Aku duduk, terpaku, pikiranku melayang ke hari dimana aku mengenalmu. Hari dimana aku mencoba membuka celah hatiku untukmu, seorang sosok yang begitu aku kagumi saat itu. Aku ingat benar, saat dimana aku menetapkan pilihanku padamu, dengan sebuah keyakinan kau adalah perhentian dan jawaban segala risau hatiku. Kuletakkan segala harapanku padamu, segalanya apapun itu saat itu hanya kau lah jawaban dari segalanya. Betapa naifnya aku saat itu. Merengkuh di pundakmu dengan kebahagian, tempat teraman dan ternyaman buatku saat itu.

Aku masih mengingat dengan jelas segalanya, semua harapan, angan-angan dan rencana kita. Aku ingat dengan jelas semuanya. Saat itu aku begitu sangat berbahagia sampai tak pernah terpikir olehku bahwa hari ini aku akan menangis. Hari ini, saat kutuliskan kata-kata ini, hatiku sesak dengan segala perasaan yang tak dapat kuungkapkan. Beribu pertanyaan menghujaniku, salah apa dengan kita? Akukah yang salah? Mengapa aku merasa kau begitu jauh, jauh dari hatiku yang meyakini engkau sebagai sandarannya. Aku tak sanggup mengatakan bahwa aku menyesal, pikiranku melayang pada segala kisah yang telah kita jalani bersama. Haruskah kusesali semua itu? Haruskah aku menyalahkan diriku buat semua yang terjadi saat ini?

Advertisement

Aku menangis dengan segala perasaan yang kau takkan pernah mengerti. Aku mencintaimu, sungguh. Kuingat kau adalah lelaki yang selalu kuperjuangkan, dan aku ingat betul kau adalah orang yang selalu memperhatikan aku. Haruskah aku menyesali semua itu? Haruskah aku menyesali segala perasaanku yang terlanjur kutanamkan begitu dalamnya padamu?

Segalanya telah berbeda, hanya itu yang dapat kupahami saat ini. Aku dan segala sikapku mungkin telah menyakitimu begitu jauh. Aku yang telah menghidupkan amarahmu, aku yang merusak segalanya. Aku mencintaimu, sungguh. Menyakitimu bukanlah keinginanku. Aku menyayangimu, sungguh namun untuk bertahan kau akan semakin membenciku. Sebenarnya aku tak dapat menerima kenyataan bahwa aku bukan lagi menjadi tempat ternyaman untukmu berpulang. Kata-kataku bukan lagi menjadi hal yang bisa membuatmu tenang. Namun aku tak dapat melakukan apa-apalagi. Semuanya telah berbeda.

Satu hal yang perlu kau tahu, aku pernah menunggumu dengan sabar, mengorbankan waktu dan melupakan lelah. Aku pernah. Aku pernah berjuang untukmu.

Advertisement

Mari kita berhenti, berhenti menyakiti satu sama lain.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya