Jangan dipikir jadi adik lebih enak ketimbang jadi kakak? Sama saja! Bedanya kami tak merasa harus menyesal dan ambil pusing masalah ini. Dinukil dari Huffingtonpost, nggak main-main seorang psikolog menilai anak bungsu bisa memenangi kehidupan. Kalau itu memang benar, sebenar-benarnya kami juga menyimpan beban berat yang nggak
mungkin dimiliki oleh kakak-kakak kami. Kami kadang harus bersedih hati, untungnya kami adalah sosok yang pandai menghibur diri, kami mudah bergaul dan nggak masalah tidur dengan lampu terang benderang.

Beban yang kami pikul bukan main-main, kalau mereka para sosok kakak harus mengalami beban berat karena jalan yang mereka ambil. Kami lebih apes lagi, kadang beban berat itu karena turunan dari kakak, kakak yang sukses harus dimbangi dengan kami yang juga harus sukses dan lain sebagainya. Kalau mungkin kami harus bahagia, ya
karena kami mudah bergaul dan banyak teman, tapi di lain sisi kami juga memikul beban berat ini!

1. Antara susah atau senang ketika punya banyak barang tapi warisan kakak semua

Kami nggak mengeluh kok via unsplash.com

Advertisement

Sederhana banget sih tapi kadang kesal juga. Punya banyak baju tapi warisan semua, kalau nggak mau boros cara itu sukses sih dan sah saja. Tapi kadang menyebalkan juga ketika pengen beli baju dan malah disuruh irit, lalu dengan bijak orangtua memberi saran untuk mengenakan pakaian kakak. Nggak cuma berhenti di pakaian, kadang sampai
tas, sepatu dan barang lainnya.

2. Masalah perilaku dan sikap, kami sering dibandingkan dengan kakak. Padahal setiap anak pasti berbeda

Masalah apapun dibandingkan dengan kakak via unsplash.com

Kakak memang sosok yang baik dan patut jadi panutan adik-adiknya. Tapi semua jadi beban dan terlampau mengesalkan kalau keluarga membandingkan sikap dan perilaku kami dengan kakak. Padahal kami punya pemikiran sendiri, pertimbangan sendiri dan ingin terbebas dari belenggu dengan dibanding-bandingkan dengan kakak.

3. Sering dibilang manja, padahal kami sudah berusaha untuk tak selalu bergantung dengan keluarga

Kami capek, apa nggak boleh? via unsplash.com

Kami pernah berusaha sekuat tenaga, kami juga pernah kelelahan dan mengucapkan sepatah keluhan. Tapi mirisnya, kami malah dibilang cengeng dan manja, padahal semua keluhan itu manusiawi sekali. Kadang mereka memang nggak pernah mengerti perjuangan, walau kecil harusnya mereka bangga. Kalau begini, semoga kami bisa memberi bukti yang lebih baik dan lebih besar lagi di hari depan.

4. Saat kami ingin mendapat kepercayaan atau sedikit tanggung jawab, orangtua malah bersikap terlalu protektif dan posesif

Kami pasti bisa kok via unsplash.com

Advertisement

Karena sering dibilang manja dan dimanjakan kami jadi merasa kurang diberi kesempatan oleh mereka untuk memperbaiki diri. Kami kadung dibilang manja, semua yang kami lakukan pasti disusul dengan perlindungan super ketat dari sang kakak atau bahkan orangtua. Kami bisa melakukan hal-hal di luar sana sendirian, berjuang sendirian dan menikmatinya bersama kalian. Berikan kepercayaan dong.

5. Apesnya ketika kakak dirundung kegagalan, kami anak bungsu secara nggak langsung dituntut harus lebih sukses darinya

Kami dituntut lebih baik via unsplash.com

Kakak yang jadi harapan pertama orangtua kami sekarang malah tersungkur dan mengalami nasib buruk karena kegagalan di hari tuanya. Kami sebagai anak bungsu, kami juga adalah harapan terakhir dari cita-cita orangtua terhadap anaknya, tak pelak kami jadi nggak bebas lagi. Kami harus membanggakan orangtua mewakili kakak, sedih tapi mau gimana lagi?

6. Saat ingin melangkah ke pelaminan tapi ada kakak yang belum menikah dan nggak rela kalau dilangkah, adik yang diminta mengalah

Harus sabar dulu deh via unsplash.com

Ada hal yang paling menggerus hati dan pikiran terutama ketika keinginan untuk menikah terbentur kakak yang malah belum kepikiran untuk menikah. Kalau kenyataan sudah berbicara demikian, kami dan pasangan hanya bisa menatap nanar keadaan, sambil terus memastikan hubungan yang kami jalani baik-baik saja. Tapi di lain sisi kami juga menaruh rasa kasihan kenapa kakak begitu apesnya belum dapat jodoh.

Mungkin banyak yang menganggap kami punya kemudahan yang lebih melimpah. Mereka salah, mereka pikir anak bungsu selalu dimanja dan tak perlu usaha lebih. Nggak mungkin semudah itu, kami juga punya naluri untuk meraih kesuksesan sendiri dan masalah datang ketika kurangnya kepercayaan dari orang sekitar. Sudahlah kami lebih suka memerangi hambatan sendiri, walau sering menangis, kami lebih suka hidup mandiri. Percayalah.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya