Aku memang pernah jatuh cinta sebelum aku mengenalmu, tapi tak pernah sebahagia saat aku bertemu denganmu. Aku tak pernah membayangkan bahwa dulu aku pernah benar-benar bersamamu. Kau tahu saat yang paling bahagia buatku adalah ketika kau juga memiliki rasa padaku. Ini luar biasa! Rasanya semesta mendukung kita untuk bersatu. Kau seperti potongan mozaik terakhir yang aku cari selama ini. Potongan mozaik yang menggenapi gambaran hidup yang aku susun satu persatu. Kau memang tak sempurna, potongan mozaik memang tak pernah sempurna. Tapi saat aku menyusunnya, gambaran hidupku selama ini menjadi indah. Entahlah rasanya begitu bahagia saat bersamamu, saat kau menggenggam tanganku rasanya dadaku akan meledak kegirangan. Aku tak ingat mungkin wajahku saat itu menjadi merah muda, rasanya tak bisa berhenti tersenyum. Ah, aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu.

Hingga tiba suatu hari kau menghilang tanpa kabar tanpa pernah membalas pesan-pesanku bahkan bertemu denganku. Berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga akhirnya aku benar-benar mengikhlaskanmu untuk mengikat janji suci dengan yang lain. Kau tahu betapa sakit hatiku, rasanya baru kemarin kau menggenggam erat tanganku. Kau tahu? Butuh waktu bertahun-tahun bagiku untuk bisa benar-benar melepasmu. Bahkan hingga kini aku belum pernah menemukan pengganti dirimu. Entahlah, bayangan sempurna dimataku adalah yang seperti dirimu. Aku bahkan hampir lupa rasanya jatuh cinta. Banyak orang-orang berkata, biar waktu yang akan menyembuhkan luka hati. Namun butuh berapa lama lagi? Saat aku benar-benar mengikhlaskanmu aku tak bisa membohongi diriku sendiri bahwa sebenarnya luka dihatiku tak pernah terobati. Akalku membuat sebuah proteksi bagi diriku, menyangkal kata hati dan memaksa otak ini untuk berpikir logis. Mekanisme ini terus terjadi dalam diriku hanya agar aku tetap bisa menjalankan keseharianku tanpa harus terus bersedih dan terus memikirkanmu.

Advertisement

Tetapi aku tak pernah benar-benar membencimu. Aku tak pernah benar-benar menyalahkanmu dan mengutuk takdirku. Aku hanya bersyukur pada Tuhan bahwa aku pernah merasakan indahnya jatuh cinta. Hidupku terasa bermakna dengan kehadiranmu. Mozaik hidupku pun menjadi berwarna karena kehadiranmu hingga aku sadari kau ternyata bukan potongan mozaik terakhir yang menjadi pelengkap mozaik kehidupan yang aku kumpulkan. Perjalanan hidup yang aku lalui mungkin masih sangat panjang, masih banyak potongan mozaik yang harus aku kumpulkan. Aku mungkin akan banyak menghadapi peristiwa yang tak terduga, bertemu orang baru bahkan menjelajahi tempat baru. Potongan mozaik kehidupan yang akan aku temukan mungkin tak pernah sempurna, tak simestris bahkan abstrak namun itulah indahnya seni mozaik, merangkai kepingan yang tak sempurna menjadi sesuatu yang indah. Hidupku mungkin tak pernah selamanya berjalan indah seperti yang aku inginkan namun mengambil hikmah dari semua peristiwa yang aku alami menjadikan makna hidupku semakin indah dan sempurna.

Terima kasih untuk kau yang membuat aku percaya bahwa jatuh cinta itu indah dan menyakitkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya