“Sekarang sudah lulus kuliah, kapan mau kenalin calonnya nih?”

Kamu (dalam hati): “Calon yang mana… Hahaha.”

Tidak dapat dipungkiri. Setelah menginjak kepala dua, berbagai pertanyaan tentang rencana pernikahan akan semakin sering mampir di telinga. Saking seringnya, bahkan kamu yang tadinya santai dan tidak menargetkan kapan akan menikah mulai gerah dan jika memang bisa ingin segera mendapatkan pendamping hidup.

Bukan hanya karena gempuran pertanyaan, deretan undangan pernikahan yang bertubi-tubi datang membuatmu bertambah semangat untuk segera menemukan tambatan hati. Rasanya, tak ada yang kamu inginkan kecuali menemukan dia yang bisa menggenapi. Menghelat akad nikah atau pemberkatan di Gereja menjadi agenda hidup yang kini mati-matian kamu perjuangkan.

Namun benarkah kamu harus sebegitu khawatirnya saat pernikahan belum juga terlaksana di usiamu yang kepala dua?

1. Bisa jadi, orangtuamu memang sudah ingin menimang cucu. Namun bukankah mereka akan bangga juga dengan kecemerlangan karier dan prestasi pendidikanmu?

kamu bis akuliah lagi atau mengejar karir via www.efpsa.org

Advertisement

Salah satu alasan orangtua meminta anaknya menikah di usia muda adalah karena mereka ingin segera menimang cucu. Dengan semakin senjanya umur, tentu ada ketakutan hilangnya kesempatan mereka untuk melihat cucu tercinta. Maka dari itu, jangan gerah saat orangtua semakin sering mendesakmu untuk menikah dan memiliki anak sendiri.

Namun bila memang dia yang dirasa tepat belum juga datang, janganlah memaksa untuk menikah. Di masa ‘penantian’ ini, ada banyak hal yang bisa kamu lakukan. Apalagi dengan usia mudamu, kamu masih besar mengejar aneka kesempatan mulai dari beasiswa belajar di negara orang, bekerja di perusahaaan impian, sampai merealisasikan membangun bisnis sesuai keinginan. Bukankah ini juga prestasi yang membanggakan?

2. Status yang masih sendiri memungkinkanmu untuk bebas berpetualang, tanpa perlu izin suami atau kompromi dari istri

lakukan petualangan yang kamu suka via www.huffingtonpost.com

Ketika nantinya kamu sudah memiliki pasangan hidup, tentu ada aturan-aturan yang membuatmu tidak bisa lagi sebebas dulu. Untuk itu masa sebelum menikah adalah saat paling tepat untuk melakukan berbagai hal termasuk pula melakukan pelesiran. Puaskanlah hasrat mudamu untuk menyambangi berbagai tempat yang menarik perhatian.

Meski nantinya setelah pernikahan kamu tetap saja bisa melakukan perjalanan, namun berjalan-jalan dengan statusmu yang masih sendiri akan memberi kesan tersendiri. Kamu tidak perlu memusingkan izin dari pasangan, berpikir tentang biaya traveling berdua yang pastinya tidak smeurah pergi sendiri, atau pekerjaan rumah tangga yang mesti dirampungkan.

3. Karena menikah sebaiknya hanya dilakukan sekali, justru saat-saat ini bisa kamu manfaatkan untuk mencari dia yang paling menggenapi

bisa mencari yang terbaik via lovapp.co

Ketika sudah menikah nanti, apapun kekurangan dan kelebihan pasangan harus bisa diterima dengan hati lapang. Kamu tidak mungkin lagi meninggalkannya begitu saja ketika mengetahui sifat-sifatnya yang tidak kamu suka. Karena itulah mencari pasangan yang dirasa paling tepat harus dilakukan sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah.

Manfaatkanlah masa muda untuk melakukan ‘petualangan cinta’ demi menemukan dia yang benar-benar kamu damba. Tidak ada salahnya jika kamu beberapa kali harus merasakan perihnya patah hati, sampai kamu memahami orang seperti apa sih yang sebetulnya paling kamu nanti. Jangan hanya karena faktor usia, membuatmu harus menikah dengan orang yang sebenarnya tidak kamu yakini.

4. Mumpung masih muda dan karier sedang bagus-bagusnya, kamu bisa menabung demi kehidupan keluarga yang lebih nyaman nantinya

persiapkan kemampuan finansial via info.sfcu.org

“Menikah memang tidak harus menunggu ketika sudah mapan secara finansial. Tapi kalau bisa dilakukan, bukankah ini akan lebih menguntungkan?”

Kamu tentu tidak harus mewajibkan diri akan melamar atau menerima lamaran setelah tabunganmu penuh dengan pundi-pundi uang. Tapi kalau memang pasangan hati yang kamu ingin belum datang, kamu bisa menggunakan waktu yang tersedia untuk memantaskan diri termasuk juga dari segi finansial.

Dengan karier yang tengah dirintis, tidak salah kok kalau kamu mulai memikirkan membeli tempat tinggal. Kamu pun jadi lebih leluasa memikirkan tabungan hari tua atau mungkin mulai menabung untuk membeli kendaraan kelak. Persiapkanlah segala kebutuhan keluargamu nantinya agar kehidupan rumah tangga menjadi lebih nyaman nantinya.

5. Menikah bukan hanya soal mendapatkan pasangan. Dengan usia yang semakin matang, kamu memiliki waktu lebih untuk mempersiapkan mental

Kehidupan pernikahan yang nantinya dijalani, akan sarat dengan berbagai tantangan yang harus dilewati. Sebagai dua orang dengan isi kepala berbeda, tentu tidak mudah menyatukan pendapat saat sedang menyelesaikan masalah. Mungkin kamu yang lebih santai akan merasa bingung sendiri ketika pasanganmu yang punya sifat panikan akan stres menghadapi masalah yang datang.

Di sinilah mentalmu diuji. Kalau kamu memangkan ego sendiri, kemungkinan besar pertengkaran akan sering pecah di antara kalian. Biasanya pernikahan yang dilakukan saat usia mudalah yang rawan berhadapan dengan masalah seperti ini. Untuk itu selagi masih muda persiapkan mental kalian agar nantinya bisa lebih kuat menghadapi masalah di perkawinan kalian.

6. Setelah menikah, kamu harus berbagi dengan pasangan dan anak. Karena kamu belum terikat, manfaatkan saja kesempatan ini untuk lebih mengenal diri lebih dekat

kenali diri lebih dekat via abroad.uconn.edu

Membagi waktu dan energi yang kamu punya adalah salah satu konsekuensi dari kehidupan berkeluarga. Mengutamakan prioritas pasangan atau bahkan anak pasti kamu lakukan demi melunasi kewajibanmu sebagai istri atau suami. Waktu untuk memanjakan diri sendiri atau sekedar melakoni hobi akan akan banyak berkurang.

Karena itulah belum menikah di usia 20-an sebetulnya akan memberimu banyak keuntungan. Menjalani berbagai hobi dan kesukaan yang membuatmu bisa mengenali diri sendiri masih bebas dilakukan. Dengan tidak banyak batasan, kamu bisa semakin mengakrabi sehingga kamu semakin memahami apa yang sesungguhnya kamu suka dan tidak sukai.

7. Kamu memang belum punya bayi dari rahimmu sendiri. Namun sekarang, kamu bisa membantu merawat sepupu atau keponakanmu demi jadi ibu yang lebih baik nanti

latihan urus anak via instagram.com

Memiliki bayi sendiri yang lucu tentu menjadi dambaan bagi setiap pasangan yang menikah. Sudah terbayang pasti di kepalamu, mengurus dan membesarkan buah hati sendiri. Namun kalau memang belum bisa bukan berarti kamu tidak boleh melatih insting keibuanmu. Kamu bisa melatih kepiawaian sebagai seorang ibu dengan mengurus sepupu atau keponakanmu.

Mulai dari mengganti popok, membuatkan susu, atau malah menenangkannya kala menangis bisa kamu lakukan demi melatih diri menjadi ibu jempolan ke depan. Kamu yang sudah terbiasa mengurus anak nantinya, akan lebih mudah menjalankan peran sebagai ibu di masa mendatang.

8. Banyak yang menganggap kehidupan setelah menikah akan otomatis lebih indah. Padahal, di balik setiap pernikahan yang sukses bertahan pasti ada kerja keras dan kompromi besar

nikah adalah kerja keras via aloha.com

Tentu tidak salah bila kamu mengharapkan kebahagiaan setelah menikah. Apalagi bila kamu menikah dengan dia yang benar-benar dicinta. Tapi bila kamu hanya membayangkan kegembiraan, pada kenyataannya kehidupan pernikahan tidaklah selalu melewati jalan mulus. Bahkan sesekali ada jalan terjal yang mengancam kelangsungan hidup pernikahan.

Banyak pernikahan yang gagal disebabkan karena ekspektasi yang terlalu tinggi. Ketika harapan tersebut tidak terpenuhi, mereka akan sangat kecewa dan memutuskan berpisah saja. Satu hal yang perlu kamu camkan di kepala bahwa pernikahan yang berhasil tidak terjadi dengan gampangnya. Ada kemauan untuk bekerja sama, saling mengerti, dan pastinya mau mengalah demi keutuhan rumah tangga.

9. Tidak ada hal baik yang bisa dihasilkan dari terburu-buru. Kadang, keputusan terbaik memang untuk menunggu

tidak perlu buru-buru via imgkid.com

Kamu mungkin sudah membayangkan betapa nikmatnya menjalani biduk rumah tangga, memiliki anak, dan hidup bersama keluarga kecilmu. Desain pesta pernikahan ideal bahkan cara menjadi istri yang baik telah khatam kamu dengarkan dari mereka yang berpengalaman. Rasanya jika bisa, kamu ingin ‘memaksa’ Tuhan untuk mempertemukan dengan dia yang ditakdirkan.

Namun satu hal yang perlu kamu diingat, bahwa tidak ada hal baik yang dilakukan terburu-buru. Kamu tidak perlu terpaku memikirkan pendapat orang atau jengah karena satu persatu temanmu telah menemukan tambatan hati mereka. Percayalah bahwa akan tibanya waktu kamu bertemu dengan seseorang yang bisa menjadi sebaik-baiknya pendamping hidup yang Tuhan izinkan.

Pada akhirnya menikah bukanlah pertandingan yang membuat orang harus berkompetisi demi mencapai garis akhir. Setiap manusia telah memiliki takdirnya tersendiri. Untuk itu selagi menanti kamu dan dia sama-sama dipertemukan, pantaskan dirimu sebaik-baiknya.