Teruntuk Bunda,

Bunda, maaf aku belum bisa memberikan cucu untukmu dalam waktu dekat ini, mengenalkan seseorang yang akan jadi ayahnya pun belum bisa. Maaf, aku masih berjuang menemukannya. Tolong bantu doakan saja, jangan malah ikut menggoda.

Bunda,

Advertisement

Sejujurnya aku sedih, jikalau Bunda ikut menggoda, meski mungkin niatnya hanya bercanda, tapi lama kelamaan jadi malah ikut menilai mengenai kualitas anakmu ini. Apalagi jika sering membandingkan posisi ku dengan oranglain. Itu sakit, Bund~

"Si Amel udah nikah, tuh dapet nya juga pria mapan. Bunda kapan yah punya menantu?"

"Tante Mira udah gendong cucu, aduh Bunda kapan yah?"

"Liat deh ini cucu nya Tante Ranny, mirip banget sama Tante Ranny. Ntar cucu Bunda mirip siapa ya?"

Beberapa kalimat Bunda yang terus aku jadikan pokok pemikiran. Kalau boleh jujur, sebenernya aku sakit Bund, kecewa dan sedih. Bukannya aku hanya diam diri, aku pun terus mencari sambil memantaskan diri. Meski sebenarnya aku pun bingung apa itu memantaskan diri? Berbagai usaha sudah aku jalani, doa memohon terus aku lakukan, bahkan sepertinya lebih sering mendikte Tuhan. Ketauilah Bund, kadang aku ingin marah dan mungkin lebih baik mengurung diri saja, daripada terus mendengar pertanyaan Bunda. Tapi itu tidak mungkin bisa aku lakukan, karena aku pun sayang Bunda.

Advertisement

Bunda,

Tidakkah Bunda sedih? Kalau aku salah memilih? Bukan aku adalah seorang pemilih, tapi memilih itu sudah semestinya. Aku pun bingung Bund, apa sebenarnya makna jodoh itu? Siapa dan bagaimana dia? Mereka bilang, jodoh adalah cerminan diri, yang memiliki sifat dan sikap nyaris sama dan jodoh itu seseorang yang membuat kita nyaman dan sama – sama mau menuju Surga-Nya. Lantas, dimanakah tempat mencari jodoh yang tepat? Dimana teka – teki Tuhan yang selalu aku titipkan listnya? Bisakah Bunda bantu?

Mungkin aku terlihat biasa saja ketika didepan Bunda, mungkin terlihat acuh dan tidak peduli atau aku terlihat sering banyak main dan menghabiskan waktu diluar rumah? Itu semua ada alasannya, aku sering pergi ke toko buku atau sekedar pergi ke taman. Yah berharap seperti kejadian di Sinetron, bisa bertemu pangeran di tempat itu. Aku pun sering pergi tidak jelas, sebenarnya aku pun tidak tau kemana langkah yang harus aku singgahi. Mencari dan memantaskan diri.

Teruntuk Ayah,

Sebelumnya aku sudah minta maaf dengan Bunda, kalau masih belum bisa memberikan cucu untuk Ayah dan Bunda. Tolong ya Ayah, bantu doakan saja jangan ikut menggoda. Aku tau, mungkin ayah lebih terlihat acuh denganku. Jarang pula Ayah bertanya tentang siapa jodoh ku atau kapan aku menikah. Tapi melihat gerak – gerik ayah yang suka mengajakku ke toko boneka, rasanya pun sedih. Maaf aku sedikit baper, bukankah usia ku sudah 27 tahun? Bahkan sudah menghampiri usia 30, tapi untuk apa ayah sering mengajakku ke toko boneka? Aku sudah tidak suka boneka, Yah.

Ayah,

Maaf aku pun sedih, tiap kali melihat ayah nonton bola sendiri. Teriak – teriakan di tengah malam, bahkan sesekali Ayah asyik seperti sedang bicara, padahal ayah hanya menonton bola seorang diri. Kala itu aku sering berandai, andaikan aku sudah menikah, pasti suami ku akan menemani ayah menonton bola. Tapi maaf ayah, aku belum bisa memberikannya.

Kalau mendengar cerita Ayah dan Bunda kala itu, jujur aku cemburu. Begitu mudah nya pertemuan kalian mungkin tidak perlu menangis berulang untuk menjawab pertanyaan Nenek dan Kakek. Tapi semua jalan hidup manusia tidaklah sama, bukan berarti langkah ku mendapat jodoh bisa langsung di segerakan seperti Ayah dan Bunda. Bukan berarti langkah kebahagiaan ku pun sama seperti kalian.

Ayah .. Bunda,

Allah tidak pernah salah memberikan rezeki untuk hamba – hamba Nya, termasuk soal jodoh. Bisa jadi, aku sedang disuruh bersabar dan ikhlas dalam penantian. Bisa jadi, aku dirasa masih butuh banyak belajar untuk lebih taat beribadah kepada Nya. Karena menjadi seorang Ibu itu butuh bekal yang hebat. Sebenarnya aku pun ingin segera merasakan apa itu menikah, membina rumah tangga yang Sakinah Mawwadah Warahmah, begitupun mendidik anak – anak agar amanah.

Tapi rupanya Allah berkata "Tunggu.. belum saatnya".

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya