Dadaku kini berdentum, ia ngeri

Ia sudah terlalu rapuh untuk dihadapi pergi yang lain lagi

Kaki sudah lunglai tak sanggup berlari

Tarianku melemah ketika kau mendekat

Menarilah bersamaku, lengkapilah cacat sempurna gerakanku

-kadallilah

1. Dari aku yang meragukan apa itu komitmen dan pernikahan

Akuyangragu via http://www.wattpad.com

Aku yang mempertanyakan pentingkah komitmen dalam sebuah pernikahan ?

Awalnya tak ada yang salah dengan kedua hal tersebut. Aku menyanjung tinggi sebuah pernikahan sebagai ikatan sakral dimata Tuhan. Sebuah ikrar yang tak hanya mempersatukan dua anak manusia tapi juga dua keluarga besar. Sebuah ikatan muara dari setiap percintaan. Aku pun sama hal-nya dengan kebanyakan wanita diluar sana. Memiliki pernikahan impian-ku sendiri. Membayangkan gaun yang akan aku kenakan, undangan, dekorasi dan pernak-pernik lainnya. Dan tentunya laki-laki yang akan aku jadikan pegangan, pemimpin dalam hidupku. Aku punya angan akan hari indah itu bersama dengan ‘dia’ yang dipilih Tuhan nantinya.

Advertisement


Namun itu dulu, sebelum aku meragukan ‘kesakralannya’ yang selama ini begitu ku hormati. Sebelum akhirnya ‘mereka’ membuatku berpikir berkali-kali ‘ untuk apa menikah’ ?


2. Sebuah alternatif dari 'badai' yang menerpa 'divorce' ?

Bukan salah ‘mereka’ yang memutuskan untuk mengakhiri janji suci dihadapan Tuhan dan saksi harus berakhir dimeja pesidangan. Bukan salah mereka jika kata ‘talak’ akan terucap, sebagai keputusan final akan masalah yang menerpa.


Awalnya aku tak pernah mengganggap jika divorce akan mengganggu pandanganku akan pernikahan. Ku kira hanya kecemasan sejenak, efek dari kejadian yang kusaksikan.


Advertisement

Seorang teman lama yang memutuskan menikah diusia yang sangat mudah, bahkan saat itu aku kaget dengan keputusannya. Aku tau mereka telah menjalin kasih dari kami masih berseragam abu-abu. Belum genap 20 tahun dia menikah. Sebagai teman aku turut bahagia. Tersentil hati kecilku bertanya “giliranku kapan ?” .

Empat tahun berlalu dan kabar yang mengagetkanku dia datang kerumah membawa sebuah undangan tercetak jelas ada namanya disana. Berkali-kali ku baca undangan yang ku terima. Sampai dia bersuara “ gak salah kok, itu emang nikahannya aku datang ya “ maaf, sepertinya dia membaca dengan jelas mimik wajahku yang menandakan ketidakpercayaan ini. Hari itu mengalirlah ceritanya tentang dia dan mantan suaminya sampai akhirnya memutuskan untuk pisah dan menikah ke dua kalinya. Terbaik untukmu kawan.. semoga ini yang terakhir. Samawa.

***

Aku tak mengambil pusing apa yang terjadi pada temanku. Dari ceritanya aku jadikan pelajaran untuk ku dimasa depan. Aku masih meyakinkan diri komitmen yang kuat akan menjadi pondasi yang kuat pula dalam sebuah pernikahan.

3. Bertahan atau Mengakhiri ?

Bertahan atau Mengakhiri ? via http://www.insidermonkey.com

Seiring waktu makin banyak akun-akun disosial media yang menyuarakan gerakan nikah muda, semangat menikah dsb. Setiap buka instagram di Explore pasti bertebaran foto-foto pernikahan baik modern, islami dan kekinian. Bikin pengen. Adem liat pasangan baru menikah. Seperti kebanyakan manusia diluar sana yang ingin merasakan indahnya membangun keluarga bersama pasangan halal. Aku pun juga ingin menikmati hari bersama laki-laki yang kucintai. Merasakan dimanja oleh seorang berlabel suami.


Namun lagi, Layaknya sebuah tivi berjalan divorce selalu menjadi bayang-bayangan dalam benakku.


Berada dilingkungan yang membuatku berkali-kali harus menyaksikan sebuah perceraian lagi lagi dan lagi. Begitu mudah menyebut kata ‘cerai’ sebagai jawaban akan keributan yang tercipta. Terlalu sering aku menyaksikan pasangan yang menikah diawalnya saja serasa dunia milik berdua, pasang foto mesra lengkap dengan caption super romantis, saling balas membalas kalimat-kalimat pujian yang diakhiri dengan I LOVE YOU, kemudian tiga tahun empat tahun berikutnya hilang sudah kata I LOVE YOU berganti I HATE YOU. Benarkah cinta saja tak cukup untuk membangun sebuah rumah tangga ?

4. Man is Sex Hunter ?

Man is Sex Hunter ? via http://www.wattpad.com

Baru-baru ini seseorang yang begitu dekat denganku, memutuskan mengakhiri rumah tangga yang lima tahun dijalani, dikarunia seorang anak tak membuat hubungan mereka bertahan.


Kapal itu tenggelam seiring nahkoda yang lebih memilih berlayar ke pelabuhan baru.


Awalnya dia enggan membahas masalahnya. Sampai titik dia merasa butuh seseorang untuk berbagi. Pagi itu dia mengajakku bertemu disebuah cafe favorit kami. Dia datang tanpa putranya, tanpa basa-basi dia mengeluarkan segala unek-unek yang selama ini tertahan.

“ kamu kalo cari suami jangan liat tampang , tapi cari yang bisa terima kamu apa adanya, yang tau cara memperlakukan istri, bukan laki-laki yang pulang kerumah cuma tau ‘mintak jatah’ gak liat istrinya lagi capek atau gak, jangan tergoda sama kemapanan kalo dia cuma jadiin kamu pemuas nafsu “ pesan dari ‘teman dekatku’ sebelum kami mengakhiri perjumpaan pagi itu.

Oke umur ku emang lebih dari 20 tahun. Dan nggak terlalu memahami soal ‘urusan ranjang’ after marriage. Ilmu tentang hal demikian hanya pernah ku baca dibeberapa novel maupun buku-buku , kalo sex salah satu hal terpenting setelah menikah dan ada beberapa pasangan yang bercerai karena tak puas dengan pasangan. Oh I don’t know is real. Sampai aku bertemu sendiri dengan masalah-masalah yang biasanya ku temukan di novel, tapi bukan aku yang mengalami tapi ‘seseorang yang dekat denganku’. Aku kira laki-laki yang mempergauli istrinya dengan kasar dan memaksa pasangannya melakukan ‘teknik-teknik’ seperti wanita di kaset ‘bokep’ itu hanya ada di novel-novel erotis. Tak pernah aku sangka ‘bad boy’ yang sering ku baca di dunia fiksi ada di lingkunganku.

Aku geli untuk membahas masalah ini. Namun ternyata banyak wanita yang mengalami hal seperti ini. Bercerai hanya karena istri-nya di anggap tak dapat memuaskan mereka.Oh shit. Jika menikah hanya untuk me-legal-kan hubungan-suami-istri biar gak dibilang kumpul kebo, biar dibilang gak zina, keg nya niatnya salah deh. Salah kaprah loh kalo jadiin pernikahan suci cuma buat sekedar bisa 'ena-ena' tanpa takut diciduk.

5. Siapa Pun Kamu , Dimana Pun Kamu, Suamiku, Imamku Ayah Dari Anak-Anakku Dimasa Depan

Future Husband via http://www.bicarawanita.xyz

Kepada laki-laki yang pernah menawari aku cinta. Aku wanita yang minim keyakinan akan komitmen dan pernikahan.


Untuk kalian yang datang hanya untuk ‘bersenang-senang’ maaf lebih baik keluar dari hidupku. Aku tak ingin status ‘ambigu’ , aku butuh status legal yang sah dimata agama, hukum dan negara.


Namun sebelum itu terjadi, Yakini aku bahwa ‘kamu’ adalah laki-laki yang aku cari selama ini, imam dalam hidup yang mampu meruntuhkan segala keraguanku akan pernikahan, patahkan segala ketakutanku akan hidup setelah pernikahan, bantu aku hapus segala asumsi negative tentang komitmen. Buat aku percaya kamu adalah pilihan Tuhan untukku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya