“Hey, katanya kamu resign? Emang mau ke mana habis ini?”
“Iya nih. Hehehe belum tahu sih, belum mulai apply-apply lagi.
“Seriusan? Terus kenapa buru-buru resign kalau belum dapat pengganti? Nggak mendingan nunggu dulu aja sambil nyari-nyari?”

Bagi penganut paham “yang pasti-pasti saja”, mungkin penggalan percakapan di atas sangat asing dan tidak pernah dialami. Namun bagi yang mengikuti prinsip “yang penting resign dulu, lain-lain dipikir nanti”, tentunya situasi tersebut sangat familier. Kebetulan saya termasuk golongan yang kedua. Melihat orang terlongo heran saat saya bilang belum punya pekerjaan lain sudah sering saya alami. Mungkin orang akan se-heran itu juga bila tahu saya sering bertanya-tanya apakah konsep jodoh itu memang benar-benar ada.

Advertisement

Banyak tanggapan yang saya terima saat akhirnya saya memutuskan untuk resign, meski belum menemukan pekerjaan pengganti. Ada yang pura-pura takjub dan mengagumi keberanian (atau kenekatan?) saya. Ada pula yang menganggap saya gegabah, pongah, bodoh sekaligus mudah menyerah. Tak jarang mereka langsung menyelipkan nasihat, bahwa jenuh dan lelah di pekerjaan itu hal biasa. Tak seharusnya sampai membuat saya nekat keluar tanpa rencana yang matang.

Resign tanpa pekerjaan pengganti memang penuh risiko. Jujur saja, predikat pengangguran itu memang menyeramkan. Apalagi saya tidak tahu kapan saya akan kembali mendapat pekerjaan. Tapi beberapa kali resign sebelum punya pengganti, membuat saya paham beberapa hal ini.

Setiap keputusan sudah mengalami pertimbangan yang panjang. Meski diragukan, saya merasa perlu mengapresiasi keputusan ini

banyak kebimbangan yang dilewati via www.pexels.com

Hanya saya yang tahu kegalauan apa yang diri ini alami setiap kali pulang ke rumah dengan tubuh lelah. Hanya saya yang tahu bagaimana akhir pekan menjadi penghiburan yang tak terhitung indahnya setelah lima hari mengalami tekanan. Dan hanya saya yang tahu, berapa lama saya bertanya pada diri sendiri: benarkah keputusan yang saya ambil ini?

Advertisement

Biar saja, orang bilang saya sembrono, gegabah, dan pongah. Satu yang saya tahu, keputusan ini diambil bukan tanpa pertimbangan atupun pergulatan atas segala kebimbangan. Karena itu, saya merasa perlu untuk mengapresiasi diri sendiri. Karena untuk mengantarkan surat resign ke meja atasan, butuh keberanian besar.

Saya memang harus berpikir “Mau apa sekarang?” setiap pagi. Tapi saya juga jadi lebih fokus untuk menentukan apa yang saya ingini

lebih fokus via www.pexels.com

Lalu apakah hidup saya seketika damai-damai saja setelah menjalani farewell party? Jelas tidak. Saya masih harus menjawab pertanyaan maha sulit “what’s next?”. Setelah resign, saya tetap harus segera menentukan langkah selanjutnya. Karena bagaimana pun, menjadi pengangguran terlalu lama bukan tujuan hidup saya.

Namun sekarang, dengan ketiadaan beban deadline pekerjaan dan telepon-telepon atasan yang menagih pekerjaan, saya jadi lebih fokus untuk menentukan mau apa saya setelah ini. Saya bisa browsing-browsing lowker tanpa sembunyi-sembunyi takut ketahuan. Dan saat panggilan interview tiba, saya tak perlu mengarang alasan sakit untuk bisa hadir.

Melepaskan diri dari sesuatu butuh jeda untuk menenangkan diri. “istirahat” dulu di rumah membuat saya bisa berpikir lebih jernih lagi

liburan dulu via www.pexels.com

Apakah saya pernah menyesali keputusan saya? Terkadang, iya. Terutama saat ajakan teman untuk nongkrong dan ngopi berdatangan sementara dompet saya kian tiris setiap hari. Namun satu hal yang saya pahami, sembari mencari-cari peluang baru, adalah waktu bagi saya untuk menenangkan diri.

Mungkin menyempatkan diri berlibur ke tempat-tempat seru yang selama ini cuma jadi janji dalam hati. Atau sekadar pulang ke rumah dan mengganti seluruh waktu dengan keluarga yang sudah hilang. Dengan hal-hal sederhana semacam itu, sudah cukup memberi saya ruang baru untuk bisa berpikir lebih jernih.

Tak punya penghasilan dari pekerjaan yang terpatok 9-17, saya memaksa diri untuk lebih kreatif lagi. Ah, ternyata saya bisa juga begini

Terjepit memaksa untuk kreatif via www.pexels.com

Tentu saya adalah sutradari film jika semuanya berjalan sesuai kemauan saya. Tapi memang tidak. Banyak kenyataan yang tak sejalan dengan rencana. Lamaran kerja yang saya ajukan tak ada kabar. Prospek pekerjaan yang ditawarkan teman ternyata tidak bisa diharapkan. Saya terjebak dalam hidup pengangguran, bangun pagi tanpa rencana, dan tentunya tak punya banyak uang untuk bersenang-senang.

Namun kondisi terjepit ini ternyata bisa memaksa saya melakukan banyak hal yang saya pikir tak bisa lakukan sebelumnya. Saya bisa rajin mencari project freelance untuk menunjang kehidupan. Mengaku tak berbakat berbisnis, ternyata saya bisa juga merintis online shop dengan mengandalkan platform e-commerce. Dan dengan keuangan yang kian tiris itu, saya bisa berhemat dengan sangat ketat. Padahal sebelumnya menghemat 10 ribu sehari pun terasa sangat berat. Ya bagaimana? Horor juga membayangkan tabungan habis sebelum pekerjan baru datang.

Melepaskan apa yang sudah lama menjadi tumpuan memang tidak pernah mudah. Rasa takut salah mengambil keputusan, ataupun penyesalan saat keputusan sudah didapatkan, selalu saja ada. Namun setidaknya saya mengerti bahwa setiap keputusan selalu ada hikmahnya, termasuk berhenti bekerja. Meski orang lain menilai betapa gegabahnya saya, hanya saya yang benar-benar tahu apa yang terjadi di sana kan?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya