Merantau jauh dari kota kelahiran kerap membuat kami rindu akan kampung halaman. Mulai dari masakan Mama, teman-teman lama, sampai suasana desa yang tentram dan damai. Selain rindu, tuntutan dari sanak famili untuk pulang sering kami dengar. Namanya juga tanah kelahiran, tentu kami ingin sekali pulang kalau ada waktu senggang. Namun kenyataannya kami tak selalu bisa pulang karena masih ada kepentingan yang harus didahulukan.

Hal tersebut seringkali disalah artikan oleh orang-orang di kampung halaman sebagai penolakan. Kami disangka sombong atau apalah sebutannya. Padahal sejatinya memang kami masih punya tanggungan sesuatu yang mesti dikerjakan. Tidak ada sama sekali niatan untuk melupakan kampung halaman, tapi ada 6 hal yang mesti diraih terlebih dahulu.

1. Mencari ilmu pengetahuan supaya menjadi orang yang berguna bagi sesama

Menuntut ilmu via unsplash.com

Advertisement

Tuntutlah ilmu sampai langit ke tujuh

Barangkali pepatah itulah yang menuntun kami untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Bahkan jarak yang jauh pun rela kami tempuh demi bekal di masa depan. Kami rela menahan rindu ketika kangen rumah. Kami rela berpisah dengan orang-orang yang terkasih demi masa depan yang lebih baik.

2. Bukannya tak ingin pulang, kami hanya ingin mencari pengalaman dan menempa diri guna menjadi orang yang tangguh

Belajar mandiri via unsplash.com

Selain menuntut ilmu, kami juga butuh yang namanya kesendirian. Jauh dari orangtua memaksa kami untuk hidup mandiri, menempah diri menjadi seseorang yang tangguh. Sebelumnya mungkin kami hanyalah anak rumahan yang apa-apa selalu ada Mama atau Papa yang menyediakan. Merantau kali ini harapannya tak lain agar kami lebih dewasa lagi dalam menyikapi hidup.

 3. Dengan menyandang gelar sarjana kami ingin membuat bangga  orangtua dan keluarga di kampung halaman sana

Menjadi sarjana via unsplash.com

Advertisement

Meski tidak semua orang beranggapan seperti ini, tapi umumnya orangtua akan bangga jika anaknya memiliki gelar sarjana. Maka dari itu kami ingin membahagiakan mereka dengan cara menjalani kehidupan berkuliah dengan sungguh-sungguh. Perjuangan mendapatkan gelar sarjana jelas tak mudah, tapi semua akan terbayarkan saat melihat senyum orangtua kala wisuda datang.

4. Kami harus menjadi pribadi yang mandiri, memperoleh penghasilan sendiri agar tak jadi beban keluarga nanti

Giat bekerja via unsplash.com

Setelah lulus, banyak pertanyaan “kenapa tidak pulang?” yang disematkan pada kami. Salah satu hal yang membuat kami tidak mencari pekerjaan di kampung halaman adalah minimnya lapangan pekerjaan. Pun kalau ada, pendapatannya tentu tidak seberapa. Boleh jadi karena alasan itulah kita memilih kota perantauan sebagai lumbung untuk memperoleh penghasilan. Tapi hanya satu yang selalu kami ingat, kampung halaman tetaplah tempat penuh kerinduan.

5. Di sini kami tak hanya mengejar gelar, tapi juga kemampuan yang mungkin dibutuhkan untuk mengembangkan kampung halaman

Tanah rantauan tercinta via unsplash.com

Banyak cibiran yang mengatakan kami sombong tidak pernah pulang. Sering juga salah mengartikan bahwa kami telah melupakan tempat dimana kami dilahirkan. Hal itu salah benar. Karena bukankah justru karena cinta kampung halaman kita mencari banyak bekal dan pengalaman yang nantinya akan kita berikan kepada kota kelahiran kita?

Meski kapan waktunya kami sendiri belum mengetahuinya. Tapi suatu saat nanti akan tiba masanya kembali dan membagi apa-apa yang telah diperoleh dari petualangan kami selama ini di tanah rantuan. Tunggu saja, kami pasti akan kembali.

6. Mohon maaf jika kami belum bisa pulang. Begitu semua janji terlunasi, kami akan segera kembali

Menggapai kesuksesan via unsplash.com

Desaku yang ku cinta, pujaan hatiku

Dari semua aktivitas, entah itu menuntut ilmu atau bekerja mencari penghasilan, semuanya dilandasi dengan keinginan untuk meraih kesuksesan. Dan kesuksesan di sini apabila ditarik kembali bermuara pada kecintaan kami pada keluarga dan juga kampung halaman. Salah satu janji kami pada orangtua dan keluarga juga Harapan kami kesuksesan yang diraih dapat membawa keluarga dan kota kelahiran bangga.

Itulah 6 hal yang menjadi alasan yang barangkali mewakili mengapa kami jarang pulang ke kampung halaman. Masih banyak mimpi dan cita-cita yang ingin dicapai. Masih ada tugas-tugas yang ingin kami selesaikan. Namun suatu saat nanti kami berjanji pasti akan kembali dari rantauan dengan sesuatu yang berguna bagi tanah rantauan, dengan capaian yang berguna bagi sesama.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya