Mencintai adalah perjuangan sekaligus kejutan. Saat kita tidak pernah merencanakan untuk menjatuhkan hati pada seseorang. Justru entah bagaimana kesempatan datang tanpa punya tanda, menyepakatkan waktu dan jarak untuk bekerja sama mengukir sebuah temu.

Temu yang terjadi pada akhirnya menimbulkan suka walau rasa itu mungkin masih samar. Sampai keingintahuan mengantar jiwa untuk menyelidiki siapa sosok yang berhasil menggetarkan hati pada detik kesekian setelah menatapnya dengan lekat. Hal ini membuat rasa yang awalnya remang, seiring berjalannya waktu bermetamorfosa semakin kuat. Persis yang kurasakan.

Advertisement

Cinta tak pernah peduli caranya hadir menyentuh hati.

Kala itu, bersama hanyalah angan. Kau malah memilih jalan yang bersimpangan. Tidak sedikitpun terlihat bahwa kau memberi peluang untukku bisa seiring bersama langkahmu. Kita benar-benar berbeda. Sempat terlintas di pikiran untuk mengejarmu meski tertatih. Tapi luka sebelum memilikimu itu cukup memintaku agar lebih bijaksana menerima keputusan orang lain. Bukan berarti aku tak mampu berusaha, bukannya aku gampang putus asa.

Kubiarkan kakimu menjejak ke antah berantah, sementara aku juga berlalu dengan segenap malu. Mungkin kamu sudah membuang semua kisah singkat kita. Kau masih menjauh dengan caramu disamping aku sudah lelah dan tersungkur. Tidak apa, itu semua adalah hakmu. Mungkin ini sudah masanya aku harus berhenti, melupakan setiap semoga supaya cinta yang tadi mati.

Advertisement

Namun, ada sesuatu yang kita tak sadari: bumi itu bulat. Maknanya, nanti di satu titik tertentu, mereka yang bergerak saling memunggung pasti akan bersua lagi. Dan seperti demikianlah yang terjadi pada kita. Barangkali semesta telah merencanakan sebagaimana mestinya.

Luka kadang menjadi awal dalam meniti kisah yang lebih bermakna.

Sungguh pertemuan kali ini benar-benar tidak terduga. Berkat salah paham. Tapi berujung bahagia. Aku betul-betul tidak pernah menyangka bakalan sedekat ini denganmu setelah jutaan detik terbuang. Waktu yang ada sekarang tidak kita sia-siakan begitu saja. Kita memanfaatkan kebersamaan ini dengan begitu baik, mulai dari menyusuri jalan, makan bareng, hingga bercakap untuk lebih saling mengenal satu sama lain.

Dalam sekejap, perasaan yang dulu sebatas mimpi telah kembali dan harus diakhiri dengan kenyataan. Sebuah kenyataan yang menyatakan bahwa aku dan kamu sudah bersatu membentuk kita. Memulai kisah tentang kasih.

Aku pelan-pelan memutar balik segala rasa yang dahulu. Rupanya kesabaran telah menghasilkan kejutan amat berharga. Sayang yang dulunya sepihak, kini juga memihak. Kita mencintai satu sama lain.

Sebagai sepasang kekasih, kita bersama-sama saling memahami dan menghargai hidup yang masing-masing kita miliki. Sebab hidup yang berjalan tidak hanya soal aku dan kamu, kita masih punya kewajiban dan tanggung jawab lain. Ada keluarga, pekerjaan, dan lingkungan pertemanan yang perlu diperhatikan juga. Kita sama sekali tidak pernah menganggapnya sebagai penghalang rindu. Kadang kita selalu berupaya untuk bertaruh demi mewujudkan kedekatan dan membunuh ruang yang memberi jauh. Kita tidak pernah mengeluh perihal kesibukan yang telah kita jalani seharian, lelah tidak menutup celah dalam membentuk kontak fisik.

Meski perjumpaan cukup sering terlahir, tetapi tak sedikitpun didera jenuh. Malah kau dan aku sama-sama saling merangkul demi menjaga semangat untuk bertahan mengukir hari yang lebih indah di masa depan, dengan segenap perjuangan.

Rindu ada sebagai renungan bahwa kita perlu menghargai waktu yang memperjelas seberapa besar tensi perasaan. Temu kemudian akan menjadi lebih bernilai.

Perasaan yang bersemayam dalam lubuk hati selalu berupaya berkembang. Caramu mencintaiku berbeda dengan caraku mencintaimu. Ini bukan perkara yang rumit. Di sini hati hanya perlu saling mengerti. Lalu itulah yang membuat setiap saat di sisimu, aku pasti merasa menjadi orang paling beruntung dan gembira. Berada di dekatmu selalu menghadirkan kenyamanan yang sangat berarti. Sehingga aku tak pernah merasa takut terhadap apa pun, selain kehilanganmu.

Betapa aku sungguh amat menyayangimu dengan tulus dan sebaik-baiknya. Saking kuatnya, aku memilih untuk menutup setiap kemungkinan yang bisa saja terjadi apabila menemui orang-orang baru atau mereka yang mampu mengusik cinta di antara kita. Walaupun sempat yang kita lakukan berbeda dengan suatu alibi tertentu, namun berkat doa-doa yang kulangitkan, kau akhirnya lebih menetapkan untuk fokus padaku.

Hari-hari kita semakin hangat. Kita secara beriringan acap kali bertarung pada masa agar menumpas jarak yang membuat rindu tercekat. Kita bersama-sama terus memberikan cinta terbaik. Berharap supaya kita tidak akan menjadi sejarah yang akan dikenang sebagai kisah yang lalu.

Tanpa alasan adalah alasan paling baik untuk mencintaimu dengan tulus.

Terdapat satu alasan sebab aku mencintaimu, yaitu tanpa alasan. Aku tidak pernah mencintai karena hal-hal yang aku pikir bisa lenyap begitu saja. Aku tidak mencintaimu karena rupa, sebab bila dimakan usia, tampangmu pasti akan berubah. Aku pun tak menyayangimu karena hartamu, toh aku sungkan meminta kepada siapapun, aku lebih senang bekerja keras sendiri untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Kemudian aku juga tidak mengasihimu atas dasar pola pikir dan sikapmu yang terlihat luar biasa, sebab manusia bisa berlaku salah dan khilaf. Maka, terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang kau punya, aku tetap mencintaimu, menerimamu dengan segenap ketulusan hati yang kupunya. Yang jelas sekalian itu sekadar nilai tambah dan aku sudah terlanjur merasa cocok dan nyaman bersama dunia kita.

Pilihanku tetap kamu. Jangan sampai kau merasa kalah. Ingat, meski warasku setuju bahwa di luar sana masih banyak yang lebih baik, cuma bagiku kaulah yang terbaik. Mencari yang lebih baik justru semata-mata pembelaan diri atas rasa tidak puas terhadap yang dimiliki. Alasan semacam itu tidak akan pernah ada habisnya. Terkadang manusia memang serakah. Tapi aku hanya butuh banyak-banyak bersyukur demi melindungi cinta ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya