Batal Berjodoh Karena Tiada Restu Orangtua Itu Sudah Biasa. Ini Cerita Dariku yang Sudah Mengalaminya

Untuk orang yang sedang menjalin hubungan denganku.

Advertisement

Hubungan kita disepakati oleh karena kesamaan rasa. Aku tertarik padamu, dan engkau pun demikian. Dalam diriku, sedikit pun tak ada kepedulian tentang kurang atau lebihmu. Karena permulaan itu hanyalah sesederhana ucapan: “Aku tertarik denganmu, itu saja! Tidak rumit dan tidak ribet!”

Setelah sepakat bersama, perkenalan kita jadi semakin mendalam. Aku mengetahui kurang serta lebihmu, dan begitu pula kamu. Namun karena matangnya landasan masing-masing dari kita, justru kekurangan dan kelebihan merupakan momentum yang tepat bagi kita untuk saling mengisi.

Aku sudah lelah berkelana mencari hati. Aku bertekad bahwa bila suatu hari nanti Tuhan mempertemukanku dengan hati yang tepat, aku tak ingin melepasnya. Aku ingin segera mengikatnya dengan janji suci pernikahan.

Advertisement

Mula-mula, mereka menolakmu tanpa alasan yang jelas. Mereka tak menghendaki agar hubungan ini terus berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Hadirnya penolakan di tengah cinta yang sedang bersemi, bagaikan petir yang mendadak menyambar tanpa didahului oleh gerimis maupun hujan.

“POKOKNYA KAMI TIDAK SETUJU!”

Advertisement

Begitulah yang kerap mereka ucapkan pada permulaan. Kadang aku berpikir bahwa mungkin kalian masih sedang dalam proses untuk memikirkan alasan yang membuatku kelak berpikir bahwa itu logis.

Kalian pun kini berhasil menemukan kalimat yang menguatkan argumen demi tercapainya perpisahan kami. Tak jarang, kalian meneriakkan argumen tentang hal-hal yang sejak terlahir ke dunia, kita tak diperkenankan memilih, seperti agama, ras, warna kulit, negara, status ekonomi, dan hal-hal lainnya.

Pada akhirnya, aku tetap mematuhi orang yang melahirkanku, orang-orang yang merawatku, dan orang-orang (yang katanya) punya sumbangsih besar dalam pencapaian hidupku hari ini.

Mereka menyodoriku jodoh yang kalau menurut versi mereka: ‘sangat cocok denganku!’

Saat itu, tak henti-hentinya aku membatin: “Lantas, apa bedanya dengan pasangan yang kemarin aku pilih sendiri, pasangan yang tepat menurut versiku? Bukankah masih-masih sedang dalam perjalanan memperjuangkan ego masing-masing?

Kepada kamu yang senantiasa mengendap dalam hatiku yang paling dalam, berbahagialah dengan ia yang kini beruntung mendapatkanmu. Tetapi maafkan aku bila esok atau lusa, aku rindu.

Hari ini, saat aku sedang menuliskan ini, aku pun tengah ditikam rindu. Karena hidup bersama orang yang tak kita cintai, bukan berarti dilarang rindu terhadap ia yang sesungguh-sungguhnya kita cintai, bukan?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Menulis akan sulit jika dipikir sulit,menulis akan lama jika dipikir lama-lama,orang menulis ditulis dulu baru disunting,bukan disunting dulu baru ditulis

28 Comments

  1. Aisyah Apini berkata:

    Ada baiknya mencintai org yg sudah hidup bersama kita

  2. Whiien Qween berkata:

    Dan ini pernah aku alami..�

  3. Ini gw alami tapi gw tetep memperjuangkannya. Apaaa gw salah??

  4. Cinta tanpa restu orang tua �� hanya karena dia masih kuliah dan aku sudah bekerja.

  5. Unik Kz berkata:

    Alasan yang tak jelas ^_^
    Baca ini berasa curhat, dan hidup bersama orang yang tidak kita cintai juga nggak akan semulus yang mereka bayangkan
    Karena bukan mereka yang menjalani, tapi kita.
    Hari ini kami masih berjuang, entah berakhir apa kelak. Setiap salah satu dari kami lelah, maka salah satu dari kami yang lain akan menguatkan.
    Apakah kami salah?

  6. Amelia Nirha Ira berkata:

    Sakit memang jika harus memilih memuruti ego orang tua atau ego kita. Tapi ini masalah hati, rasa yg kita miliki pun bukan karena aku yang ingin, tapi karena Tuhan berkekendak