Kabar heboh kembali muncul dari Korea Selatan. Tapi kali ini bukan soal film Descendant Of The Sun yang katanya sedang dibuat jilid duanya, bukan juga soal aktor dan artis idola yang nikah diam-diam. Melainkan tentang kondisi politik yang sedang memanas. Presiden Korea Selatan, Park Geun-Hye, dituntut untuk mundur dari jabatan gara-gara ketahuan punya guru spiritual yang sering memberi wejangan masalah resmi negara

Choi Soon-Shil, orang sipil yang disebut oleh Presiden sebagai kawan lama yang membantunya di masa-masa sulit ini dikabarkan sebagai orang di belakang segala keputusan Presiden Park Geun-Hye. Dalam sebuah video yang beredar, diperlihatkan bahwa ajudan presiden bahkan berlutut di hadapan Ms. Choi dan menerima sejumlah perintah. Ms, Choi bahkan punya kuasa untuk menentukan pakaian apa yang dikenakan oleh Presiden Park pada hari-hari tertentu. Sejumlah editan di teks-teks pidato resmi Presiden Park juga ternyata hasil editan dari penasihat spiritual ini.

Zaman dah serba maju, apalagi di Korea Selatan yang serba canggih dan punya internet tercepat di dunia, tetap aja ya jasa guru-guru spiritual tetap laku. Fenomena ini juga tentunya nggak asing di Indonesia. Atau justru di zaman modern ini, ketenangan batin itu makin sulit didapat sampai banyak orang yang putus asa percaya sama ilmu-ilmu ala dukun atau guru spiritual.

1. Sekadar curhat atau bertukar nasihat sih tidak apa-apa, tapi guru spiritual Presiden Korea Selatan ini sampai bisa menyetir kebijakan dan korupsi uang negara. Pantas saja masyarakatnya protes karena merasa dikhianati

Aksi pengunjuk rasa yang mengolok-olok hubungan Presiden Park Geun-Hye dan Choi Soon-Shil via www.pbs.org

Ms. Choi diketahui sebagai putri dari Choi Tae-min, pemimpin sekte religius yang juga punya pengaruh besar dalam hidup Presiden Park di tahun 1970-an. Park Geun-Hye adalah putri dari diktator Korea Selatan, Park Chung Hee (berkuasa 1963-1979). Paska kematian ibunya di tahun 1974, Park sempat memangku jabatan sebagai Ibu Negara. Di saat-saat berkabung inilah, pemimpin sekte Choi mendekati Park dengan iming-iming bisa berkomunikasi dengan mendiang ibunya. Sejak itulah Presiden Korea Selatan ini tampaknya mengandalkan keluarga Choi untuk memberinya ketenangan batin.

Advertisement

Meski ketergantungan Park terhadap sekte religiusnya ini sempat disinggung oleh pihak lawan semasa kampanye presidensial tahun 2012 yang lalu, ketika itu isu tersebut tidak merebak karena Park berjanji bersikap profesional dalam membedakan urusan negara dan privat. Janji tersebut nyatanya diingkari dengan terkuaknya berita ini. Tidak saja berbagi dokumen rahasia, menulis pidato kepresidenan, masalahnya Choi Soon-Shil juga menggunakan kedekatan personalnya dengan Park untuk memperkaya diri. Disamping donasi-donasi besar pada organisasi nirlaba Choi, orang-orang pilihannya juga bisa masuk kabinet dan posisi penting lain dalam pemerintahan.

2. Bukan hanya di Korea, fenomena guru spiritual ini menjadi hal yang biasa di Indonesia. Mulai orang dewasa, artis, hingga pejabat tinggi semua mengaku memiliki guru spiritualnya sendiri-sendiri

Di Indonesia pun guru spiritual adalah fenomena yang biasa via contemplativejournal.com

Sebagai netizen Indonesia, kita pastinya sudah tidak asing lagi dengan sebutan guru spiritual atau penasihat spiritual. Mengaku sebagai bangsa yang religius, fenomena guru spiritual adalah hal yang biasa terjadi di antara kita. Deretan artis-artis hingga pejabat-pejabat tinggi mengaku memiliki sosok guru spiritual dalam bidang mendalami agama ataupun untuk tempat konsultasi mengenai berbagai persoalan kehidupan. Mantan Presiden Soeharto bahkan dikabarkan memiliki 50 guru spiritual, salah satunya adalah Soedjono Hoemardani yang juga merangkap sebagai penasihat negara.

2. Guru spiritual berubah menjadi profesi bergengsi. Bila awalnya menjadi pembimbing agama, kini menjadi pembimbing segala-galanya. Termasuk karir dan asmara

Guru spiritual terkenal di kalangan artis via news.hargatop.com

Istilah guru spiritual nampaknya selalu mengalami pergeseran makna. Di masa-masa awal Indonesia, guru spiritual identik dengan sosok yang punya kemampuan lebih, dalam istilah jawa dikenal sebagai orang punya mata hati tajam sehingga bisa mengetahui apa yang tidak terlihat oleh orang awam.

Konsep inilah yang dipakai pada masa Pak Harto. Lantas guru spiritual berubah menjadi pemuka agama, ustadz dan ustadzah, yang membimbing soal agama. Namun di hari-hari terakhir ini, istilah guru spiritual begitu seringnya muncul di televisi bersama artis-artis ataupun pejabat. Guru spiritual berubah menjadi semacam profesi, dan yang diurusi tidak lagi hanya soal tuntunan agama, melainkan juga menjadi ‘tempat curhat’ segala urusan manusia, termasuk karir, uang, jabatan, dan asmara.

3. Sayangnya, beberapa bimbingan spiritual berubah menjadi kasus yang meresahkan. Dulu Eyang Subur, kini Dimas Kanjeng menuai banyak pro dan kontra

Banyak guru spiritual yang akhirnya terlibat aksi kejahatan via www.jawapos.com

Seorang guru spiritual tentunya diharapkan untuk menebar ajakan tentang kebaikan dan kebajikan. Sosok yang dicari seseorang saat membutuhkan pencerahan, serta memberikan bimbingan untuk menjadi seorang penganut agama yang benar. Namun agaknya, beberapa dari guru spiritual berubah menjadi kasus-kasus penipuan yang meresahkan.

Kita tentu masih ingat perseteruan antara Arya Wiguna dan Adi Bing Slamet dengan Eyang Subur. Lalu kasus Aa Gatot Brajamusti, guru spiritual banyak artis yang belakangan terlibat kasus narkoba dan terbukti sering melakukan pelecehan seksual kepada muridnya. Yang terakhir, tentu kita masih diselubungi penasaran pada kasus Dimas Kanjeng, kiai yang konon bisa menggandakan uang. Meski pasti ada guru spiritual yang memang tulus mengajak kepada kebaikan, namun guru spiritual palsu semacam ini tentu mencoreng harapan banyak orang.

4. Kebanyakan orang membutuhkan guru spiritual dengan alasan untuk mencari ketenangan. Namun rasa tenang itu, muncul dari dalam. Hanya kamu yang bisa menenangkan diri sendiri

Mereka yang mencari guru spiritual sebenarnya sedang mencari kenyamanan via lancepriceblog.wordpress.com

Lalu apa yang membuat seseorang membutuhkan sosok guru spiritual? Menilik dari banyaknya orang dari kalangan artis yang memiliki sosok guru spiritual, tentu saja kita sudah bisa menebak. Jagad hiburan yang serba gemerlap, atau dunia politik yang penuh gegap gempita, barangkali membuat mereka mendambakan ketenangan. Karena itulah mereka membutuhkan sosok yang bisa ditanyai, dimintai pendapat, sekaligus pembimbing ke arah hal-hal positif yang bisa mendatangkan kebaikan.

Ketenangan jiwa barangkali lebih mahal harganya daripada apapun di dunia ini. Akan tetapi, rasa tenang itu munculnya dari diri sendiri. Ketenangan tidak bisa dicari diluar, melainkan harus dimunculkan dari dalam. Kita boleh saja bertanya atau meminta nasihat kepada orang lain yang dianggap lebih mumpuni. Namun tanpa guru spiritual pun, sebenarnya kamu bisa menenangkan dirimu sendiri.

5. Hati yang gamang terkadang memang membutuhkan sebuah pegangan dan sokongan. Namun sebagai manusia, kita memang harus bertanggung jawab atas diri sendiri

Hati yang gamang sering membutuhkan tuntunan via periloushope.tumblr.com

Di kala hati sedang gamang, ketika dihadapkan pada situasi yang kritis sehingga kita diwajibkan untuk memilih, saat pikiran begitu gundah, tidak tahu apa yang harus dilakukan, sosok bijak yang memberikan pemikiran-pemikiran positif tentu sangat membantu. Tentu ada juga orang yang merasa perlu memiliki guru spiritual untuk membekingi setiap keputusan dan langkah hidupnya, sebab dirinya tidak cukup mempercayai diri sendiri untuk membuat keputusan-keputusan penting.

Dukungan dan sokongan dari luar ini barangkali mendatangkan rasa tenang, rasa aman, karena ada orang lain yang turut memikirkan apa yang harus dilakukannya. Namun sebagai manusia, kita lahir sendiri dan mati juga sendiri. Hidup kita, adalah tanggung jawab kita sendiri. Karenanya kita harus belajar untuk membuat keputusan sendiri.

6. Meminta pendapat dan nasihat kepada orang bisa memberikan kita banyak perspektif baru untuk bahan pertimbangan. Namun kontrol terakhirnya tetaplah dirimu sendiri

Bahaya banget nggak sih kalau keputusan negara diatur sama dukun via www.japantimes.co.jp

Dalam kasus Presiden Park ini, publik menilai bahwa pengaruh Ms. Choi terlampau kuat, sehingga Sang Presiden sekadar menjadi boneka saja. Namun bila melihat dari sisi Presiden Park, barangkali akan menjadi masuk akal. Sebab beban sebagai Presiden yang bertanggung jawab atas jutaan rakyatnya, membuat Presiden Park membutuhkan sosok bijak yang bisa membantunya berpikir dan membuat keputusan-keputusan untuk negara. Bagi seorang presiden, mengambil keputusan tentu tak semudah saat kita bingung mau naik ojek atau angkot saja agar hemat.

Bertanya kepada orang lain, mendengarkan masukan dari orang yang lebih ahli, mengumpulkan sebanyak mungkin pandangan memang sangat diperlukan. Dengan begitu, bahan pertimbangan kita menjadi kaya. Kita boleh curhat dan minta pendapat teman-teman tentang sebuah masalah. Namun kita juga dikarunia akal dan pikiran, sehingga pada akhirnya, kita sendiri yang harus memproses seluruh pertimbangan berdasarkan rasio dan logika, untuk membuat keputusan yang tepat. Ketika seluruh keputusan tentang hidup kita serahkan pada seseorang yang kita percaya tanpa tanya, sama artinya kita menyerahkan hidup ini padanya. Masa iya, kita rela?

7. Agama tidak sama dengan spiritualitas. Sebagai ilmu, agama memang harus dipelajari. Spiritualitas bisa dicari, pertama-tama, dengan mengenali diri sendiri

Spiritual tidak identik dengan agama via cjlaroza.tumblr.com

Sebagian besar orang menyamakan begitu saja spiritualitas dan agama. Agama itu spiritual, dan yang spiritual itu ya agama. Padahal dua hal ini sangat berbeda. Agama punya seperangkat aturan yang harus ditaati. Sementara spiritualitas tidak. Agama mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya meliputi ibadah ataupun bagaimana bersikap kepada sesama manusia.

Sementara spiritualitas adalah hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri. Namun nantinya, sisi spiritualitas ini akan menentukan juga bagaimana kita memandang alam, teman, pasangan, dan hal-hal duniawi. Agama sebagai sebuah ilmu dan tuntunan memang wajib dipelajari, dan dalam proses ini, wajar bila kita membutuhkan seorang pembimbing.

8. Setiap orang memiliki sisi spiritual masing-masing. Hal ini adalah momen privat yang tidak bisa dibagi, apalagi distandarkan

Dalam diri manusia ada sisi spiritual masing-masing. Tinggal diasah saja via blog.bucketlistly.com

Karena pengalaman spiritual hanya bisa dialami sendiri, maka setiap orang memiliki sisi spiritualitasnya masing-masing. Tentu kita tidak bisa mematok pengalaman spiritual berdasarkan pengalaman orang lain. Karena apa yang spiritual bagi seseorang, belum tentu sama untuk orang lain. Dalam diri kita ada ruang suci yang disebut nurani. Dalam diri juga ada sisi romantis yang bisa membuatmu lebih peka.

Sebelum kita mencari dari luar, ada baiknya kita melongok ke dalam diri sendiri dahulu. Caranya, tentu dengan mengenali dan memahami diri sendiri dulu. Sebab, bagaimana sisi spiritualitas orang lain bisa saja dijadikan motivasi ataupun inspirasi, namun selanjutnya, tergantung diri sendiri. Seperti Yoga yang menjadi salah satu cara meditasi, instruktur hanya membantumu dalam hal cara, namun kamu sendiri yang bisa menenangkan pikiranmu.

Setiap orang memiliki cara sendiri-sendiri untuk menemukan sisi spiritualitas diri. Dari sini kita akan menemukan ketenangan yang kita damba-dambakan itu. Mencari melalui guru-guru spiritual boleh saja, asalkan kita tidak melupakan bahwa spiritual itu datangnya dari dalam diri. Jangan sampai demi merasa tenang, kamu rela dibodohi orang lain. Terlebih lagi sampai kamu tak sadar sedang ditipu oleh orang.