Saat aku tulis surat terbuka ini, aku tau hatimu masih sangat hancur. Aku tau betapa kecewanya dirimu oleh ulahku yang keterlaluan.

Aku tau dari bagaimana kamu menatapku disetiap malam. Tatapan yang seakan ingin berteriak tapi kau ekspresikan dengan sebuah pelukan. Ucapkan saja sayang! Ucapkan saja apa yang ingin kamu katakan! Mau berkata aku bodoh? Iya memang aku bodoh karena bermain dengan api dan waktu.

Advertisement

Masih ingat sekali diingatanku, malam itu. Ketika kamu memelukku. Menangis karena kecewamu. Aku bisa merasakan sakitnya. Sesaknya. Hingga akupun sulit untuk bernapas malam itu.

Malam itu, ketika kamu memutuskan untuk mengakhiri semuanya, aku merasa kehilangan arah. Entah apa yang harus aku lakukan? Aku harus bagaimana? Aku seperti orang gila. Aku pun merasakan hatiku hancur berkeping-keping karena ulahku. Ternyata aku tidak benar-benar siap dengan konsekuensi yang harus aku terima. Astagaaa..

Kamu tau sayang? Kini malam semakin larut, mata masih tak kunjung usai mengurai air mata. Air mata ini masih dengan asiknya terus mengalir deras memberikan penyesalan atas hal bodoh yang aku lakukan. Setiap malam tanpa sepengetahuanmu, diam-diam air ini masih saja menetes dengan segala penyesalan. Batin ini masih menjerit. Tapi aku tetap merasa tenang ketika aku masih bisa melihatmu berada disampingku dengan pelukkanmu.

Advertisement

Hai kamu yang seperti Yogyakarta, yang selalu teristimewa. Terimakasih meskipun kita tidak bersama, kamu masih mau memberikan waktu liburanmu untuk bersamaku. Menghabiskan setiap hari denganku. Masih mau berbagi senyummu dan tawamu bersamaku. Terimakasih karena kamu masih memberikan waktu agar rindu ini bisa sedikit mereda. Kamu masih bisa memberikan sayangmu meski aku sudah melukai terlalu dalam.

Kini, tinggal menghitung hari kamu akan kembali ketempat perantauanmu. Ntah apa yang akan terjadi setelah ini. Senyum itu. Tawa itu. Apakah aku masih bisa memandangnya? Semoga iya. Meskipun aku harus memandangnya dari kejauhan. Mungkin kamu akan menemukan penggantiku, dan melupakan aku dengan cepatnya? Ya mungkin saja. Bahkan mungkin seakan kamu tidak pernah mengenalku. Takut. Ya. Tentu saja aku takut benar-benar kekhilanganmu.

Cara kamu menatapku. Senyummu yang slalu membuatku jatuh hati. Tawamu yang lebih sering membuatku tertawa dibanding leluconmu. Pelukmu. Bahu tempat dimana aku slalu menyandarkan kepala. Aaahhh, akan sulit untukku lupa. Jujur, sampai saat ini aku masih berharap kamu memberikan kesempatan kedua untukku. Aku tau, mungkin aku tidak tau diri. Setelah memberikan luka? Kemudian aku memintamu kembali? Aku tau kaupun akan tertawa.

Tapi, aku tidak akan memaksamu. Tidak memaksamu bukan berarti aku pasrah begitu saja.

Hey.!!

Kamu lupa aku siapa?

Aku bukan orang yang mudah menyerah.

Mungkin saat ini kamu belum mau untuk kembali kedalam pelukanku. Aku pun sadar betul untuk mendapatkanmu kembali, aku harus berjuang. Aku akan membuktikan kepadamu bahwa aku yang kamu kenal saat ini akan menjadi aku yang lebih baik dimasa depan.

Setahun lagi, jika waktu mengijinkan kita bertemu, kamu akan melihat aku yang berbeda. Dan akan aku rebut hatimu lagi. Tentunya tidak akan aku lepaskan lagi. Semoga kamu masih sendiri. Tapi, jika kamu sudah menemukan penggantiku, maka aku akan mundur. Aku hanya akan memandangmu dari kejauhan dan berdoa yang terbaik untukmu.

Dari aku yang selalu menyayangimu dan mencintaimu

Jaga dirimu baik-baik di perantauan. Jaga kesehatan. Jangan sakit karena ketika kamu sakit akupun akan merasakannya. Jangan memaksakan diri untuk terus bekerja. Berikan sedikit waktumu untuk bekabar dengan saudaramu, karena mereka membutuhkan itu. Dengarkan cerita mereka, jangan kau abaikan.

Sampai jumpa dilain waktu.

Terima kasih selalu menjagaku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya