Sore ini tak sama seperti kemarin. Kau duduk disampingku menemani bagian terakhir pada hari yang melelahkan. Bercerita tentang putri dan pangeran. Tak diubah. Sejak aku baru bisa mengenal bahasa. Kau selalu melakukannya. Dan ibu selalu menemani kita. Menyiram bunga kamboja yang ada didepan teras rumah. Ikut tertawa bersama kami karena ekspresimu yang lucu menirukan suara seorang putri. Meski ini selalu kau lakukan setiap hari.

Kau cinta pertamaku, kau bagai pangeran yang selalu kau ceritakan. Selalu membahagiakan putri, menjaganya, menghiburnya disetiap dia bersedih dan mengawasinya. Aku dan ibu adalah putri yang sangat dicintai pangeran dalam ceritamu. Tapi aku sadar hidup tak sesederhana itu dan cinta tak serumit definisimu.

Advertisement

Ketika aku beranjak remaja, kau jarang bercerita lagi. Dan kau jarang pulang kerumah. Ibu bilang kau sedang mencari cerita yang baru dan akan menceritakannya lagi padaku. Ditempat dimana ada seorang putri dan pangeran yang baru. Alur cerita yang baru, juga perjuangan pangeran menjaga putri yang tidak sama seperti yang dulu kau ceritakan padaku.


Lalu ibu yang menggantikan posisimu dikursi yang dulu hangat oleh tubuhmu. Tapi ceritanya berbeda, ibu mungkin lebih menyukai cerita tentang sebuah alam khayal. Dimana seorang putri yang hidup sendiri dengan ditemani burung elang.


Putri yang bisa menciptakan es dari tangannya dan akan membekukan hati siapa saja yang menyakiti burung elang. Cerita ibu tak berulang–ulang seperti ceritamu. Ibu lebih pintar. Setiap sore, ibu mempunyai cerita baru tentang petualangan putri dan burung elang yang selalu menemaninya. Dan cerita ibu berakhir disaat putri membekukan hatinya sendiri dan pergi menghilang, karena dia tak mau burung selalu mengikutinya. Sang putri ingin burung itu bisa terbang bebas, memburu mangsa sendiri dengan cakarnya, melihat dunia yang lebih luas jika dilihat dari atas dan putri ingin burung elang itu menemui pasangannya suatu saat.

Advertisement

Hingga hari ini, cerita ibu masih dapat kulihat dalam duniaku. Disetiap sore aku selalu duduk didepan teras walau kau dan ibu tak lagi menemaniku. Melihat burung burung dilangit pulang mengikuti arah angin dan mungkin ibu juga ikut terbang mengikuti mereka.

Kau pun akhirnya pulang untuk menetap sejenak. Membasahi kerinduanku tentang suaramu dalam bercerita. Tak seperti dulu, meninggalkan aku dan ibu untuk mencari cerita. Satu hari menemaniku lagi bercerita di depan teras. Tanpa ada yang lagi menyirami bunga kamboja yang telah mati. Karena sudah lama hujan tak turun dan ibu tak lagi merawatnya dengan cinta. Kali ini giliran ibu yang pergi, tapi bukan untuk mencari cerita. Ibu tak akan pulang untuk bercerita ataupun memelihara bunga kamboja.

Ternyata ceritamu tak berubah, sama seperti dulu ketika kita mengisi sore hari dengan cerita darimu. Aku tak mengerti mengapa ibu memahamiku jika kau mencari cerita baru. Atau kau mungkin tak mendapatkan cerita baru tentang pangeran dan putri. Kau terlalu lelah. Kau pun pulang menyerah dengan perjalananmu tanpa cerita. Apapun itu, aku senang kau kembali.

Tak beberapa lama sesosok wanita keluar dari mobilmu. Tersenyum manis ke arahmu tanpa melihatku. Lalu seorang anak kecil melompat dan berlari ke arahmu. Memanggilmu ayah. Memelukmu dan meminta untuk bercerita. Seperti yang aku lakukan dulu, berlari memelukmu yang duduk di kursi teras. Menyandarkan tubuhku ke dadamu dan merengek untuk diceritakan putri dan pangeran sambil menatap langit yang mulai menguning karena senja.

Aku diam. Aku memandangmu dengan penuh kenangan. Tanganku bergetar. Mungkin ibu benar, kau telah menemukan cerita baru tentang putri dan pangeran. Karena cerita yang dulu sudah membosankan bagimu.


“Ayu, salim ke ibumu. Terus ini Angga, adikmu .” Kau beranjak dari kursi menyejajari mereka yang berdiri di depan ku, menutupi bunga kamboja yang dulu selalu ibu rawat.


Ayah, ternyata ada dua orang memanggilmu seperti itu. Aku dan anak kecil itu. Mataku tak bisa melihatmu lebih lama. Terlalu banyak kebahagiaan bagimu ditengah kesedihan saat ini. Aku menangis ayah. Aku menangis didepanmu, yang tak pernah kulakukan. Apa mungkin aku dan ibu tak bisa menjadi putri seperti yang ada di ceritamu. Lalu kau pergi mencari cerita lain, menemukan seorang putri dan pangeran kecil.

Aku tahu kau merasakan air mataku yang telah membuatmu bersalah. Tapi kau masih teguh dan merasa benar dengan egomu untuk memilh jalan yang telah terjadi. Tanpa ada yang ku ketahui, kecuali ibu. Wanita disebelahmu hanya menatapku kasihan yang memelas. Dia bukanlah siapa siapa bagiku, tak mungkin dia bisa mengerti. Begitu pula pangeran kecil dalam ceritamu kini, dia sangat asing bagiku untuk kupanggil adik.

###

Tak mungkin aku harus terbayang dengan cerita sedih yang telah kau buat untukku. Biarkan aku terus mengisi sore diteras rumah dengan cerita yang ku buat sendiri, tapi terkadang aku juga ingin mengulang cerita darimu dulu dan cerita ibu. Tentang seorang putri dan pangeran juga putri dan burung elang. Biarkan aku akan terus mengingat hangatnya pelukan mu, walau sekarang kau mungkin tak ingat bagaimana caranya memeluk. Karena kau sudah lupa tentang apa itu kasih sayang. Atau kau sudah lupa untuk membaginya. Antara aku, ibu, dan cerita barumu.

Ayah, tapi aku tak akan membencimu dan aku tak akan bisa. Kau cukup berarti menghiburku disaat kecil. Meski sekarang kau pergi dengan orang lain yang selalu memintamu diceritakan sebuah cerita petualangan yang lebih seru. Aku tak keberatan, aku sangat berterimakasih kau telah memberikan tamparan bahwa semua tak akan selalu berjalan dengan apa yang diinginkan.


Ayah, aku mengisi kursimu dan akan melanjutkan bercerita untuk anakku. Aku tak mau bayangmu terhapus oleh waktu dikursi ini. Aku juga menanam bunga kamboja di depan teras, seperti yang ibu lakukan. Anakku suka dengan ceritaku, tapi terkadang aku juga menceritakan ceritamu lalu besoknya cerita ibu. Dia juga suka bertanya tentangmu dan ibu.


Dia ingin bertemu denganmu, karena dia penasaran dengan ekspresimu menirukan suara putri yang selalu membuatku dan ibu tertawa. Sayang, aku tak mau merusak ceritamu yang telah kau cari setelah pergi meninggalkan rumah ini. Aku tak akan mencarimu lagi. Aku biarkan kau terbang bebas seperti burung elang dalam cerita ibu. Tapi kau tetap menjadi pangeran bagiku.

Aku bahagia mengenalmu, aku bahagia pernah menjadi bagian hidupmu. Seorang putri yang selalu dijaga, dihibur ketika sedih, dan diawasi oleh pangeran. Aku yang sempat menjadi keajaiban dalam sejarahmu. Sebuah keajaiban yang membuatmu menjadi ayah. Walau saat ini aku tergantikan oleh waktu yang menggodamu untuk bosan. Sebuah bintang yang bersinar dibalik rahasiamu dengan ibu. Hingga bintangmu jatuh.

Kau mungkin masih bercerita ditempat yang bisa membuatmu lebih bahagia. Tapi aku yakin, kau masih punya cerita untukku, untuk mengenang sehari saja. Tentang sore hari dimana kau bercerita dan ibu menyiram bunga kamboja. Tapi wanita dan pangeranmu selalu menuntutmu melupakan cerita lamamu.


Ayah. Kau telah menjadi saksi bisuku tumbuh menjadi putri yang kuat. Yang akan menjaga ceritaku tanpa harus mencari cerita baru sepertimu. Karena aku tak mau, pangeran kecilku menangis dalam diam seperti bekunya hatiku tentang keberadaan seorang ayah


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya