Hari ini memang bukan hari yang istimewa, bukan hari libur, juga bukan akhir pekan yang sering kita obrolkan waktu itu. Ya, waktu minggu adalah hari kita.  Sejak dua tahun yang lalu kita memutuskan untuk tidak lagi berjalan di trotoar kampus bersama, pulang kuliah saling menunggu atau bertanya hari ini sedang kuliah apa. Epik sekali, bukan?  

Dua tahun yang lalu kamu memutuskan memilih lelaki yang menurutmu pantas bagimu, meski dengan teka-teki aku menerima itu dengan lapang dada. Berusaha tersenyum seperti layaknya sosok lelaki dewasa, aku membiarkanmu pergi.

Meski beton adalah dasar pondasi yang kuat, aku juga tahu jika  tetesan air hujan bisa mengikisnya sedikit-demi sedikit, aku adalah pondasi itu dan kisah kita disepanjang jalan adalah tetesan air hujan itu. Aku tahu, bahwa keputusanku merelakanmu adalah benar. Walau, aku sendiri tidak tahu jika tetesan itu akan sebanyak ini melubangi pendirianku.

 

1. Kamu memang mimpiku, tapi hidupku tidak bisa berhenti di kamu.

Selang setahun sejak waktu itu, aku mulai terbiasa menjadi diriku sendiri. Aku yang sibuk dengan beragam aktivitas berangkat pagi pulang larut malam, aku yang mulai terbiasa tersenyum simpul menghadapi kehidupan yang separuh perannya ku-skenario sendiri.

Lambat laun jalan-jalan yang menjadi kenangan itu aku menghapusnya, kamu yang pulang kuliah dengan lelakimu dan aku yang selesai belajar di bangku kuliah dengan langkah kakiku, terkadang kita tak sengaja sering bertatap muka. Meski kau hanya tersenyum dengan wajah dinginmu dan aku hanya menimpali dengan senyum dinginku. Ya, sajak saat itu kita seperti si buta dari goa hantu dan si bisu dari lorong waktu.

2. Things end but memories last forever

Advertisement

Mentari semakin meninggi dan dengan sigap membakar apa saja yang berada dibawahnya, termasuk kenanganku. Aku dengan pribadiku sudah mulai terbiasa dengan hadirmu kembali, kita sempat terlibat kontak bicara tapi ada yang berbeda posisinya “kita adalah teman”. Aku tak pernah mengungkit masa lalu untukmu, berjalanlah dengan duniamu dan aku berjalan dengan duniaku, meski aku dan kamu pernah menjadi kita tapi waktu merubah aku tetap menjadi aku dan kamu menjadi kamu.

3. Masa depan itu milik kita, milikmu dan juga milikku.

Sejak hari dimana diumumkan bahwa kita sama-sama lulus dan diakui sebagai sarjana muda, aku tahu kita tidak punya banyak waktu untuk bertemu lagi. Dan malam itu aku mendatangimu, menceritakan masa lalu kita dan meminta maaf untuk semua kesalahan yang dariku menyulitkan hidupmu. Kamu hanya menimpalinya dengan tersenyum simpul dan seolah terbata kamu juga berharap bahwa kita tetap menjadi teman.

Tidak ada yang salah dengan waktu terakhir ini, hingga tiba waktunya aku mengerti kita harus mengambil gambar berdua. Saling mengucapkan selamat atas diwisudanya kita dan saling mendoakan semoga kita berbahagia dengan masa depan kita.

4. Memaafkan memang bukan lantas menghapus masa lalu., tapi setidaknya itu menawarkan masa depan yang lebih baik.

forgive via http://4muda.com

Hari ini aku berdiri disini, disebuah wajah beritme pergi pagi pulang malam yang kata temanku tempat segala nasib bangsa ditentukan disini. Hari ini aku ingin mengatakan kepadamu teman masa lalu yang pernah kau cinta, bahwa aku baik-baik saja.

Aku juga ingin bercerita kepadamu tentang wanitaku yang aku temukan di serpihan hati seperti sajak tarian sari sang puitis frau. Aku bahagia bersamanya, aku juga sering diingatkan untuk menjaga kesehatanku, aku juga banyak melewati masa bersamanya sebanyak aku berusaha menghapusmu. Aku mencintainya dengan hati, jika boleh berencana aku akan menikah dengannya nanti.

5. Apa kabar denganmu?

apa kabar via http://www.bintang.com

Apa kabar denganmu, temanku? Apakah kau juga baik-baik saja sepertiku? Apakah kau juga sudah merencanakan masa depan bersama lelakimu? Apapun itu, untukmu yang pernah menjadi mimpiku berbahagialah.