Setelah berpisah 5 tahun yang lalu kini kau dan aku bertemu lagi. Tepatnya bulan Juni saat aku kembali ke kota ini. Kota di mana kau dan aku pernah bersama hingga akhirnya berpisah saling melukai bahkan membiarkan segala tentang kita berceceran dan meninggalkan pilu.

Ah..betapa perihnya hatiku kala itu!

Advertisement

Memang sebelumnya kita sering bertukar kabar via pesan singkat yang sering kita sampaikan satu sama lain dicampur dengan bumbu-bumbu canda tawa yang garing. Namun tak disangka setelah kita satu kota kembali dan melewati debat panjang untuk bertemu , akhirnya kau dan aku sepakat bertemu. Pada sabtu sore itu kita menapaki jalan yang dulu pernah kita lewati bersama rintik hujan menambah sempurnanya pertemuan ini kala kau dan aku berteduh saling menatap, menyalahkan keadaan dulu menyesali kebersamaan yang dulu pernah berakhir. Namun terlihat jelas binar dimatamu kau masih sosok yang aku kenal dulu. Seseorang yang terus berusaha mengimbangi sikapku entah itu keterpaksaan atau memang tulus kau lakukan, sampai sekarang pun aku tak mampu mencari jawabnya.

Selang beberapa hari setelah pertemuan itu kau semakin rajin menghubungiku akupun semakin terbuka kepadamu tentang masalah hidupku, entah itu masalah pekerjaan, game ataupun masalah pelik yang tengah ku alami dengan mantan pacarku sesudah engkau, tak segan-segan semua masalah itu aku tuangkan kepadamu dan kau pun tak ragu untuk memberikan nasihat dan ledekan garing padaku hingga gombalan- gombalan yang dulu pernah ada kini terdengar kembali. Semakin sering berkomunikasi membuat kita terus larut dalam masa lalu saat kita masih bersama memaksa hati dan pikiran mengorek memori luka dan kenangan indah bersamamu, membuat kita terus berencana mengatur pertemuan demi pertemuan selanjutnya.

Hingga saat itu tiba, kini bertemu dengan mu seolah-olah menjadi kebiasaan dan satu prioritas yang harus dilakukan. Awalnya meski bertemu tapi tak satu pun diantara kita yang menyinggung perasaan satu sama lain, kita lebih asik bercengkrama tentang hal – hal di masa lalu, seputar game yang sedang kita mainkan, lingkungan kerja dan teman-teman, tak ada sedikitpun kau menyentil tentang hubungan kita sekarang tapi aku pun demikian karena bagiku bertemu denganmu seperti menemukan buku kesukaan yang telah lama hilang rasanya senang sangat senang namun tak berniat untuk membacanya lagi karena ending dari buku tersebut masih sama saat sebelum dia hilang.

Advertisement

"Bertemu kembali denganmu, seperti menemukan buku lama yang telah lama hilang! Senang bercampur emosi tapi tak berniat untuk membacanya lagi, karena sebelum hilang aku telah sampai pada cerita akhir buku tersebut."

Kita semakin sering menghabiskan waktu dengan berkirim pesan garing yang dilakukan layaknya sepasang remaja yang sedang kasmaran begitupun kala bertemu kita sibuk bercengkrama dan bermain game kesukaan kita. Tapi aku sempat terhanyut dalam lingkaran masa lalu sampai salah mengartikan perhatian yang kau berikan untuk ku, namun aku tak berani berterus terang akan perasaan dan harapan yang kurasakan ini, aku hanya ingin memastikan semua akan baik-baik saja, karena kedekatan kita yang sekarang cukup membuatku senang, tak ingin seperti dulu mencintaimu dan menyayangimu dengan tulus sampai akhirnya kau meninggalkan ku saat rasa sayang itu mulai tumbuh.

Bukan trauma, hanya saja kau punya ruang sendiri dalam hatiku yang tak berani ku masuki semakin dalam, aku takut tersesat didalam sana dan lupa kembali. Karena sampai sekarangpun aku tak tau apakah kau juga merasakan apa yang kini aku rasakan atau kau tak punya rasa apa-apa dan semua yang kau lakukan denganku hanya mengisi kekosanganmu semata.

Entahlah aku tak bisa memvonismu dan aku juga tak mau semakin larut dalam perasaan ini, karena meskipun terus bersama tak ada jaminan jika kita akan terus bersama.

"Aku seperti hidup dalam buku lama itu, apakah jika kubaca kembali akan ada yang berubah atau akankah ada jawaban untuk pertemuan ini?"

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya