HI itu apa, sih?

Nggak banyak orang yang tahu singkatan sebenarnya dari jurusan HI. Ada yang mengira, HI itu kepanjangannya ‘Hukum Islam’ atau ‘Hukum Internasional’. Padahal, kepanjangan sebenarnya dari jurusan HI adalah ‘Hubungan Internasional’.

Advertisement

Walau masih banyak yang gak tahu kepanjangannya, jurusan HI sudah jadi primadona beberapa kampus terkemuka di Indonesia — dan bahkan di dunia. Serba-serbi sebagai mahasiswa HI pun jadi hal yang menarik untuk dicermati. Yuk, cari tahu gimana rasanya jadi anak HI!

1. Embel-embel kata “Internasional” bikin jurusan ini terdengar bergengsi. Di mata awam, anak HI itu pasti jago bahasa Inggris dan sering keluar negeri.

anak HI yang sering dianggap eksklusif dan berkelas

ciye yang sering dibilang eksklusif dan berkelas via www.radioaustralia.net.au

“Kamu anak HI? Wah, rajin ke luar negeri dong ya?”

“Ajarin bahasa Inggris dong. ‘Kan kamu anak HI!”

Hubungan Internasional. Kata “Internasional” di nama jurusannya membuatnya terkesan bergengsi. Nggak heran, jika jurusan ini menarik banyak mahasiswa setiap tahunnya. Tak jarang orang lain memandang mahasiswa-mahasiswa HI sebagai mahasiswa “berkelas” dan sering wara-wiri pergi ke luar negeri. Meski kenyataannya, banyak kok anak HI yang belum pernah ke luar negeri. Justru karena belum pernah ke luar negeri itulah mereka daftar di jurusan HI.

Advertisement

Selain menciptakan gengsi, kata “internasional” ini juga memberi imej bahwa anak HI itu cas-cis-cus bicara bahasa Inggris. Nah, saat KKN, pastilah anak HI yang diminta mengajar bahasa Inggris. Tapi, kenyataannya memang tak semua anak HI bahasa Inggrisnya sempurna, dan tak semua mahasiswa yang lancar berbahasa Inggris itu anak HI.

Buat kamu yang anak HI, semoga imej yang tersemat ini gak bikin kamu berpuas diri. Sebaliknya, semoga ini bikin kamu tambah semangat supaya imej gak cuma jadi imej, tapi juga kenyataan.

2. Banyak anak HI juga dianggap “Kepala Batu”. Gak mau kalah dan kekeuh pada argumen yang dibawanya.

argumennya yang kuat memang tak mudah dipatahkan

argumennya yang kuat memang tak mudah dipatahkan via hi.fisip.undip.ac.id

“Ihh, nih orang batu banget sih…”

Banyak anak HI yang pasti sering dibilang kekeuh, kepala batu, tukang debat, dan segala sifat yang berkaitan tentang usaha sekeras tenaga mempertahankan argumen. Tapi, ada alasan lho kenapa kita bisa begitu dan tak sembarangan pula mempertahankan argumen. Sebagai anak HI, kita belajar bagaimana cara berdiplomasi, bernegosiasi dan mempertahankan kepentingan. Nah, ilmu-ilmu ini yang tak jarang terbawa di kehidupan sosial. Argumen yang kita bangun juga bukan asal-asalan, harus rasional dan mewakili isu atau masalah yang sedang dibicarakan.

Selain terkenal mempertahankan argumen, anak HI juga peka dalam menangkap informasi. Karena itu, anak HI juga dituntut untuk up-to-date dengan informasi yang ada, baik soal politik maupun isu-isu internasional lain yang sedang hits. Makanya, nggak jarang anak HI (terutama yang masih semester-semester awal) akan berlangganan koran atau baca-baca lewat media online. Kemampuan menyerap informasi ini yang sering dijadikan materi untuk mengemukakan pendapat berdasarkan fakta yang ada. Jadi, selain jago mempertahankan argumen,  anak HI juga niscaya berwawasan luas.

3. Anak HI punya kekepoan tingkat dewa. Pertanyaan-pertanyaannya kritis dan tak jarang bikin risih yang mendengarnya

anak HI memang terkenal dengan berpikiran terbuka dan kritis

anak HI memang terkenal dengan berpikiran terbuka dan kritis via komahiumy.wordpress.com

Anak HI itu juga diam-diam kepo lho. Tingkat penasarannya tinggi dan pertanyaannya banyak plus panjang. Kita sangat terbuka dengan info, berita, fenomena, dan ilmu baru yang menarik untuk kita. Rasa ketertarikan ini yang terkadang membuat kesalahpahaman. Bukan bermaksud mendebat, tapi lebih pada ingin mendapatkan jawaban yang memuaskan dari hal-hal yang menarik itu.

Contoh sederhana deh, ketika dosen sedang mengajarkan materi yang menarik perhatian kita dan membuka tanya jawab, pertanyaan khas anak HI adalah berputar-putar atau pertanyaannya cenderung “cari-cari”. Pertanyaan “cari-cari” ini yang sering membuat orang lain kadang hanya merasa di-tes karena padahal si penanya sudah tahu jawabannya. Tapi, tidak semua seperti itu kok. Banyak juga yang punya pertanyaan bemutu dan berdasar. Itulah kenapa, anak HI terkenal menyenangkan untuk diajak berbicara.

4. Program pertukaran pelajar dan lomba debat yang diselenggarakan universitas biasanya dijejali oleh anak-anak HI. Yang kerja di international office biasanya ya anak HI juga!

pertukaran pelajar pun tak henti didominasi anak HI

pertukaran pelajar pun tak henti didominasi anak HI via imasipedia.com

Universitas sering mengadakan beberapa program pertukaran pelajar, banyak juga mahasiswa yang tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, tak terkecuali anak HI yang dikenal oportunis. Selain merajai program kampus, anak HI juga rajin ikut kompetisi debat bahasa Inggris. Isu-isu yang diangkat pada kompetisi debat memang tak jauh-jauh dari cangkupan anak  HI yang luas, sehingga memang banyak anak HI yang terjun kegiatan ini.

Selain program dan kompetisi debat yang kita ‘kuasai’, international office juga jadi tempat anak HI mengembangkan sayap di bidang administratif. Entah karena kebetulan sama-sama ada kata ‘internasional’ atau memang kantor urusan internasional di universitas akan membutuhkan banyak tenaga lulusan HI.

5. Meskipun banyak yang belajar HI karena mau jadi diplomat, jangan kaget jika di tengah-tengah semester kamu menemukan cita-cita baru yang sama sekali berbeda

Tika yusuf adalah salah satu alumni HI yang terjun sebagai penyiar

Tika yusuf adalah salah satu alumni HI yang terjun sebagai penyiar via studyinjogja.net

(semester awal-awal)

A: “Kalau udah lulus mau jadi apa?”

B: “Diplomat dong!”

(semester akhir)

A: “Gimana besok, kalau udah lulus kerja di mana?”

B: ‘Nggak tahu nih, masih bingung”

Saat masih awal-awal kuliah, cita-cita menjadi diplomat itu masih kental dan dipegang erat. Setelah semester 4, 5 lalu 6 rata-rata anak HI sudah mulai keluar haluan. Diplomat tak lagi menjadi satu-satunya pencapaian yang bisa ditempuh lewat jurusan HI. Pasalnya, banyak ilmu ternyata yang dipelajari di HI. Kita tak melulu belajar tentang diplomasi dan teori hubungan internasional, tapi juga belajar tentang MNC (Multinational Corporation), INGO (International Non-Governmental Organization), Ekonomi Makro, dan lain-lain.

Dari berbagai ilmu itu memunculkan hal-hal baru yang menarik perhatian. Selain jadi diplomat, kita bisa jadi pebisnis, aktivis, jurnalis, peneliti atau penulis. Tapi, idealisme untuk menjadi seorang diplomat juga layak diperjuangkan hingga akhir jika kita benar-benar menginginkannya.

6. Niat hati ingin melanjutkan pendidikan, tapi kamu harus pusing menentukan jurusan S-2 apa yang sejalan dengan latar Hubungan Internasional-mu

memilih-milih dengan selektif jurusan S2 yang sekiranya sejalan dengan jurusan

memilih-milih dengan selektif jurusan S2 yang sekiranya sejalan dengan jurusan via www.scholarship-search.org.uk

Kebimbangan juga datang kalau kita punya keinginan untuk meneruskan ke S2 lantaran ilmu-ilmu yang dipelajari cukup beragam. Tak jarang kita bicara soal ekonomi dan politik, hukum internasional, diplomasi kebudayaan, atau masalah-masalah negara berkembang. Kita pun sedikit kesulitan menentukan jurusan program master yang sesuai, apakah akan tetap di HI atau berpindah ke jurusan lain.

Tren yang sedang marak adalah lulusan HI mulai merambah S-2 di bidang ekonomi. Misalnya saja Ilmu Ekonomi, Perbankan, atau Master of Business Administration (MBA). Tapi di luar itu, bidang politik, public policy, atau bahkan Master Ilmu Hubungan Internasional juga banyak diminati. Kurangnya lapangan pekerjaan yang diperuntukkan khusus bagi lulusan HI, membuat pilihan melanjutkan ke S-2 adalah alternatif yang bagus. Dengan mengambil S2 kita bisa memperkaya ilmu, dan ijazahnya pun kita bisa digunakan untuk mendapat posisi yang lebih strategis di pekerjaan.

7. Kehidupan setelah lulus ternyata tak mudah. Walau begitu, tidak pernah ada rasa sesal karena pikiranmu menjadi terbuka dan kritis setelah menjadi anak HI

mencari pekerjaan untuk anak HI memang tak semudah yang dipikir

mencari pekerjaan untuk anak HI memang tak semudah yang dipikir via fajar.co.id

Nah, ini termasuk salah satu permasalahan anak HI. Tak seperti anak-anak jurusan eksakta yang lebih jelas profesi apa yang akan mereka tekuni, anak HI yang punya ilmu luas cenderung sedikit kesulitan mencari pekerjaan. Jika hanya mengandalkan kementerian luar negeri dan CPNS tentu tak bisa, karena ada sekitar 5000 mahasiswa jurusan HI yang lulus setiap tahunnya di Indonesia. Untuk mengatasi ini, kita mutlak perlu kemampuan lain untuk mengembangkan diri dan menemukan pekerjaan yang sesuai, meski tak jarang itu “keluar jalur” dari HI.

Tapi itu semua bukan alasan untuk menyesal, kok. Pemikiran yang terbuka dan obyektif yang telah dilatih selama jadi mahasiswa akan sangat berguna, nggak peduli pekerjaan apapun yang akhirnya kamu jabani nanti.

Masuk jurusan Hubungan Internasional bukan cuma perkara gengsi. Penting juga untuk benar-benar memiliki minat di bidang ini. Setuju nggak, wahai kamu anak-anak HI? 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya