Setelah menempuh ratusan SKS dan menuntaskan kewajiban Kuliah Kerja Nyata, akhirnya kamu sampai juga di semester-semester terakhirmu sebagai mahasiswa. Tapi sayangnya, kamu tak bisa langsung diwisuda. Masih ada satu tanggungan yang harus dilunasi sebelum kamu resmi jadi sarjana: tugas akhir (TA) alias skripsi.

Selama masa penulisan skripsi, ketahanan mentalmu akan diuji. Kamu dituntut fokus menggarap topik yang mungkin sebenarnya tak begitu kamu sukai. Mungkin juga kamu harus menghadapi banyak subyek wawancara atau dosen yang tidak mudah diajak bekerja sama. Tapi, semua tantangan ini tak seharusnya membuatmu kehilangan semangat merampungkan studi. Saat sedang terpuruk, 7 hal di bawah ini bisa memupuk semangatmu untuk tetap menyelesaikan skripsi dan merampungkan studi!

1. Tak ada mahasiswa yang skripsinya 100% lancar jaya. Mereka yang lulus cepat bukannya tak bertemu kendala — hanya terus jalan ke depan saat yang lain rehat sebentar

Semua pasti pernah begini

Semua pasti pernah begini via www.proza.ru

Advertisement

“Semoga skripsinya lancar, ya!”

Semua orang yang pernah jadi mahasiswa tahu, doa manis di atas tidaklah lebih dari doa. Kalau mau jujur, mana ada sih mahasiswa yang skripsinya benar-benar 100% lancar jaya? Pasti ada ganjalan yang datang menghadang. Entah itu buku referensi yang susah dicari, pihak olah data yang susah diajak kerja sama, atau kuesioner yang harus terus direvisi. Semua mahasiswa pasti bertemu ganjalan selama pengerjaan skripsi. Hanya saja, ada yang memilih terus melangkah maju di balik ganjalan ini, dan ada yang memilih berhenti.

Saat ganjalan menghadang, godaan untuk berhenti dan menunda pengerjaan skripsi akan semakin menjadi-jadi. Melakukan apapun akan terasa lebih menyenangkan dari duduk berjam-jam memelototi halaman kosong di Microsoft Word. Tapi percayalah, penundaan hanya akan membuatmu tambah tertekan. Semakin lama waktu yang kamu butuhkan untuk menyelesaikan skripsi, semakin kamu akan meragukan kapasitas dirimu sendiri. Sebelum itu terjadi, lebih baik fokus menuntaskan tanggungan terakhirmu sebagai mahasiswa ini.

2. Selagi mereka masih ada, ajak teman-temanmu menggarap skripsi bersama. Mumpung kalian masih tinggal di satu kota

Ajak mereka bersama-sama

Ajak mereka bersama-sama via wakeforest.tumblr.com

Advertisement

Mungkin saat ini kamu tak bisa membayangkannya, tapi suatu hari nanti, kamu dan teman-temanmu tak akan lagi hidup di satu kota yang sama. Mungkin karena ada yang lulus lebih cepat dan harus balik ke kampung halamannya, ada juga yang belum lulus namun sudah dipanggil orangtua untuk mengerjakan skripsi di rumah saja. Karena itu, waktu yang masih kalian punya sekarang sangatlah berharga. Tak ada salahnya jika dimanfaatkan untuk mengerjakan tanggungan kalian bersama-sama.

Memang benar, yang paling mengerti isi skripsimu adalah kamu sendiri. Jika ditanya topik tugas akhir teman-temanmu ini, kamu pun tak akan mengerti. Skripsi pada akhirnya adalah tugas individu. Tapi, mengerjakannya di waktu dan tempat yang sama bisa membuatmu tak merasa berjuang sendirian. Ada teman-teman yang bisa membuat semangatmu terpacu kencang.

3. Jangan marah waktu orangtua mengecek, “Sampai mana?” Mereka toh tak pernah gusar saat kamu bertanya “Udah transfer belum, Pa?”

Tanggung jawab pada orangtua

Tanggung jawab pada orangtua via commons.wikimedia.org

Salah satu pertanyaan yang paling bikin alergi semasa pengerjaan skripsi adalah “Sampai mana skripsinya?” Tapi seberapapun kamu tak menyukainya, ada beberapa orang yang tetap berhak bertanya.

Orangtuamu adalah salah duanya. Ketika mereka menanyakan progres skripsimu, itu hanyalah bentuk perhatian dan tanggung jawab mereka sebagai orang yang telah dipercaya untuk membesarkan dan merawatmu. Selama hidupmu masih menjadi tanggungan mereka secara biaya, tentu saja mereka punya hak untuk mengecek apakah kamu sudah memanfaatkan segala sumber daya dengan sebaik-baiknya. Toh, bukankah mereka tak pernah marah saat kamu bertanya “Udah transfer belum, Ma?”

