“Hey kamu! Iya, kamu yang dulu kuanggap sebagai sahabat sejati…”

Sudah sangat lama kita tidak bertemu. Tak terhitung aku dan kamu kini telah terbentang jarak dan waktu. Tahun demi tahu sudah terlewati hingga hari ini aku memikirkan dan merindukanmu kembali.

Aku mengingat semua yang pernah kita lewati. Tentang momen pahit dan manis yang pernah kita lalui. Dengan segala kurang dan lebihmu, rasanya aku ingin bernostalgia dan menuliskan bait demi bait persahabatan cerita masa lalu.

Dulu kau yang jadi juaranya. Sebagai sahabat, akulah yang selalu berusaha mendampingimu dalam segala suasana.

kau pernah kusebut sebagai sahabat sejati via sarahemily1992.tumblr.com

Kalau kita tidak bersama, entah di saat sekolah atau jalan bersama, berkirim pesan teks sudah jadi kebiasaan. Selalu begitu dan sebagai sahabat tentu kita tak seharusnya keberatan. Tapi, seringkali kau hanya ingin berkeluh kesah tentang kesulitan dan masalahmu.

Advertisement

Sebagai sahabat yang baik, aku berpikir positif saja. Toh seorang sahabat harus selalu ada saat yang lain membutuhkan. Ketika aku meluangkan waktuku, kau pun terbiasa berbicara sepuasmu. Menceritakan semua masalahmu tanpa kau peduli apa yang terjadi padaku.

Lagi-lagi sebagai sahabat, aku memaklumimu. Aku dengarkan semua, sesekali mengiyakan dan memberi saran sebisaku. Tapi sampai kapan aku harus jadi pendengar? Kenapa kau tak pernah mau bertukar tempat denganku? Kenapa selalu aku yang mendengar sedangkan kau yang berbicara sepuasnya?

Persahabatan seharusnya saling memberi. Tapi kenapa selalu aku yang memenuhi apa yang kamu ingini?

bukankah seharusnya sahabat saling memberi? via delightfulcycles.tumblr.com

Aku masih selalu bertahan sebagai sahabatmu yang setia. Sejauh itu, aku nyaman-nyaman saja dengan dirimu. Aku masih bisa menangani segala kurang dan lebihmu. Sekali lagi, aku hanya berusaha memaklumi.

Tapi satu lagi polahmu yang tidak aku mengerti. Kau sering memintaku mengantar dan menjemputmu ke mana pun kau pergi. Aku anggap itu sebagai ajakan bermain bersama dan itu menyenangkan. Lama-kelamaan, frekuensi itu menjadi semakin sering. Aku bertanya-tanya, kenapa kau selalu meminta pertolonganku. Sementara, hal-hal sepele yang kau minta dariku seharusnya bisa kau penuhi sendiri.

Kau pun tak jarang meminjam uang atau meminta dibayari saat makan bersama. Sesekali tentu wajar-wajar saja. Tapi kenapa hampir setiap saat kita bersama kau melakukan hal yang sama? Seringkali aku bertanya-tanya, apa sih yang sebenarnya kau mau dariku? Kenapa aku merasa tidak diperlakukan layaknya sahabat?

Semua pertanyaan akhirnya menemukan muaranya. Kau terbukti tak sebaik yang kukira, meski selama ini aku sudah memberikan terbaik yang aku bisa.

kau tak sebaik yang kukira via favim.com

Di suatu sore, kudengar notifikasi dari telepon selularku. Sebuah pesan singkat dengan nama yang tak asing. Kamu. lagi. Kau menanyakan kabarku tapi dari situ pun aku tahu bahwa kesulitan tengah menderamu. Aku turut sedih mendengarnya dan lagi-lagi aku pun tak keberatan mengulurkan tanganku seketika.

Namun apa yang terjadi setelahnya? Seperti roda, kehidupan terus berbalik dan berputar. Ketika kesulitan kini giliran menderaku, kenapa kau tak gantian membantuku? Padahal, aku masih menganggapmu sebagai sahabat, maka aku tak ragu meminta bantuan padamu. Tapi apa yang terjadi sekarang? Kau bahkan tak berusaha membalas telepon dan menghubungiku. Apa kau tak mengkhawatirkan keadaanku? Apa kau tak mau sekadar memastikan kalau aku baik-baik saja?

Aku sadar kamu bukan sahabat yang sesungguhnya. Aku bodoh karena terlalu berbaik hati dan percaya.

karena aku terlalu memercayaimu via leloveimage.blogspot.com

Aku sendiri pun tak paham kenapa semua ini bisa terjadi padaku. Bahkan, kawan-kawanku yang mendengar kisahku pun hanya dapat menggelangkan kepala seraya berkata,

“Kau cuma dimanfaatkan. Dia itu seperti parasit dan kau tak pernah sadar.”

Aku hanya terdiam dan merenung. Mungkin memang benar kata mereka. Hingga saat ini tak lagi kudengar kabar darimu dari balik telepon selularku dan menyapamu terlebih dahulu saja aku sudah trauma. Kau pernah jadi bagian hidupku, tapi apa yang kau lakukan cukup melukai hatiku.

Ah, tapi sudahlah. Tenanglah, Sahabat! Kini aku tak lagi membencimu. Pun aku telah ikhlas dan memaafkan segala perilakumu. Aku hanya berharap kau kini telah menjadi pribadi yang matang. Darimu, aku belajar banyak hal tentang kehidupan. Aku juga belajar bagaimana seharusnya menjaga sebuah ikatan persahabatan. Satu hal yang aku ingin kau tahu,

“Aku tetap sahabatmu dan mungkin aku sedang merindukanmu…”