Bagi banyak dari kita, menyaksikan ungkapan kesenangan dan kebahagiaan orang lain adalah prioritas nomor satu dalam hidup. Ada rasa berguna sebagai anak, saudara, atau teman dekat ketika mereka yang kita sayangi mengukir senyum di wajah mereka.

Bagaimanapun sulitnya usaha yang harus dilakukan, asal bisa menyenangkan orang lain kita akan menyanggupinya. Padahal tak jarang, kebahagiaan diri sendiri harus dikorbankan demi membuat orang lain senang. Pertanyaannya kini:

Advertisement

Benarkah untuk membahagiakan orang lain, kamu harus menisbikan kebahagiaanmu sendiri?”

Tanpa sadar, kebiasaan mengorbankan kebahagiaan diri sendiri mungkin kamu miliki. Kamu ingin menyenangkan semua orang tanpa terkecuali

selalu berusaha menyenangkan orang lain

selalu berusaha menyenangkan orang lain via wayofliving.it

Menyenangkan hati orang lain adalah agenda hidup yang tidak dapat kamu tinggalkan. Bagimu membuat orang lain bahagia dengan usaha yang bisa kamu lakukan menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Tidak perduli seperti apapun pergulatan di dalam hati, asal orang lain bisa tersenyum kamu akan selalu berusaha memenuhinya, Meski dalam hati menentang, kamu tahu pasti ada rasa terpaksa yang membumbui usahamu tersebut.

Kamu paling tidak bisa menolak ajakan orang, apalagi mengatakan tidak suka terang-terangan. Lebih baik bilang iya dan menjaga perasaan orang. Parahnya, hal ini tidak hanya kamu lakukan pada satu orang saja tapi hampir pada setiap orang yang kamu kenal.

Padahal, menyanggupi permintaan orang lain dengan terpaksa sesungguhnya membuatmu cepat lelah — bahkan kadang merasa bersalah

sering merasa bersalah

sering merasa bersalah via pixgood.com

Advertisement

Menolak ajakan dan permintaan orang menjadi hal yang sebisa mungkin kamu hindari. Rasanya terlalu berat untuk mengatakan kalimat: “tidak mau”, “tidak suka”, atau bahkan sekedar “tidak bisa”. Kamu tahu pasti bahwa selepas jam kuliah atau kantor hanya ingin istirahat memulihkan tubuh yang lelah. Tapi pada kenyatannya ajakan teman untuk bersantai di kafe juga tidak bisa kamu tolak.

Akhirnya dengan perasaan tidak senang kamu pun menemani temanmu tersebut untuk minum kopi di kafe kesayangannya. Jika hal ini hanya dilakukan sesekali, mungkin tidak mengapa. Namun bila terlalu sering itu artinya kamu telah kehilangan otoritas untuk membuat dirimu sendiri bahagia. Padahal sebagai individu kamu memiliki hak yang sama untuk juga merasa senang tanpa perlu terlalu sibuk memikirkan kebahagian orang.

Ada rasa ingin memberontak di dalam sana. Kamu mau seperti mereka, melakukan apa yang disuka tanpa terlalu terpengaruh rasa manusia lainnya

ingin rasanya memberontak tapi tak bisa

ingin rasanya memberontak tapi tak bisa via 74211.com

Jika melihat orang sekelilingmu sesungguhnya kamu merasa heran mengapa kamu tidak bisa seperti mereka yang dengan mudah mengekspresikan rasa. Ada orang lain yang dengan gampang mengutarakan penolakannya pada hal-hal yang tidak mereka inginkan. Tidak ada beban yang terlalu berat ketika harus mengatakan seperti apa sikap yang ingin diambil terhadap suatu hal.

Kondisi ini berseberangan jauh dengan dirimu. Kamu bukanlah manusia bodoh yang tidak tahu apa yang sesungguhnya diinginkan. Tapi pada akhirnya perasaan orang selalu menjadi prioritas utama. Kamu juga ingin memenangkan egomu tapi perasaan tidak tega selalu datang menghantuimu. Perasaan takut dijauhi dan dilabeli sebagai orang tidak berperasaan membuat mengambil keputusan yang jelas-jelas bertentangan dengan perasaan.

Bersikaplah lebih adil pada dirimu sendiri. Bukan kewajibanmu membuat orang merasa senang tiap hari

tidak selalu membahagiakan orang lain

tidak selalu membahagiakan orang lain via pixshark.com

Logika manusiamu tentu dapat mengerti bahwa usaha selalu memprioritaskan kesenangan orang lain bukanlah keharusan yang harus digenapi. Kamu adalah manusia biasa yang juga punya perasaan untuk dijaga.

Maka dari itu mulailah bersikap lebih adil kepada dirimu. Membuat diri sendiri bahagia sebelum menciptakan tawa di wajah yang lainnya tak jadi haram untuk dilakukan.

Kamu adalah manusia yang punya hak sama untuk juga merasa bahagia. Jangan hanya karena mencoba untuk menjadi pribadi yang menyenangkan kamu lupa bahwa hati dan jiwamu berhak pula untuk disenangkan. Sesekali mengalah demi orang lain mungkin terasa masuk akal, tapi bila ini selalu terjadi kelihatannya kamu perlu mengoreksi cara hidup yang selama ini dijalani.

Mulailah menjalani hidup yang seimbang. Sesungguhnya, kebahagiaan yang kamu beri ke orang lain akan sia-sia bila kamu saja tak merasakannya

bahagiakan dirimu dulu

bahagiakan dirimu dulu via www.huffingtonpost.co.uk

Ya, salah satu rumus sederhana untuk membuat orang lain merasakan kebahagiaan adalah dengan merasa bahagia terlebih dahulu. Karena pada dasarnya rasa bahagia adalah energi positif yang bisa menular. Saat kamu merasa senang, orang-orang di sekitarmu pun akan ikut merasakannya. Hal sebaliknya juga berlaku. Rasa sedih dan kecewa akan tetap terasa sekalipun kamu setengah mati melakukan usaha yang membahagiakan.

Satu yang perlu diingat, kamu tidak akan pernah kehilangan kesempatan untuk membahagiakan orang lain hanya karena membiarkan diri sendiri bahagia terlebih dahulu. Sebaliknya, dengan berusaha bahagia terlebih dahulu kamu justru akan mendapat hidup yang lebih seimbang. Rasa bahagia yang tercipta dalam diri sendiri sesungguhnya adalah bahan bakar paling hebat untuk menciptakan suasana kebahagian di hati lainnya.

Sama seperti orang di sekitarmu, kamu adalah seorang yang perlu dan harus juga merasa bahagia. Membiarkan diri sendiri menjadi ‘budak’ untuk selalu menyenangkan orang lain adalah cara yang salah jika kamu ingin menyenangkan hati orang lain.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya