“Sama hal nya dengan permen dan cokelat. Di awal kita terlena dengan manis dan aromanya, namun ujungnya berakhir dengan luka memar di lingkaran gusi. Cinta pun tak jauh berbeda dengan permen dan cokelat, hanya indah di awal saja kemudian menggoreskan bekas luka yang permanen”


Kehilangan dirimu di saat rasa sayang sudah benar-benar mencapai titik kulminasi tertinggi di relung dada. Engkau pergi tanpa bukti, di saat aku telah lelah menanti di ujung jalan yang telah kita sepakati.

Advertisement

Janji telah kau khianati, hingga hatiku tersakiti tujuh lapisan epidermis. Janji yang dulu pernah teruntai, tak terbukti. Mimpi hanya sebatas imajinasi. Aku yang tersengal-sengal membangun mimpi, kau sendiri yang malah pergi tanpa permisi.

Kita terbelah. Genggaman tangan yang dulu kita ikat begitu erat, harus terputus di tengah jalan saat kau diam-diam pergi tanpa keputusan pasti. Menghilang tanpa tanda dan alasan. Kita berjalan berlawan arah. Melangkah menuju jalan masing-masing. Dulu yang selalu bergandengan tangan memintai mimpi bersama, sudah tak sudi bersua kembali.

Entah siapa yang salah, aku pikir kita berdua sudah sama-sama dewasa untuk menyikapi ego masing-masing. Namun ternyata, kita berdua terkalahkan oleh ego masing-masing.

Advertisement

Kita lupa bahwa dulu seharusnya kita tak hanya fokus pada penyatuan cinta semata, namun ego pun ternyata harus di luruskan. Agar tak berbeda arah. Namun apa daya, luka sudah telanjur membekas. Tangan kita sudah telanjur melepas. Ludah yang telah menempel di tanah, tak mungkin dijilat kembali.

Mungkinkah jarak mampu menuai kekosongan di dada? Atau justru menghamburkan semua mimpi menjadi biasa saja? Yang seharusnya terjadi kita saling kembali, atau bisa jadi kita benar-benar menyudahi. Semua rasa telah berubah menjadi abu-abu. Tanpa ketahuan mana rasa dan asa.

Aku resah bercampur gelisah melawan takdir cinta yang telah diberikan ilahi. Katanya, ini adalah hal yang lumrah. Kisah cinta tak selamanya indah. Namun apakah harus selalu seperti ini?

Kepahitan yang harus dikunyah sudah di berada di luar kemampuan diri. Sakit yang di relung hati sudah tak mampu lagi dibantah. Aku sudah terseok-seok mengarungi cinta yang aku sendiri tak tahu akan berakhir seperti apa.

Izinkan aku menangis. Hati yang sudah teriris berlapis-lapis sudah tak mampu lagi membendung tangis. Manusia memang harus kuat, namun adakalanya Ia memang harus menyerah kepada takdir yang tak mampu dilawan, dan menangis adalah caranya.

Menangis adalah tanda bahwa kita memang tak punya apa-apa dibandingkan kuasa Tuhan. Biar malam yang menepis segala kegelisahan di dada. Benar kata orang, bahwa tak selamanya angin itu datang menyejukkan. Faktanya, ada debu dan kerikil yang menghantam dada hingga memar.

Semua cerita sudah terjadi. Walau sakit, tak akan ada satu pun memori yang akan terhapus. Biarkan semua kesedihan menjadi pelajaran hidup yang berharga untuk tidak mengulang menyakiti dan disakiti. Cerita kesedihan biar jadi penguat untuk yang senasib. Jadi pengingat untuk yang sehat, agar bisa menghindari luka di kemudian hari.

Aku tahu kita berdua sengsara. Raga ingin bebas namun apa daya hati ini terpenjara. Isi kepala berputar kesana-kemari namun mulut masih enggan bersuara. Aku sungguh kebingungan menghadapi hari. Berdiam muram, berlari juga tetap sendiri. Aku sudah setengah menyerah, ku bilang setengahnya lagi masih mengadah.

Mengharap kepada sesama insan memang tak akan pernah selalu berakhir bahagia. Hidup memang tak selalu satu sisi. Tuhan punya rencana dari setiap bab kehidupan. Yang jelas, pena tuhan tidak akan pernah salah dalam menciptakan takdir.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya