Diam bukan berarti bungkam. Jika aku diam, bukan berarti apatis dalam segala hal. Banyak yang terpikirkan, namun memendam suatu pikiran adalah sebuah pilihan. Tidak semua hal yang ada dalam pikiran harus diungkapkan.


Jika selama ini namamu tidak pernah aku tulis dalam caption maupun status medsosku, bukan berarti namamu sama sekali tidak ada dalam hatiku. Jika aku tidak pernah mengunggah fotomu, bukan berarti kamu bukan sahabatku. Jika aku tidak pernah mengabarkan kepada khalayak ramai tentang persahabatan kita, atau tak ku abadikan momen termanis kita, bukan berarti momen itu terlewat begitu saja.


Advertisement

Aku memang tidak seromantis kawan lain yang mengucapkan selamat atas bertumbuhnya usia, keberhasilan, dan segala pencapaianmu. Tapi trust me, hatiku bergemuruh ikut merasakan bahagiamu. Mataku hampir membasah melihat kawan yang setiap malam atau pagi menceritakan perjuangan menyebalkan dan melelahkannya, serta tak bosan memintaku mendoakannya kini sudah mencapai apa yang menjadi tujuannya.

Atau pun kawan yang masih dengan cerita perjuangannya sering mencuri-curi waktu untuk bercerita kepadaku. Atau juga kawan yang hanya memperlihatkan melalui sorot mata tanpa pernah bercerita. Kita tidak perlu pernah makan bersama, ngafe bareng, nonton, keluar kemana saja, atau bercengkrama lama untuk menjadi seorang sahabat. Cukup saling mengenal dan menyapa di dunia maya maupun nyata kita sudah menjalin ikatan persahabatan.


Pertemanan kita tidak dinilai seberapa jauh kita main bareng, seberapa sering kita pergi ke cafe, dan seberapa sering kita makan gorengan bareng di tanggal tua.


Advertisement

Percayalah, aku selalu belajar untuk tidak membicarakanmu dengan penduduk bumi, tapi tanpa kamu ketahui aku begitu ribut membicarakanmu bersama penduduk langit. Bukankah kamu tahu, doa yang digaungkan diam-diam akan lebih dihijabah oleh Maha Penggenggam doa?

Persahabatan kita terlalu manis jika sebatas ditulis dengan caption yang tenggelam di linimasa. Persahabatan kita terlalu berarti jika hanya dilukis dengan foto yang bisa tertelan tumpukan foto di kartu memori. Persahabatan kita terlalu istimewa jika hanya dibicarakan kepada sesama manusia.

Aku menyayangimu dengan caraku sendiri, bukan dengan cara orang lain mengikuti zamannya. Biarkan persahabatan kita sewajarnya saja agar tidak ada yang kecewa jika ada prasangka. Aku takut yang berlebihan justru yang meninggalkan luka. Biarlah begini saja, aku tak meninggalkan janji. Hanya sepenggal doa yang siap mengantri rapi di langit yang selalu menjaga kita. Dan semoga kita tidak hanya bersahabat di dunia, tapi sampai ke Jannah-Nya.


Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis: “Jika kalian tidak menemukan aku nanti di Surga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang aku."


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya