Menurutmu bagaimana rasanya terpaksa melepaskan seseorang yang paling kau cinta. Seseorang yang kau sayang dengan sepenuh hati. Seseorang yang berhasil buatmu serahkan hatimu seutuhnya? Tentu, kau bisa bayangkan apalagi orang yang memaksa itu dirimu sendiri. Oh, sakit rasanya. Sakit sekali. Aku benar-benar lemas. Sungguh tidak sanggup. Begitu banyak kehilangan dalam hidupku jadi kali ini tidak ingin terulang kembali. Tapi, apa daya kalau dia tidak menginginkanmu lagi. Sedih. Hancur tak bersisah.

"Aku tidak menginginkan apa-apa dalam hubungan ini. Aku hanya ingin kasih yang tulus darimu. Kenapa bisa tega? Apa yang kau pikirkan? Tidak berarti apa-apakah kebersamaan kita selama dua tahun ini? Kau anggap apa semuanya? Ah, kau…"

Advertisement

Setelah kau menghilang, tidak ada lagi hal istimewa yang bisa kurasakan selain rasa kehilangan yang begitu mendalam. Kau tahu bagaimana kacaunya aku melewati hari-hari tanpa hadirmu. Aku seolah hilang arah. Bagaimana mungkin kau bisa menjadi orang yang begitu kejam sementara kemarin kau begitu memanjakanku? Bagaimana kau bisa jahat sementara kemarin kita begitu mesra? Bagaimana caranya kau melakukan kejahatan ini kepadaku? Aku hampir gila memikirkan caramu ini. Kenapa bisa tega?

Tidak ingatkah kau bagaimana perjuanganmu meyakinkanku untuk mau menjadi kekasihmu? Tidak ingatkah kau anak manja ini selalu membuatmu tertawa lepas? Tidak ingatkah kau anak cengeng ini selalu berkorban apapun untuk menjagamu? Tidak ingatkah kau anak palese ini selalu merajuk minta perhatianmu? Apa kau hilang ingatan? Kenapa kau bisa segampang itu melupakan semua hal indah yang telah kita rajut?

Hingga bulan mengundang tahun pun aku tidak yakin bisa melupakanmu. Sebuah rasa yang sungguh rumit. Kini, aku dan kamu tidak lagi menjadi kita yang selalu ada. Kini, mimpiku bukan lagi mimpimu. Kini, kuanggap kau hanyalah bagian dari masa lalu yang kurang manis tapi tidak terlalu pahit. Aku kacau. Aku sakit.

Advertisement

Bahkan aku sempat menangis yang pada akhirnya membuatku sadar bahwa yang datang begitu manis akan pergi dengan cara yang pahit. Bahwa yang begitu memanjakan justru menyimpan bisa yang mematikan. Lagu-lagu galau masih saja kuakrabi. Yang aku lakukan ini hanyalah ingin mengusir galau. Menepis rindu. Menghalau asa. Merajut hati hingga kembali berbentuk seperti sebelum kau menghilang. Aku akan berusaha menabahkan hati dengan ikhlas. Aku tidak janji. Namun, perlahan tapi pasti kau akan hilang dari ingatanku. Akan kubunuh kau dalam hati semampu aku.

Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih. Akhirnya aku semakin menyadari arti dari sebuah hubungan. Tidak ada yang benar-benar bisa dipercaya. Aku akan brusaha menikmati proses ini. Melahap rasa perih ini. Menelan rasa sakit ini. Aku yakin suatu hari nanti rasa itu akan kumuntahkan kembali pada tempatnya. Sampah!

Dunia kita berbeda. Silahkan sibuk dengan duniamu. Aku akan kembali ke kehidupanku semula. Usaha untuk memahamimu dan duniamu sudah cukup. Kau tidak pernah menganggapku ada. Kau hanya pandai merayu. Kau tidak memahami kasih cinta itu yang sebenarnya. Kau terlalu menyakitkan. Terima kasih kau sudah menghentikan semuanya. Terima kasih karenamu aku jadi belajar banyak. Karenamu aku jadi paham kau hanyalah debu yang akan menghilang jika tertiup angin. Dan benar kata orang, "Kadang, saat kita tidak mampu melepaskan orang yang terlalu kita cinta, berarti kitalah yang harus pergi. Mungkin membalikkan badan dan berlalu lebih mudah dibanding berdiri diam menatap punggung seseorang yang berjalan menjauh."

Aku mengakhiri catatanku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya