Ini ceritaku, cerita ku untuk bangkit dari mimpi buruk ini. Bukan, ini bukan mimpi. Aku telah terbangun di setiap paginya, tapi keadaannya tetap sama. Ada mendung yang tak mau hilang, awan hitam itu masih di hatiku. Sesak jiwaku, sesak dadaku. Aku menjalani hari di mana waktu seakan tak berdenting, aku tersesat di jalan yang ku pilih. Aku masih menunggu dalam doa, menunggu masa menggiringku untuk bangun. Tapi aku sungguh takut; ini bukanlah mimpi.

***

4 bulan lalu.

Hari ini terulang lagi. Laki-laki yang sama sekali tidak ku kenal meninggalkan rumah dengan wajah murka setelah puas menghancurkan beberapa gelas saat sedang makan pagi, hanya karena dia tidak mendapatkan uang di rumah. Untung saja tak ada bagian tubuhku yang membiru kali ini. Mungkin dia lupa, atau hati dia membaik hari ini. Ah, tunggu! Apa masih ada yang namanya hati padanya? Entahlah.

Ku rapikan kembali semua yang telah dia buat berantakan. Ya, aku bisa membuat semuanya rapi kembali, dan dengan mudah membuang barang-barang yang telah dia hancurkan. Namun, ada sekeping hati yang remuk jauh di dalam diriku, yang berhasil dia hancurkan bahkan menjadi kepingan yang paling kecil, yang tak bisa aku bereskan kembali.

Advertisement

Sungguh tak pernah sanggup ku tata lagi, andai juga bisa ku buang. Lihat saja, tak ada setetes air matapun yang keluar dari pelipis mataku. Mataku hanya memerah, mengobarkan kekecewaan yang berangsur menjadi kemarahan. Andai waktu dapat ku putar kembali, akankah mungkin ku tepikan rasa yang terlanjur tumbuh, atau bahkan ku bunuh sama sekali, dan tak ada yang namanya pernikahan?

***

Aku menuju kamarku, ku tatap lekat seorang bayi yang tertidur pulas diatas kasur. Ku tilik setiap inci wajahnya, persis dengan wajah laki-laki itu: hidungnya mancung, dan dagunya sungguh sama. Hanya saja dia mengikuti kulitku yang sedikit gelap.

Advertisement

Ah, tiba-tiba bening itu luruh juga. Air mataku menetes, hatiku perih. "Begini nasibmu, nak? Maafkan ibu memilih dia untuk jadi ayahmu."

“Nisa! Abang pinjam cincin emasmu saja, akan abang ganti!”

Tiba-tiba, laki-laki itu kembali lagi. Tak puas rupanya dia menghancurkan semua barang, dan kembali meminta satu-satunya simpananku. Tak cukup rupanya menguras isi rumah, tak cukup rupanya menghabiskan semua simpanan uangku. Cepat ku seka air mataku, aku mengajaknya ke ruang tamu; takut Aisyah terjaga.

***

“Tolong jangan yang ini, Bang. Sudah cukup kamu habiskan semua."

Tangannya dengan cepat menarikku hingga jatuh ke pelukannya. Aku yang sadar apa yang dia inginkan memegang erat jari manisku. Tapi sia-sia, dia menarik cincin di tanganku dan meninggalkanku dalam keadaan tak berdaya. Lututku tak mampu menopang badanku, apalagi untuk mengejarnya. Aku hanya mampu menepuk-nepuk lantai, mengurai kemurkaanku.

***

2 hari kemudian.

Aisyah menangis. Sudah berbagai macam cara yang ku tahu untuk membuatnya diam, tapi masih saja dia menangis. Aku bimbang, tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba, seorang mengetuk pintu, dan mengucapkan salam dari balik pintu. Aku keluar membuka pintu dengan Aisyah di gendonganku. Oh, bapak yang punya kontrakan ternyata…

“Ada apa, Pak? Bukankah kontrakan selalu dibayar?"

“Kontrakan sudah 5 bulan nggak dibayar 'kan, Dik? Kemarin sudah bapak peringatkan ternyata tidak ada respon. Tolong besok harus kosong, ya. Besok ada yang mau kontrak,” kata bapak itu seraya meninggalkanku.

Bagai petir menyambarku, aku terdiam kehabisan kata. Tangisanku buncah, tangisan Aisyah pun semakin menjadi. Kami bagaikan ibu beranak yang ditinggal mati bapaknya. Sungguh pilu!

***

Esoknya aku menuju kamar dan langsung membungkus pakaianku. Tidak ada yang bisa ku tunggu lagi di sini, tidak ada yang bisa membuatku bertahan lagi di sini. Tidak juga laki-laki itu. Aku tidak menunggu lagi laki-laki itu pulang, mungkin dia sedang berbahagia dengan teman-temannya; ditemani dengan barang haram sabu itu atau bahkan ditemani dengan teman-teman perempuan untuk melengkapi Surga dunianya.

Aku beranjak, pun ku meninggalkan selembar kertas berisi luapan hati dan pesanku sebagai seorang istri. Ya, aku seorang istri.

***

Di sini aku sekarang, di rumah ibuku. Di rumah keluarga yang awalnya menentang pernikahanku, dan luluh setelah ku bujuk. Keluarga yang menyarankanku menerima lamaran dari temanku sendiri karena kesholehannya, tapi ku tolak karena memilih cinta butaku: seorang pecandu yang menjadi klienku saat bekerja di sebuah pusat rehabilitasi narkoba.

Ini aku, seorang perempuan bodoh yang diperbudak cinta. Ah, bukan. Aku bukan hanya bodoh, tapi aku juga buta! Tak melihat lagi yang terjadi di depanku dengan baik. Bukan, aku bukan hanya buta, tapi juga tuli. Tuli? Aku bukan hanya tuli karena tak mendengar semua saran yang diberikan temanku, tapi hatiku juga membatu hingga aku tak peka. Aku menganggap realita yang ku pelajari akan beda dengan realitaku. Aku budak cinta.

***

Mungkin dunia sedang menertawakanku, menertawakan kisahku yang rela dinikahi dengan mahar seadanya, yang rela tinggal di rumah kontrakan seadanya. Meninggalkan keluarga dan berlagak hidup bahagia di kota. Telah lama aku ingin kembali ke desa ini, tenang rasanya hatiku, hanya saja aku terlalu malu. Bahkan cerita perihku saja tak pernah ku ceritakan kepada keluarga. Masih lekat di ingatanku, betapa percaya dirinya aku meyakinkan keluarga akan cintaku. Duh!

“Nis, HP-mu berdering,” panggilan ibu sontak membuyarkan lamunanku.

Aku beranjak dari teras depan dan mengambil HP yang tadi ku tinggalkan di kamarku.

“Halo,” terdengar suara dari seberang sana. Aku hanya bergeming, hatiku berkecamuk. Laki-laki itu rupanya.

“Nis, tolong kembali, Nis. Kasihan Aisyah, beri aku kesempatan lagi.”

“Tak ada yang bisa ku katakan lagi bang, habis sudah kekuatanku untuk bicara. Aku meninggalkan selembar kertas di bawah tempat tidur. Itu semua yang ingin ku sampaikan,” ku tutup telpon dan terduduk lunglai.

***

Suratku.

Assalamualaikum, Ayah anakku. Entah dari mana ku mulai, tapi yang pasti, jika bukan sebuah dosa, ingin sekali ku mulai awal tulisanku dengan umpatan-umpatan yang telah lama aku pendam. Tapi urung, aku masih menghormatimu sebagai suamiku, aku masih menganggapmu ayah anakku.

Cukup. Cukup sudah rasanya hampir setahun ini rumah kau ciptakan bagai neraka. Padahal baru tahun ketiga kita menikah. Entahlah, terlalu mudah ternyata kau goyah, terlalu lemah ternyata, hingga engkau kembali ke kebiasaan burukmu yang dulu.

Aku murka terhadapmu. Aku benci kepadamu, tapi aku lebih membenci diriku yang menyesal telah bersamamu. Ya, bukankah seharusnya aku telah siap di saat pertama aku memutuskan diijab kabul olehmu?

Sungguh aku membencimu, tapi aku lebih membenci diriku yang tak mampu membantumu menyelesaikan masalahmu. Aku benci diriku yang tak mampu menjadi perempuan paling kuat bahkan di titik terlemahmu. Aku benci diriku yang malah memilih melarikan diri dari kenyataan daripada membantumu untuk lepas dari benda itu.

Aku benci diriku yang dulu terlalu percaya diri dengan cintaku. Ternyata aku adalah pecundang yang hanya mampu memikirkan kebahagiaan saja.

Mohon maafkan aku. Relakan aku mencari ketenangan dengan buah hati kita. Relakan aku lari dari nereka yang kau ciptakan. Relakan aku membesarkan Aisyah tanpa ayah sepertimu. Satu yang harus kau tahu, tak surut cintaku, sungguh tak surut seinci pun. Hanya saja, aku begitu lemah untuk menjalani ini.

Engkau pernah bilang bukan padaku: kalau aku jodohmu, aku pasti denganmu jua. Kau berhasil membuktikannya, tapi ini hidup. Ada pernikahan yang menjadi persinggahan, mungkin ini yang terjadi pada kita.

Bang Radi, tolong. Jadilah lebih baik, jadilah manusia lebih baik. Mulailah pemulihanmu lagi, mungkin direhabiitasi akan membantumu untuk berhenti dari kecintaanmu terhadap barang haram itu. Niatkan Allah di hatimu. Kenanglah Aisyah di azam-mu; sehingga pastikan, kau akan menjadi ayah yang baik saat bertemu Aisyah nanti.

Tolong jangan ganggu bahagiaku dan Aisyah lagi. Jangan pernah cari kami dengan keadaanmu yang sekarang. Asslamualaikum.