Aku pernah, mungkin kamu juga pernah. Aku sering, mungkin kamu juga sering. Merasakan suatu hal yang amat menyebalkan dan menyakitkan. Sekalipun kejadian itu sudah berlangsung lama, tapi lukanya masih membekas bahkan sulit untuk diobati. Entah kenapa, memori buruk itu sama dengan memori baik, yang sifatnya sulit untuk dihapus dari pikiran.


Sekalipun sudah berjauhan dengan orang yang bersangkutan, sudah tidak berada di tempat kejadian, dan sudah melompat jauh pada waktu itu, tapi putaran kejadiannya tetap menempel pada ingatan.


Advertisement

Maunya marah. Segala medsosnya diblokir, tidak ingin bertegur sapa, atau parahnya ingin meluapkan emosi sejadi-jadinya. Kamu pasti juga tahu, bahwa menyimpan emosi itu tidak enak dan tidur tidak nyenyak.

Tapi kadang, kita lebih sungkan untuk mengungkapkan kepada orang itu. Kita lebih memilih diam untuk mengobati luka sendiri. Kita lebih memilih mengalah agar tidak terjadi masalah. Tapi hasilnya, luka menumpuk dan tak kunjung terobati.


Aku takut jika membenci orang lain karena ulah atau lisannya, hatiku menjadi sakit dan sulit untuk memaafkan. Jadinya malah aku menjadi tak tenang.


Advertisement

Tapi, ada hal lain yang lebih membuatku takut, yaitu ketika ada orang lain yang hatinya tersayat karena tajamnya lidah atau karena buruknya ulahku. Aku takut, pada malam tidurku ada orang tersedu sedan karena teringat lisanku yang tak keruan. Aku takut saat makan bakpao hangat, ada hati orang lain yang terbakar emosi karena terbayang ulah menyebalkanku.


Bahkan, aku sangat takut. Jika ada orang lain yang tersenyum di depanku, nyatanya di belakang dia begitu ingin murka melihat wajahku.


Aku takut menjadi orang yang begitu tidak diharapkan kehadirannya. Aku takut menjadi orang yang mudah menyakiti orang lain sampai hidupku sama sekali tidak memberi manfaat untuk mereka di luar sana. Aku takut jika banyak orang yang lebih suka ketiadaanku, daripada keberadaanku yang malah membuat gigit jari.

Aku takut, sangat takut sekali. Menjadi orang yang merasa baik-baik saja, padahal di luar sana nyatanya aku sangat buruk. Aku lebih takut lagi, jika tidak ada yang memberitahuku tentang ini. Orang lain tidak peduli denganku, tidak mau menegur jika salah. Memuji setinggi mungkin sampai aku merasa begitu baik, padahal banyak lubang kesalahan yang menganga pada diriku.


Aku sangat takut jika sampai akhir hayatku tidak menemukan orang yang mau menegur kesalahanku.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya