Sebelum benar-benar mengenal diriku sendiri, aku bertanya-tanya kenapa aku selalu gagal dengan pria. Kupikir diriku telah cukup baik, hingga aku mengutuk keadaan yang membuat kisah cintaku selalu gagal. Kupikir aku telah menjalani cinta yang benar, dan tak terima ketika cinta itu membuatku sakit pada akhirnya. Dan di tiap akhir kisah, aku selalu menyalahkan pria yang tak bisa mencintaiku dengan benar.

Namun kegagalan demi kegagalan, perlahan mengajarkanku untuk dewasa. Rasa sakit mulai membawaku pada cara berpikir yang lebih matang. Aku pun mulai sadar, bahwa bukan keadaan, pria, dan cinta itu yang salah. Melainkan diriku sendiri.

Advertisement

Aku yang dulu masih muda dan menggebu-gebu. Terlalu cepat jatuh cinta dan mudah mengakhirinya. Aku yang dulu terlalu gegabah dalam menafsirkan sifat seseorang dan mudah mempercayai angan-angan. Seorang gadis muda yang tak tahu bagaimana membina sebuah hubungan yang dewasa.

Aku pun mulai mengkaji diriku sendiri. Dengan semua sifat tak dewasaku, aku berharap mendapatkan pasangan yang menerimaku apa adanya dan mencintaiku dengan sempurna, bagaimana bisa? Dia, orang yang bersamaku, hanya akan lelah pada waktunya.

Aku yang manja dan mudah bergantung, hanya akan menjadi bebannya. Aku yang sering khawatir dan takut pada banyak hal, hanya akan mengganggu pikirannya. Aku yang lemah dan tidak bisa menjaga diriku sendiri, hanya akan merepotkannya. Dan terakhir, meski tak semua orang percaya, namun aku percaya akan hal ini. Perempuan yang tidak religius dan tak bisa serius, takkan menjadi dambaan bagi seorang pria untuk masa depannya.

Advertisement

Cinta memanglah cinta, dan beberapa orang percaya, bahwa bila seseorang mencintaimu maka ia akan menerima segala kekuranganmu. Namun aku pun percaya, bahwa orang yang jatuh cinta pada kekuranganku, mungkin adalah orang yang memiliki banyak kekurangan juga. Seperti yang kualami pada kisah-kisah sebelumnya.


Memang tak ada pasangan yang sempurna, dan aku pun tak perlu menjadi sempurna untuk dicintai. Namun setiap perempuan, perlu memperbaiki dirinya untuk mendapatkan cinta yang lebih baik.


Bagaimana mungkin aku akan dicintai oleh seorang pria yang mampu menghargai perempuan, bila aku tak bisa menghargai diriku sendiri? Bagaimana mungkin aku berangan-angan dipertemukan dengan pria yang serius membina hubungan, bila aku tak pernah serius dalam hidupku sendiri?


Maka kini, setelah kegagalan demi kegagalan kuhadapi, kuputuskan untuk sendiri dulu. Biarkan aku memantaskan diri dulu untukmu, untuk jodoh yang kelak dipertemukan Tuhan denganku.


Biarkan aku menjalani beberapa waktu dalam kesendirianku dan belajar banyak hal. Aku akan belajar mandiri, agar tak menjadi bebanmu nanti. Aku akan belajar dewasa, agar bisa menjadi kawanmu berdiskusi. Aku mengasuh hatiku menjadi hati yang tegar, agar bisa menjadi sandaran ketika lelahmu. Aku akan belajar menjadi perempuan yang kuat, agar bisa berbagi kekuatan menjalani hari-hari kita yang sulit nanti.

Maka untukmu, jodoh yang kelak dipertemukan Tuhan denganku, kuharap siapapun dirimu, kau pun sedang memantaskan diri untukku. Biarkan kita saling menjaga hati dan menjauhkan diri dari hubungan yang salah. Karena Tuhan akan menggariskan takdir yang indah bagi hamba-Nya yang memperbaiki diri dari hari ke hari.


Wanita yang baik akan dipasangkan dengan lelaki yang baik. Aku percaya akan hal itu.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya