan seminggu sekali, khususnya pada hari Jum'at yaitu hari terbaik untuk memberikan sedekah. Hal lain yang paling sederhana dapat kita lakukan adalah meringankan pekerjaan mereka seperti selalu membuang sampah rumah tangga pada tempatnya dengan kondisi sudah terikat rapih.

4. Pengemudi Ojek Online

" Salut sama bapak yang satu ini, tetap semangat kerja"

" Salut sama bapak yang satu ini, tetap semangat kerja" via http://www.wajibbaca.com

Pada suatu Sabtu sore, sepulangnya adikku yang masih duduk di Sekolah Menengah Pertama dari menonton bioskop berkata, "mbak, masak tadi adek turun dari motornya, adek langsung kasih minum soda ini ke abang gojeknya, eh dia seneng banget." Akupun langsung menimpali, "oh jadi yang ketawa cekikan itu abang gojek yang kamu kasih?" Adikku pun mengiyakan pertanyaan tersebut.

Saya pun ikut tersentuh mendapatkan suatu pelajaran kehidupan yang baru yaitu ketika memberikan imbalan di luar uang, seperti satu botol minuman dingin, adakalanya jauh lebih berkesan di hati pengemudi ojek online yang seharian berkutat di jalan raya dengan cuaca panas terik dan penuh polusi.

Saya tidak pernah bisa membayangkan bagaimana orang-orang bisa seenaknya membatalkan pesanan terutama makanan, yang tentunya sangat berpengaruh terhadap performa kinerja mereka. Ataupun dengan sesuka hati memberikan komentar negatif yang dilebih-lebihkan. Padahal, seperti kita ketahui hal-hal tersebut akan sungguh berefek terhadap ditutupnya akun mereka, sehinga membuat mereka tidak bisa mencari nafkah untuk sementara waktu.

Mengingat besarnya peran mereka terhadap kehidupan kita dewasa ini, sudah saatnya kita menghargai jasa mereka dengan sikap-sikap berikut ini. Pertama, kita paling minimal memberikan tanda bintang lima sebagai penilaian kita karena untuk kita ketahui, ternyata bintang empat sudah sangat berpengaruh negatif terhadap kinerja mereka.

Sikap lainnya adalah dengan memudahkan pekerjaan mereka seperti memberikan informasi yang jelas dan detail mengenai alamat dan ciri-ciri fisik kita, pada saat akan dijemput. Ataupun kita bisa lebih sabar dan tetap sopan ketika mereka sedikit lama sampainya.

Jangan pula lupa memberikan uang pengganti parkir apabila mereka memasuki lingkungan perkantoran, mal, atau apartemen, Ataupun memberikan mereka satu botol minuman dingin seperti yang dilakukan adikku, untuk melepas dahaga mereka selepas buka puasa di bulan Ramadan ini.

5. Pelayan restoran atau rumah makan

" Yuk, kita sampaikan keluhan kita dengan sopan ke mereka-mereka ini"

" Yuk, kita sampaikan keluhan kita dengan sopan ke mereka-mereka ini" via https://id.wikihow.com

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya telah berhasil mengubah perasaan seorang pelayan restoran bakmi cepat saji, yang semula menunjukkan raut muka sangat letih dan kusut, tiba-tiba mampu tersenyum lebar. Sebagai tambahan, pelayan restoran tersebut yang juga bertugas sebagai penjaga kasir, mampu memproses pesanan makanan saya yang dibungkus dengan baik dan cepat. Saya menganggap kejadian tersebut sebagai sebuah keajaiban, dikarenakan saya datang menjelang restoran tutup.

Sebelumnya, selama ini saya menanggapi raut muka pelayan restoran yang letih dengan perasaan kesal. Persaan tersebut selalu muncul karena prinsip pemikiranku bahwa "pengunjung adalah raja."

Sebagai balasan dari pemikiran jemawa tersebut, pelayan restoran sering kali kurang merespon atau bahkan semakin menunjukkan sikap yang dingin. Hal tersebut juga berimbas pada makanan yang saya pesan dan terkadang tidak sesuai.

Keajaiban mengubah raut muka tersebut, didapatkan melalui pemahaman setelah saya banyak berbincang-bicang dengan pelayan rumah makan langganan saya. Kesimpulan yang saya dapatkan bahwa sama halnya dengan satpam, pelayan restoran juga merupakan garda terdepan, namun di lingkungan restoran atau rumah makan. Selain diwajibkan untuk selalu bersikap ramah, pelayan restoran dituntut untuk tetap sabar terhadap segala keluhan penyajian makanan yang ditujukan kepadanya.

Padahal, apabila kita amati dengan cermat, keluhan-keluhan seperti itu sebagian besar bersumber dari manajemen dapur yang kurang baik, seperti juru masak yang tidak telitit dalam membaca pesanan.

Selain yang telah disebutkan di atas, kewajiban dan tanggung jawab lain pelayan resotran sangat besar. Mereka juga berperan dalam menyiapkan restoran pada saat jam buka, penjaga kasir, hingga menjadi juru masak. Kegiatan tersebut belum termasuk melayani permintaan-permintaan khusus dari pemilik restoran.

Oleh sebab itu, kita sebagai manusia yang beradab, sudah sepatutnya berterima kasih terhadap mereka. Hal yang terpenting adalah dengan tidak banyak menuntut hal-hal yang merepotkan, tetap bersikap santun ketika terjadi kesalahan, ataupun tetap menunjukkan rasa empati seperti yang telah saya lakukan ketika mendapati mereka sudah menunjukkan tanda kelelahan.

Bukankah seperti yang kita ketahui bahwa, "kepribadian seseorang salah satunya ditentukan dari cara dia memperlakukan seorang pelayan restoran."

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pembelajar dari kehidupan sehari-hari

CLOSE