Tak banyak yang tahu memang siapa Oei Tiong Ham, bahkan di tempat kelahirannya Semarang, nama Raja Gula ini masih sangat asing, padahal pada masanya ia pernah disebut sebagai orang terkaya se-Asia Tenggara. Nah, yuk kenalan dengan Oei Tiong Ham!

1. Raja Gula 200 juta Gulden

Oei Tiong Ham via https://tirto.id

Oei Tiong Ham lahir di Semarang pada 19 November 1866, ia lahir dari kalangan berada dan mewarisi bisinis yang dibangun oleh ayahnya. Lalu ia membangun bisnis konglomerasi bernama Oei Tiong Ham Concern (OTHC). Pada awal abad ke-20 ia memiliki bisnis utama perdagangan gula tebu dan dari berbagai sumber menyebutkan Oei Tiong Ham memegang hak monopoli perdagangan candu dari pemerintah Kolonial Belanda, selain itu ia juga mempunyai bisnis properti, asuransi hingga perbankan. Nah, kekayaannya ditaksir 200 juta Gulden atau setara dengan 15,37 triliun saat ini.

2. Sepanjang Jalan Pahlawan adalah tanah milik Oei Tiong Ham dan memiliki Istana di Kyai Saleh Semarang

Oei Tiong Ham Weg, kini menjadi Jalan Pahlawan Semarang via http://nationalgeographic.co.id

Advertisement

Kalau kalian pernah berkunjung ke Semarang pasti nggak asing lagi sama yang namanya Jalan Pahlawan yang berada di pusat kota Semarang. Dulunya, Jalan Pahlawan ini bernama Oei Tiong Ham Weg karena dari Jalan Gubernuran hingga Polda Jateng adalah tanah milik Oei Tiong Ham. Ia juga memiliki dua istana, yang pertama di Jalan Simongan dan yang kedua berada seluas 81 hektar membentang dari Simpanglima, Jalan Pandanaran, Randusari, Mugas, Jalan Pahlawan, termasuk kompleks Gubernuran dan Polda Jateng, Jalan Gergaji hingga Jalan Kyai Saleh. Di mana bangunan utamanya berada di Jalan Kyai Saleh, dahulu bangunan ini bernama Bernic Castle namun sekarang bangunan tersebut sudah menjadi kantor Otoritas Jasa Keuangan.

3. Dikenang di Singapura tapi kurang dikenal di Indonesia

Oe Tiong Ham Park di Singapura via https://www.google.co.id

Saat bisnis Oei Tiong Ham berada dalam puncak kejayaannya, sekitar tahun 1921 ia meninggalkan Indonesia lalu bertolak ke Singapura. Penyebabnya adalah saat itu pemerintah menerapkan aturan pajak ganda dan hukum waris di mana pemberian warisan harus merata kepada semua anak, sedangkan Oei Tiong Ham hanya menginginkan memberi warisan kepada anak yang ia nilai mampu meneruskan usahanya. Ia berpindah ke Singapura karena hukum waris di sana sesuai dengan apa yang ia inginkan. Kabarnya sepertiga tanah di Singapura adalah miliknya pada saat itu. Kakek perdana menteri Lee Kuan Yew pun pernah menjadi karyawan Oei Tiong Ham di Singapura.

Nama Oei Tiong Ham sampai sekarang masih diabadikan di salah satu jalan di Singapura. Waw, sebegitu berpengaruhnya bukan? Namun sayang, nama Oei Tiong Ham seperti tak pernah dikenal di negaranya sendiri.

Advertisement

4. Akhir kejayaan Oei Tiong Ham kingga kasus PT RNI yang sempat booming

Kantor Rajawali Nusantara Indonesia via https://twitter.com

Setelah Oei Tiong Ham meninggal tahun 1924, bisnisnya dikendalikan oleh salah satu anaknya, yakni Oei Tjong Hauw. Di bawah kendali Oei Tjong Hauw, bisnisnya sempat melejit hingga pada tahun 1950 Oei Tjong Hauw meninggal karena penyakit jantung. Nah, ini adalah awal mula kemerosotan Oei Tiong Ham Concern (OTHC). Keturunan Oei Tiong Ham memilih tinggal di Singapura dan meninggalkan bisnisnya begitu saja hingga seluruh asetnya disita oleh negara karena tuduhan pelanggaran peraturan mengenai valuta asing. Lalu pemerintah membentuk PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI Group) yang diberi kepercayaan untuk mengelolah ex OTHC. PT RNI ini sempat booming pada tahun 2008 karena kasus Antasari Azhar. Duh..duh..

5. Oei Hui Lan, salah satu anak Oei Tiong Ham yang nasibnya berakhir tak baik

Lahir dengan wajah yang cantik dan hidup dengan fasilitas yang mewah, Oei Hui Lan adalah salah satu anak dari Oei Tiong Ham. Banyak yang menggilai Oei Hui Lan, salah satunya dalah keturunan bangsawan Perancis. Namun Hui Lan dijodohkan oleh Wellington, orang penting Cina di Eropa pada saat itu. Pernikahan keduanya selalu diwarnai pertengakaran karena gaya hidup Hui Lan yang terbiasa borjuis. Pada akhirnya mereka bercerai, dan di masa OTHC sudah bangkrut, masa tua Hui Lan dihabiskan dengan hidup sendiri dan hanya ditemani oleh anjing-anjingnya.

Dalam buku karya Agnes Davonar "Pesta yang Berakhir", Hui lan menyadari berkenalan dengan kaum ningrat dan orang berduit tidaklah penting. "Otak dan kepribadianlah yang lebih penting. Kita bisa menderita akibat haus kekuasaan, tetapi kita bisa mendapat kesenangan dari sikap hormat, kesederhanaan dan sifat lurus. Kita seharusnya menghargai orang-orang lain dalam hidup ini."