Kehadiran Kirana seolah menjadi warna tersendiri di dunia selebgram yang biasanya diisi oleh cowok tampan superkece atau cewek cantik super seksi yang penuh kontroversi. Keceriaan dan kecerdasan balita menggemaskan yang diabadikan lewat akun Instagram Ibuuk-nya Retno Hening ini, mampu jadi hiburan berkualitas bagi kita yang sedang dilanda kelelahan. Bukan hanya ibu-ibu muda yang sedang mencari referensi metode parenting, tapi juga para single yang gemas dengan tingkah lucu Kirana sembari diam-diam berharap bisa segera ke pelaminan juga.

Bukti lain dari kehebatan parenting Ibuuk Retno ini adalah bagaimana balita yang belum genap berusia tiga tahun ini, tak pernah lupa mengucapkan please, sorry, dan thank you. Yang sudah berumur saja sudah sering lupa atau terlewat gengsi melakukan sopan santun dasar ini. Apalagi di zaman sekarang ketika ritme hidup di kota-kota besar sudah makin cepat dan penuh tuntutan, seakan-akan tak ada waktu lagi untuk sekadar berucap tolong, maaf, dan terimakasih. Padahal kata-kata sederhana itu penting untuk mengingat sisi manusia yang selalu butuh bantuan, tak lepas dari kesalahan, dan selalu harus bersyukur untuk anugerah-Nya.

1. Tiga kata yang mungkin terdengar sederhana ini melambangkan skill penting untuk bisa bertahan hidup. Rendahnya kadar kemanusiaan kini, buat tiga kata bermakna ini sering dianggap basa-basi

Tak ada perasaan hatimu jika tak dikeluarkan lewat kata-kata via unsplash.com

Tolong, maaf, dan terimakasih adalah tiga kata yang menjadi penghubung kita dengan sesama. Dalam praktiknya, kita memang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Ketiga kata ini menggambarkan ragam hubungan manusia yang paling penting. Tak ada manusia yang bisa mandiri dengan sendirinya. Pasti butuh bantuan dan bimbingan orang lain. Jadi kemampuan untuk minta tolong itu mutlak dimiliki siapapun. Mereka yang enggan bertanya dan meminta bantuan, pasti akan tersesat.

Begitu pula dengan permintaan maaf. Manusia itu penuh ketidaktahuan dan kekurangan, jadi pastilah tak bisa lepas dari kesalahan. Manusia yang tak bisa atau malu meminta maaf, hanya akan menumpuk masalah-masalah tak terselesaikan dalam hidupnya. Terakhir, yang mungkin paling penting adalah mengucap terimakasih sebagai rasa syukur. Mereka yang sering lupa bersyukur dan berterimakasih atas bantuan orang lain, hidupnya akan dipenuhi kesedihan. Karena orang-orang ini tak tahu caranya menghargai kebahagiaan.

2. Justru kepada orang terdekat, kita jarang menunjukkan apresiasi. Entah memang lupa atau menanggapnya sebagai kewajaran yang tak perlu diungkapkan dengan kata-kata

Advertisement

Dimanja kasih sayang tanpa batas, jadi sering lupa berterimakasih via unsplash.com

Inilah yang bisa kita teladani dari cara Ibuuk mendidik Kirana. Pelajaran bahwa bahkan kepada orangtua sendiripun kita harus tetap mengucapkan tolong, maaf, dan terimakasih. Dari lahir, ibumu rela tak tidur berhari-hari hanya untuk mengganti popok dan menyusuimu. Meski kelelahan kerja, ayahmu juga akan memberikan semua waktu luangnya untuk bermain denganmu. Wajar saja jika kita sering salah paham bahwa cinta mereka tak perlu apreasiasi karena selalu diberikan tanpa syarat. Justru dengan orang yang baru kenal kita pastikan tak lupa bersopan santun, dengan orang-orang terdekat malah sering semena-mena.

Terlebih, anak-anak yang sering dimanja oleh orangtuanya akan sulit menerima kenyataan bahwa tak semua hal yang diinginkan akan dapat terkabul. Anak yang sejak dini tahu cara yang baik untuk meminta bantuan, maaf, dan berterimakasih, akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan luwes dalam bergaul. Meski mungkin tidak tega harus selalu hitung-hitungan dengan anak sendiri, tapi percayalah itu salah satu pendidikan terbaik yang bisa orangtua berikan demi masa depan mereka.

3. Hidup yang penuh tuntutan tanpa disadari membangunkan sisi egois manusia. Konsep ‘Lo-lo, gue-gue’, membuat kita seolah-olah hidup sendiri

Seolah hidup sendiri via unsplash.com

Hidup yang semakin sibuk ini memang memaksa kita untuk melangkah cepat-cepat. Kebutuhan yang harus dipenuhi, target-target yang harus dicapai, dan pencapaian-pencapaian besar yang harus diraih sesuai tengat yang ditentukan sendiri membuat kita tak sempat lagi memikirkan orang lain. Ritme hidup yang sibuk ini tanpa sadar menyuburkan sisi egois dalam diri kita.

Setiap orang punya tujuan hidup sendiri-sendiri yang harus dicapai dengan usaha sendiri. Segala yang serba sendiri ini juga membuat kita seolah-olah hidup sendiri. Jangankan kehangatan yang harus diberikan kepada sesama, etika untuk hidup bersama saja sering terlupakan dengan mudahnya. Padahal apa susahnya berkata tolong saat minta bantuan, terima kasih setelah mendapat bantuan, dan maaf saat melakukan kesalahan?

4. Kata tolong, maaf, dan terima kasih adalah kode etika hidup berdampingan. Jika tak ingin merasa kesepian, sering-sering ucapkan tiga kata sederhana ini

Menghargai kebersamaan dengan tiga kata sederhana via unsplash.com

Meski hanya satu kata, tolong, bisa mengubah makna dengan begitu hebatnya. Kata itu bisa mengubah level dua orang yang sedang berbicara. Lewat permintaan tolong, kamu dan dia berada di level yang sama. Tanpa kata tolong, sebuah kalimat permintaan mengisyaratkan hierarki dan penindasan. Karena ada beda yang jelas antara minta bantuan dan memerintah seseorang.

Tak ada juga manusia yang bisa menjalani hidupnya tanpa sekalipun berhadapan dengan situasi dimana dirinya harus meminta maaf. Kalaupun ada orang yang berbangga diri karena merasa tak pernah berbuat salah, pastinya hidupnya sepi karena dijauhi orang. Sementara terima kasih akan mengakhiri dengan cantik sebuah aksi saling membantu sebagai wujud kemanusiaan sekaligus wujud rasa syukur atas kebaikan yang kita terima. Kata tolong, maaf dan terima kasih adalah etika dasar kesopanan, yang tak bisa dihilangkan meski dengan alasan dunia sedang tidak butuh pencitraan.

5. Meski sederhana, tiga kata itulah yang membuat kita disebut manusia. Belajar berempati dan bersyukur atas segala kebaikan di bumi

Tiga kata yang buat kita merasa jadi manusia via unsplash.com

Tolong, terima kasih, dan maaf memang kata-kata yang sederhana. Namun tiga kata itulah yang membuat kita menjadi manusia, menjadi seseorang yang menghuni dunia manusia bersama orang-orang lainnya. Etika dan sopan santun yang terkandung di sana mengajari kita tentang kerendahan hati dan menghargai segala kebaikan sekecil apapun itu. Pun upaya mengakui kesalahan bisa mengasah rasa empati dalam diri, sehingga bisa menjadi lebih peduli kepada sesama. Namun membiasakan diri bukan berarti mengobral ketiga kata itu sehingga maknanya pun jadi hambar. Membiasakan diri, berarti menempatkan setiap kata dalam konteks dan fungsinya, bukan sekadar untuk basa-basi saja.

Dengan belajar lagi mengatakan kata tolong, terima kasih, dan maaf sesuai konteksnya, kamu juga sudah belajar menjadi seorang manusia. Jangan mau kalah sama Kirana, kamu juga harus rajin-rajin bilang please, sorry, dan thank you!