4. Cita-cita untuk lulus bersama mungkin tak terwujud di realita. Tapi, ditinggal teman wisuda bukan alasan bersedih terlalu lama

Ditinggal wisuda teman-teman bukan alasan bersedih (kredit: Hardya Pranadipa)

Ditinggal wisuda bukan alasan bersedih (kredit: Hardya Pranadipa) via www.facebook.com

Memulai masa kuliah bersama, pastinya kamu ingin lulus bersama pula dengan teman-teman satu angkatanmu. Tapi kenyataannya, keinginan ini tak selalu mungkin terwujudkan. Selain kadar ketekunan kalian yang memang berbeda-beda, mungkin teman-temanmu lebih beruntung memiliki dosen yang akomodatif dan topik skripsi yang lebih mudah. Jadi ketika kamu masih harus berjibaku dengan buku referensi dan bimbingan skripsi, mereka sudah melenggang lebih dulu dengan kartu nama penjahit kebaya dan jasa makeup wisuda.

Jangan jadikan ini sebagai alasan untuk bersedih terlalu lama. Kelulusan yang tertunda bukan berarti kamu lebih bodoh atau lebih malas dari teman-temanmu yang sudah sarjana. Kelulusan yang tertunda bukan berarti kamu ditinggalkan — walau sudah lebih dulu mengenakan toga, mereka masih teman baik yang perhatian padamu dan ingin selalu menyemangatimu. Jika mereka saja percaya kamu akan segera menyusul mereka, kenapa harus bermuram durja?

5. Anggaplah dosen pembimbing sebagai teman. Walau kadang membuatmu tertekan, sebenarnya beliau hanya ingin memberi perhatian

Anggap dosen sebagai teman

Anggap dosen sebagai teman via blog.nus.edu.sg

Karena kecerdasan dan segala pengalaman beliau, dosen pembimbing tak jarang menjadi sosok yang mengintimidasi. Kamu takut karyamu tetap mendapat kritikan pedas, padahal kamu sudah berusaha keras. Kamu takut draf final yang terakhir kamu masukkan kembali lagi ke mejamu dengan tinta merah dan tulisan “revisi”. Boro-boro lancar berkomunikasi, mengirim SMS untuk janji bimbingan pun sudah membuatmu tak percaya diri.

Ketakutan adalah salah satu alasan kenapa mahasiswa terus menunda-nunda skripsi. Daripada progresmu terhambat karena ketakutan ini, mulailah menganggap dosen pembimbing sebagai teman berbagi. Mungkin dosen memang rajin memberi masukan, tapi itu supaya dirimu berkembang. Mungkin beliau rajin bertanya kapan terakhir kali kamu bimbingan, tapi bukankah itu suatu bentuk perhatian? Saat banyak mahasiswa lain dilupakan oleh dosennya, kamu beruntung memiliki pembimbing yang rajin bertanya dan penyabar. Beliau layak dianggap sebagai teman.

6. Di balik segala tekanan akibat skripsi, jangan lupakan kebutuhan diri dan jangan malas mandi!

Nggak lupa beres-beres kost

Nggak lupa beres-beres kost via hipwee.com

Sudah berapa hari kamu mengurung diri di kamar untuk mengerjakan skripsi? Apakah kamu masih mencukupi kebutuhan diri, apakah kamu masih sering mandi? Mentang-mentang sibuk dengan tugas akhir, jangan lantas menelantarkan dirimu dan lupa mencukupi kebutuhan pribadimu. Kamu tetaplah anak muda yang butuh piknik, butuh istirahat, dan butuh momen senggang di mana kamu hanya memikirkan hal-hal yang menyenangkan.

Banyak mahasiswa yang kemudian berubah bentuk tubuhnya karena stres mengerjakan skripsi. Sesibuk apapun, pastikan kamu tetap merawat diri.

Cobalah untuk tetap rutin makan dan mandi. Berjalan-jalan paling tidak seminggu sekali. Menjernihkan pikiran karena memang itu yang kamu butuhkan. Mau se-stres apapun, bukankah kamu tetap manusia yang bisa merasa lapar dan perlu bersenang-senang?

7. Keraguan memang akan terus menyapa. Kamu hanya harus percaya: malam-malam yang dihabiskan untuk begadang serta tenaga bolak-balik ke perpustakaan takkan sia-sia

Tuntaskan pendidikanmu

Segala usahamu tak akan sia-sia via jalmari.org

“Bisa lulus semester ini nggak ya?”

“Nanti kalau harus bayar lagi gimana?

Percaya deh, bahkan mereka yang sudah terlebih dahulu sarjana juga memiliki pertanyaan yang sama. Lihat saja teman-teman yang sudah lebih dulu wisuda — bukankah wajah mereka selalu setengah bahagia dan setengah tidak percaya? Bahkan di hari ketika mereka sudah sah menerima ijazah, masih ada ketidakpercayaan di hati mereka bahwa ternyata, akhirnya, mereka bisa.

“Wah, aku sudah sarjana…”

Skripsi adalah masa penuh tekanan. Tiap hari, tiap jam, di kepalamu akan muncul keraguan. Di saat-saat seperti itu, berhenti dan mundur ke belakang justru akan berakibat fatal. Jalanmu belum selesai: masih ada belasan kilometer di depan yang harus kamu jajal. Beranikan dirimu dan hadapi. Kamu hanya harus mempercayai, tak akan sia-sia darah dan keringatmu selama ini.

Suatu hari nanti, kamu akan menoleh ke belakang sambil berkata: “Wah, ternyata aku bisa ya?”

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya