Demi sejenak mengusir penat di tengah jam kerja, saya iseng-iseng memeriksa linimasa Facebook. Nampak aktivitas dua kawan lama yang baru saja mengunggah foto pribadinya. Yang satu berpose dengan latar Menara Eiffel, sedangkan satu lagi menyunggingkan senyum di halaman rumah bersalju bersama seorang anak perempuan berambut pirang.

Kangen dengan keduanya, segera saya kirim pesan lewat fasilitas chatting untuk sekadar bertanya kabar. Percakapan dengan keduanya berlanjut hingga saya ketahui bahwa mereka sedang berada di Jerman. Meski tak tinggal di kota yang sama, Vitri dan Rizki ternyata sedang sama-sama menjalani program au pair di Jerman.

Advertisement

Vitri dan Rizki menjelaskan, dengan au pair mereka bisa punya kesempatan menjejak belahan bumi yang lain — meninggalkan rutinitas di tanah kelahiran serta zona nyaman dengan tuntutan bekerja dan belajar, serta bonus jalan-jalan. Ah, bukankah program ini terbilang menarik dan nampaknya menyenangkan? Lantas sebenarnya apa itu au pair? Apa saja yang harus kamu lakukan agar bisa mengikuti program ini? Berapa biayanya, dan syarat administrasi apa saja yang harus kamu siapkan? Simak tentang seluk-beluk au pair selengkapnya di artikel ini, ya!

Au Pair: Bekerja, Belajar, Tinggal di Rumah Keluarga Asuh Sambil Jalan-Jalan di Negeri Asing

au pair, kesempatanmu buat belajar bahasa dan budaya

au pair, kesempatanmu buat belajar bahasa dan budaya via www.facebook.com

Nama ‘au pair’ berasal dari bahasa Perancis dan berarti balas jasa. Au pair adalah program bagi anak muda (umumnya usia 18-30 tahun, tergantung kebijakan negara tujuan) yang ingin memperdalam kemampuan berbahasa asing dan mempelajari budaya baru dengan cara tinggal bersama keluarga asuh di negara tujuan. Sebagai balas jasanya, peserta au pair ini akan melakukan beberapa pekerjaan untuk keluarga asuhnya itu: mengasuh anak, pergi belanja, atau membantu memasak dan membersihkan rumah. Keluarga asuhnya pun akan memberikan uang saku (bisa juga disebut gaji) kepada mereka setiap bulannya.

Oh, jadi TKI dong?

Advertisement

Bukan! Au pair tak bisa disamakan dengan TKI yang memang murni ke luar negeri untuk bekerja. Jam kerja au pair biasanya dibatasi maksimal 8 jam per hari, dengan waktu libur 1-2 hari per minggu. Au pair juga akan dianggap sebagai anggota keluarga sendiri: mendapat kamar pribadi, berhak makan satu meja dengan keluarga, punya hak untuk belajar dan jalan-jalan, serta tentunya tetap punya privasi. Segala kesepakatan antara au pair dan keluarga penampung akan dicatatkan secara jelas dalam surat perjanjian yang sah.

“Status kita tetap pelajar kok. Kita bukannya semata-mata au pair, tapi pelajar yang bekerja paruh waktu sebagai au pair demi memperdalam kemampuan berbahasa lewat kehidupan sehari-hari.” – Karina Rizkinia, Paris, Prancis

Hampir semua negara di dunia menerima au pair. Namun, masing-masing negara biasanya punya ketentuan dan aturan tersendiri untuk program ini. Misalnya, kebanyakan negara Uni Eropa menerima peserta au pair dengan usia maksimal 25 tahun, sedangkan di Swiss (yang bukan anggota UE) usia maksimal itu bisa sampai 30 tahun. Aturan lamanya masa au pair tiap-tiap negara pun berbeda-beda, umumnya antara 6 bulan – 1 tahun.

Persiapan untuk Pergi Au Pair Dimulai dengan Menemukan Keluarga yang Sepakat Menampung Kita Selama Bekerja dan Belajar Di Sana

menemukan keluarga yang tepat itu penting

menemukan keluarga yang tepat itu penting via intanmartha23.wordpress.com

Proses hingga akhirnya bisa berangkat au pair tak bisa dibilang mudah. Hal paling pertama yang harus dilakukan adalah menemukan keluarga yang bersedia menampung kita di sana. Proses ini bisa dilakukan oleh agen atau secara mandiri lewat situs-situs di internet. Jika ingin menggunakan jasa agen, tentu kita harus mengeluarkan biaya tersendiri. Sementara, mencari sendiri lewat internet umumnya gratis dan caranya pun mudah.

Aupairworld.net adalah salah satu situs terpercaya dikalangan mereka yang pernah menjajal au pair. Keluarga dari berbagai belahan dunia dapat ditemui di sana. Mulailah dengan mendaftar dan membuat profil diri di situs tersebut. Tuliskan data diri secara lengkap, tentang karakter dan skill yang dimiliki, serta tulisan motivasi perihal alasan mengikuti program au pair beserta segala ekspektasinya.

Para keluarga yang bersedia menerima au pair pun melakukan hal yang sama. Mereka akan menuliskan profil keluarganya; tipe keluarga seperti apa, ada berapa anak yang harus diasuh, dan pekerjaan apa saja yang harus dilakukan seseorang jika menjadi au pair di rumah mereka. Profil yang dipasang di situs ini memungkinkan calon au pair dan keluarga saling mencari dan melamar. Selanjutnya, mereka bisa berkomunikasi lewat Skype untuk saling mengobrol dan bertukar ekspektasi. Kedua pihak ini juga akan saling tawar dan membuat kesepakatan soal siapa yang akan menanggung biaya keberangkatan atau biaya kursus bagi au pair selama mereka ada di sana.

“Gue sebulan lebih cari Gastfamilien (keluarga asuh) di Aupairworld. Kalau sholat aja lima kali sehari, gue buka situs ini lebih dari lima kali setiap hari buat kirim lamaran. Satu hal yang bikin gue tertarik sama keluarga yang sekarang nampung gue adalah mereka menulis di profil sebagai keluarga yang melek teknologi dan punya game di rumahnya. Hehehe.” – Vitri Indriyani, Trier, Jerman

Proses Pun Berlanjut dengan Segala Remeh-Temeh Perkara Administrasi

melewati proses administrasi - mendaftar ke tempat kursus

melewati proses administrasi – mendaftar ke tempat kursus via www.facebook.com

Pengalaman dari tiga narasumber yang saya wawancara memang berbeda-beda. Karina yang memilih au pair ke Prancis mengaku harus mendaftar sekolah sendiri, sedangkan Vitri mendapat bantuan dari keluarga yang akan menampungnya. Bahkan, untuk biaya sekolah di semester pertama pun sudah dilunasi oleh keluarga barunya.

Umumnya, tahap administrasi dimulai dengan pembuatan surat kontrak oleh keluarga penampung. Surat kontrak inilah yang akan jadi salah satu syarat pengajuan visa. Ketentuan soal visa ini pun berbeda-beda. Untuk Prancis misalnya, program au pair akan membuatmu menerima visa pelajar. Sementara Jerman akan mengeluarkan visa izin tinggal biasa untukmu.

Nah, beberapa dokumen yang harus kamu persiapkan saat akan au pair antara lain adalah:

– Paspor
– Kontrak yang sudah ditandatangani keluarga penampung
– Sertifikat bahasa yang disyaratkan (misalnya, minimal sertifikat A1 dari Goethe Institut untuk au pair ke Jerman)
– Bukti pendaftaran kursus atau sekolah bahasa selama berada di negara tujuan
– Surat keterangan sehat
– CV, dan
– Surat motivasi

Setelah semua dokumen selesai diproses dan dievaluasi, pelamar tinggal mempersiapkan diri untuk panggilan wawancara dan menunggu proses approval visa yang kira-kira memakan waktu sekitar 3 mingguan.

“Persiapan yang agak ribet adalah bikin paspor dan apply visa. Yang lain mah standar aja. Gue ke Jerman pas musim dingin, jadi banyak bawa baju hangat dan terpaksa ngurangin bawa sambel sama Indomie. Hehehe. Oh ya, gue cuma bawa 200 euro buat pegangan lho! Tiket pesawat udah dibeliin sama keluarga. Ah, pokoknya modal dengkul lah gw kesini!” – Rizki Lestari, Dunningen, Jerman

Di Balik Keinginan untuk Au Pair, Pasti Ada Alasan-Alasan yang Melatarbelakanginya

selalu ada cerita dibalik setiap keputusan

selalu ada cerita dibalik setiap keputusan via www.facebook.com

Vitri, seorang Sarjana Pendidikan Bahasa Jerman, memutuskan untuk mengikuti au pair sejak 2012 lalu. Keinginannya muncul di masa-masa akhir kuliah, tepatnya saat menunggu momen ujian skripsi. Sadar bahwa setelah lulus harus memasuki dunia kerja, dia pun merasa bahwa rutinitas pekerjaan pasti akan membuatnya bosan. Kebetulan baru benar-benar menyukai bahasa Jerman saat proses penulisan skripsi dia pun fokus mencari-cari kemungkinan agar bisa melanjutkan belajar bahasa Jerman.

Sementara, Karina yang sudah 2 tahun menjalani au pair justru awalnya hanya iseng. Sekadar berharap bisa pergi ke Prancis, dia pun menemukan situs aupairworld yang seperti menuntun langkahnya. Perjalanan Karina yang dimulai 2012 lalu kini sampai pada kesempatan yang bisa membuatnya berbangga, yaitu kuliah di jurusan Sastra Prancis di Sorbonne University.

Rizki yang memulai au pair pada bulan Februari lalu justru punya alasan yang berbeda. Dirinya mengaku bosan dengan rutinitas perkuliahan. Bahkan, tanggungan untuk menyelesaikan skripsi pun rela sejenak dikesampingkan demi bisa au pair. Dia percaya bahwa banyak hal menarik yang akan ditemui ketika berani membuat langkah besar.

“Gue ambil cuti kuliah karena sisa kewajiban gue adalah skripsi. Idealnya sih, au pair bagus buat yang lulus SMA atau lulus kuliah. Tapi emang gue masih males buat ngerjain skripsi sih. Hahaha. Gue percaya, lewat au pair bakal banyak pengalaman yang bisa gue dapet. Gue juga yakin kalau pelajaran dan pengalaman berharga itu datangnya di luar zona nyaman.”

Keputusan Pergi Merantau ke Negeri Orang Tak Bisa Diambil dengan Gegabah. Kamu Harus Punya Keyakinan dan Tekad yang Bulat

banyak pertimbangan sebelum mantap pergi

banyak pertimbangan sebelum mantap pergi via www.facebook.com

Bagi Vitri yang memang sudah menyelesaikan tanggung jawabnya di kampus, keinginan untuk au pair tak banyak menuntut pertimbangan. Dirinya baru menyadari perkara langkah besar yang akan diambilnya ketika orang tua ternyata melarang keras keinginannya tersebut. Meski mendapat tentangan dari keluarga, ia tetap mantap pada pilihan pribadinya hingga akhirnya keluarga mau memberi restu.

“Gue emang baru bilang ke orang tua begitu resmi dapat keluarga di sana. Beuh, mama gue ngomel-ngomel dan gak mengijinkan anaknya pergi. Tapi gue tetep yakin sama keputusan gue. Mama pun akhirnya kasih ijin dengan berbagai syarat. Mama udah oke, keluarga di sana siap nampung, ya udah deh gue berangkat!”

Berbeda dengan Vitri, Rizki justru mudah saja mendapat ijin dari keluarganya sekalipun harus meninggalkan kewajiban menyelesaikan skripsi. Menurut Rizki, keluarganya sudah paham betul sifatnya yang keras kepala dan tak suka dilarang-larang. Keinginan untuk menjajal dunia baru pun semakin membuat langkahnya terasa ringan.

Ada Pengalaman Unik Ketika Kamu Harus Tinggal Berbeda Benua dengan Keluarga. Kamu Akan Dituntut Pintar-Pintar Beradaptasi dan Membawa Diri

punya skill berdaptasi dan kemampuan membawa diri

punya skill berdaptasi dan kemampuan membawa diri via www.flickr.com

Tinggal di negeri orang dan jauh dari rumah serta sanak keluarga jelas butuh kedewasaan. Kamu tentu dituntut bisa mawas diri sekaligus pintar-pintar membawa diri. Sebagai warga pendatang atau anggota keluarga yang baru, kamu dituntut cepat beradaptasi, belajar dan berusaha menyesuaikan diri dengan berbagai hal yang mungkin jauh berbeda dengan yang ada di tempat asalmu. Bisa bersikap ramah, sopan, dan berperilaku baik tentu jadi kuncinya.

Au pair memang sudah seharusnya dianggap sebagai keluarga sendiri. Tapi, ada juga yang dianggap “pekerja” sama keluarga yang menampungnya. Kita harus pinter-pinter milih keluarga, selain bisa jaga sikap dan membawa diri.”

Yup, meskipun mereka yang menjalani program au pair sudah dianggap jadi bagian dari keluarga, sikap profesional haruslah tetap ditunjukkan. Bagaimanapun, hal-hal sederhana seperti pergi belanja atau membantu anak-anak mengerjakan PR adalah tanggung jawab pekerjaan.

Pintar membagi waktu adalah salah satu bukti bahwa kamu punya sikap profesional. Karina, misalnya. Dia terbiasa bangun pagi untuk menyiapkan sarapan bagi seluruh anggota keluarga. Selanjutnya, dia akan membangunkan anak-anak lalu menyiapkan kebutuhan sekolah mereka. Bersamaan dengan anak-anak berangkat sekolah, Karina pun akan pergi ke kampus untuk belajar hingga jam 3 sore. Selesai menjemput anak-anak dan memandikan mereka, dia pun mendampingi anak-anak mengerjakan PR. Malam harinya, dia akan kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam dan mengantar anak-anak tidur. Sekitar jam 10, dia pun sudah berada di kamar untuk segera tidur atau mengerjakan tugas sekolahnya.

“Saat di kampus aku fokus belajar, sedangkan di rumah aku harus fokus sama anak-anak. Saat menemani mereka lah sebenarnya aku sedang bekerja dan aku digaji. Aku harus tetap profesional dan maksimal menyelesaikan kewajibanku.”

Jika Pekerjaan Rumah dan Tugas-Tugas Kuliah Sudah Tuntas, Kamu Berhak Bersenang-Senang!

liburan

kamu berhak bersenang-senang dan liburan via www.facebook.com

Di Jerman, Rizki mengaku jarang sekali jalan-jalan lantaran biaya perjalanan yang menurutnya mahal. Baginya, lebih baik menyisihkan uang agar kelak saat pulang dirinya cukup punya bekal dan tabungan. Meskipun begitu, dirinya tetap mendapat jatah libur bekerja dan bebas bersantai di rumah saat akhir pekan.

“Gue libur kalau weekend, tapi jarang banget jalan-jalan. Ongkos mahal, cuy! Gue baru ke Paris doang dan Minggu depan mau liburan ke Turki sebulan. Mau nyari jodoh di sana! Hehehe.”

Karina yang tinggal di Prancis lebih senang menghabiskan Sabtu-Minggu untuk bergaul dengan sesama pelajar asal Indonesia di sana. Berkumpul di rumah teman, Karina lebih suka menghabiskan waktu untuk ngobrol, masak, dan makan bersama dengan teman-teman sesama orang Indonesia.

Nah, lain cerita dengan Vitri yang ternyata lumayan hobi traveling. Selain gemar menjelajah sudut-sudut negara Jerman, dia pun kerap kali bertandang ke negara-negara tetangga seperti Perancis, Ceko, dan Italia. Dia mengaku tak bingung mengatur keuangan demi menuruti hobi traveling-nya.

“Gaji gue 260 euro per bulan. Buat bayar les yang 300 euro per semesternya, gue cuma harus nyisihin 100 euro sebulan. Makan sama tinggal udah gratis. Sisanya ya gue pakai buat jalan-jalan deh. Di sini bisa pakai tiket grup minimal 3 orang, jadi jalan-jalan tapi tetep hemat.”

Nah, setelah kamu mendengar penjelasan ketiga gadis Indonesia ini, apakah kamu tertarik juga mencoba pengalaman yang sama? Tunggu apa lagi? Ini kesempatan yang bagus untuk kamu yang bercita-cita belajar dan tinggal di luar negeri, bukan? 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya