Menjadi seorang pemain bola, tentu membutuhkan fisik yang fit dan sempurna. Namun, terkadang cerita kehidupan bisa sangat tak tertebak. Banyak kejadian tak terduga yang terkadang mengubah hidup seseorang seratus delapan puluh derajat. Yang tadinya bisa melakukan A, B, C, kini harus beradaptasi dengan kondisi baru yang mungkin tak seluwes dulu.

Itulah yang dialami oleh Aditya, mantan pemain Persib U-17, yang harus kehilangan sebelah kaki karena kecelakaan di lapangan. Namun, Aditya tidak menyerah. Dengan kondisi barunya, yang sekilas mustahil lagi bermain bola, nyatanya Aditya tetap bisa berkarier sebagai pesepak bola, bahkan berkesempatan mengharumkan nama negeri di kancah luar negeri. Dalam cuitannya di Twitter, Aditya sempat membagikan kisah inspiratifnya untuk bisa menjadi pemain bola profesional.

1. Sempat menjadi pemain Persib U-17 dan berkesempatan menjadi atlet nasional. Sayangnya langkahnya terhenti karena kecelakaan di lapangan

Pernah jadi pemain Persib via kitabisa.com

Advertisement

Sejak kecil, Aditya sudah mencintai dunia sepak bola. Di bangku kuliah, Aditya sering berpartisipasi dalam pertandingan sepak bola antar kampus. Bahkan di tahun 2014 lalu ketika usianya 17 tahun, Aditya sempat lolos diklat Persib Bandung. Ia juga sempat membela Persib U-17 dalam Piala Soeratin. Namun, sebelum mimpinya menjadi semua mimpinya tercapai, Aditya mengalami kecelakaan yang membuat mimpinya nyaris pupus.

Pada laga pertandingan persahabatan antara kampusnya, UIN Sunan Gunung Jati vs Universitas Padjajaran, Aditya mengalami kecelakaan di lapangan. Kakinya berbenturan dengan kiper lawan sehingga mengakibatkan kaki kanannya patah tulang. Sehingga Aditya harus berhenti bertanding untuk sementara waktu.

2. Selama dua tahun Aditya hanya berbaring tanpa bisa melakukan apa-apa. Hingga akhirnya sebuah keputusan besar dia ambil, yaitu mengamputasi kakinya

kecelakaan di lapangan via twitter.com

Kondisi kesehatan kaki Aditya ternyata jauh lebih buruk daripada itu. Berbagai pengobatan baik medis ataupun alternatif sudah ditempuh, kaki Aditya tidak kunjung membaik dan malah semakin parah.

Advertisement

“Sempet saya bawa ke rumah sakit dan pengobatan alternatif, karena gak segera membaik dan lumayan keterbatasan biaya, akhirnya saya dibawa pulang. Kurang lebih 2 tahun saya di kamar aja tuh rebahan dan ngerasain sakitnya yang belum jg ada tanda-tanda baik,” tutur Aditya dalam cuitannya.

Melihat kondisi kaki Aditya yang memprihatinkan, dokter sudah menyarankan agar kakinya diamputasi. Karena dikhawatirkan akan ada infeksi atau kerusakan jaringan tubuh lainnya. Awalnya Aditya menolak, karena bagaimana dia bisa main bola bila harus kehilangan sebelah kaki? Setelah dua tahun berlalu, Aditya akhirnya mulai berpikir bahwa ia tidak akan bisa apa-apa bila membiarkan kondisinya terus-terusan seperti ini.

“Akhirnya saya mikir daripada saya cuma bisa diem aja keterbatesan gerak, saya mengikuti saran dokter untuk mengamputasi kaki saya ini. Lagi pula dokter khawatir takut ada jaringan tubuh lain dari saya yang akan ikut rusak juga.”

Dengan berbagai pertimbangan yang pasti berat, akhirnya Aditya memutuskan untuk mengikuti saran dokter, yaitu mengamputasi kakinya.

3. Keterbatasan fisik tak membuat semangat ataupun mimpi Aditya padam. Beradaptasi dengan kondisi barunya, ia tetap bisa menjadi pesepak bola profesional di amputee football

Aditya tetap bermain bola (photo by @nurhadipermana) via www.instagram.com

Memang Aditya harus beradaptasi dengan kondisi barunya. Kehilangan sebelah kaki, mungkin tak bisa membuatnya bisa main bola dengan cara yang biasa dulu ia lakukan. Namun, berkat semangat yang tetap menyala, dan dukungan yang besar dari berbagai pihak, Aditya tetap berusaha meraih mimpinya sebagai pemain sepak bola. Atas usahanya yang begitu keras dan latihan yang luar biasa, Aditya berhasil masuk dalam Garuda Indonesia Amputee Football (Garuda INAF). Dengan begitu, meski telah kehilangan satu kaki, Aditya tetap bisa meneruskan mimpi.

INAF sendiri merupakan wadah sepak bola bagi orang-orang yang diamputasi kaki atau tangannya. Garuda INAF ini terbentuk sejak tahun 2018 lalu. Sama seperti olahraga lainnya, Amputee Football ini juga sudah ada kompetisi bergengsi tingkat dunianya lho. Nah, tahun depan, Aditya dan Garuda INAF akan mewakili Indonesia dalam kompetisi Asia Amputee Football 2020 yang akan digelar di Malaysia.

4. Hidup memang penuh kejutan, dan kejutan itu tak selalu menyenangkan. Terkadang kita hanya bisa menerima kenyataan, agar kemudian bisa melakukan sesuatu atasnya

terkadang kejutan hidup menyakitkan via www.pexels.com

Saya tak bisa membayangkan bagaimana dilema yang dialami Aditya ketika harus mengamputasi kakinya. Bagaimanapun dia punya mimpi, dan mimpi itu harus dihentikan hanya karena keterbatasannya. Ibaratnya seperti saya harus berhenti mengharapkan sesuatu yang sangat saya cintai. Namun, bukankah terkadang kita memang harus menerima kenyataan agar hidup kita bisa beranjak dari situ?

Penerimaan inilah yang sejatinya menjadi langkah awal untuk mengubah keadaan. Seperti Aditya yang menerima bahwa kondisi kakinya tak akan membaik bila dibiarkan begitu terus, kita juga harus mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu agar bisa terus melangkah. Dan hal itu bisa dilakukan jika pertama-tama, kita bisa menerima kenyataan.

5. Kisah Aditya mengajarkan kita untuk tidak mudah menyerah dengan keadaan. Karena sekeras dan sekejam apa pun keadaan, kita selalu punya cara untuk menaklukkannya

Asal kita tetap keras kepala (Photo by izhar khan) via www.pexels.com

Menerima kenyataan tak berarti kita harus menyerah atasnya. Kita hanya harus membuat skenario dan rencana baru untuk menaklukkannya dengan cara yang berbeda. Kenyataan mungkin memaksa kita untuk tunduk dan berpikir bahwa kita tidak bisa berbuat apa-apa ketika dihadapkan pada suatu masalah. Lantas kita menyerah dan melupakan saja apa yang kita inginkan karena merasa hal itu mustahil untuk didapatkan.

Namun, belajar dari kisah Aditya, nyatanya mimpi tak harus terhenti meski sekilas keadaan terlihat tak memungkinkan. Karena, selama kita masih punya semangat dan harapan, kita masih bisa mencari seribu cara untuk mencapai mimpi yang kita idam-idamkan.

“Inti dari cerita saya sih, saya cuma mau kasih sedikit pesan buat semangat terus karna sebenernya gimanapun kondisi kita kalo masih ada usaha buat bergerak maju, tetep yakin dan trus berdoa yg terbaik, pasti ada aja jalannya. karena itu yang saya lakuin terus sih sekarang,” pesan Aditya.

Semoga kisah Aditya bisa menjadi pengingat agar kita tetap tangguh berdiri ketika menghadapi kesulitan. Selamat bertanding, Aditya! Semoga sukses, Garuda INAF!

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya