Bonar dan Roni tidak pernah menceritakan bisikan misterius yang mereka dengar kepada siapapun, kecuali Rudi teman yang memberi mereka tumpangan untuk pulang, di sore hari setelah kejadian tersebut. Namun demikian, hanya sekitar tiga hari Rudi mampu menyimpan cerita ini.

Ia tidak tahan untuk tidak membicarakannya kepada teman-temannya yang lain. Sama seperti cerita yang beredar sebelumnya, cerita ini pun turut menambah aroma mistis mengenai kebun belakang sekolah. Agak berbeda dengan murid-murid yang terus membahasnya, para guru seolah tidak terlalu peduli dengan hal ini. Bagi mereka mungkin ini hanya merupakan salah satu cara dari murid yang bercerita agar menjadi pusat perhatian dari teman-temannya yang lain.

Sore itu kegiatan sepakbola berlangsung lebih lama dari biasanya. Pak Baskoro sang guru olahraga merangkap pelatih tim sepakbola memang sengaja memperpanjang waktu latihan bagi anak didiknya. Ia tidak ingin tim yang ada di bawah asuhannya mengulangi prestasi mereka setahun yang lalu, gagal lolos babak kualifiasi turnamen antar sekolah sekecamatan. Kali ini ia akan menggembleng mereka dengan latihan keras. Bukan hanya latihan fisik, tetapi latihan tehnik yang harus diasah terus menerus.

Lapangan yang ada di tengah sekolah memang jauh dari sempurna untuk digunakan sebagai tempat latihan. Aslinya lapangan ini adalah lapangan basket. Hanya saja ketika kegiatan sepakbola berlangsung, akan ada dua buah gawang yang dipasang pada daerah yang berlawanan. Bila berhasil berprestasi, Pak Baskoro berkeinginan mengajukan kepada sekolah agar ia bisa menyewa lapangan rumput milik salahs satu sekolah sepakbola.

" Yoga! " suara Pak Baskoro terdengar jelas, nama yang dipanggil segera berlari kencang lalu menendang bola ke arah gawang.

Advertisement

Hendra yang menjadi penjaga gawang tampak tertawa pelan saat melihat bola yang ditendang oleh Yoga melebar jauh dari gawang yang ia jaga. Sementara anak-anak lain yang menunggu di sisi lapangan tidak banyak berkomentar. Mereka takut kena teguran dari Pak Baskoro.

" Danang! " suara Pak Baskoro terdengar lebih kencang dari sebelumnya, ia sepertinya sangat kesal dengan hasil tendangan Yoga tadi.

Tidak seperti Yoga, Danang berjalan pelan sebelum mulai berlari dan melakukan tendangan kencang. Lagi-lagi terdengar suara Hendra tertawa. Ia tertawa lebih kencang dari sebelumnya. Bola yang ditendang Danang melayang jauh melewati gawang yang ia jaga. Tetapi tawanya terhenti saat melihat reaksi teman-teman yang ada di sisi lapangan. Beberapa anak menunjuk ke arah bola tersebut mendarat. Sepertinya bola itu melambung tinggi dan mendarat di…..kebun belakang sekolah!

Danang terdiam mematung tidak jauh dari tempat Pak Baskoro berdiri. Ia sudah mulaia terbayang hal yang tidak-tidak, apalagi bila mengingat kisah yang dialami oleh Bonar dan Roni.

" Heh! Jangan diam saja! Cepat ambil bolanya ! " perintah Pak Baskoro

Anak-anak yang berdiri di sisi lapangan mulai berbicara satu sama lain, tetapi mereka menjaga agar suara mereka tidak terdengar oleh Pak Baskoro. Sama seperti Danang, satu per satu dari mereka juga diliputi rasa takut. Masing-masing berharap jangan sampai diminta untuk menemani Danang.

" Tapi Pak…." Danang kelihatan ragu, ia belum bergerak dari tempatnya berdiri

" Tapi apa? Cepat ambil bolanya dan bawa kesini ! " Pak Baskoro mengulangi perintahnya

" Disana…..disana….ada…."

" Ada apa ? "

" Ada setan Pak "

" Heh! Jangan sembarangan kamu, mana ada setan di sekolah! Cepat cari bolanya, jangan banyak alasan! " Pak Baskoro kelihatan mulai kehabisan kesabaran. Danang melihat ke arah Hendra, berharap temannya itu mau memberi pertolongan. Tetapi Hendra berpura-pura melihat ke arah lain.

" Cepat jalan! Hendra, kamu ambil bola yang satu lagi buat latihan "

Hendra kelihatan lega, karena ia tidak harus menemani Danang, ia segera berjalan ke ruang guru untuk mengambil bola yang ada disana. Sementara Danang dengan langkah terpaksa mulai menyusuri lorong yang menghubungkan bangunan sekolah dengan kebun yang ada di belakang. Ia berharap bola itu ada di dekat kelas yang ada disana. Tetapi harapannya sia-sia, bola itu sepertinya memang jatuh di kebun belakang sekolah.

Dengan hati-hati ia melangkahkan kakinya, masuk ke kebun sekolah. Tempat itu memang kelihatan biasa saja. Saat pagi dan siang hari terkadang anak-anak masih berada disana untuk sekedar mengobrol satu sama lain atau membaca buku pelajaran. Tetapi hal ini tidak berlaku di sore hari. Tidak ada yang berani kesana. Kebun itu ukurannya cukup luas, mungkin seukuran enam ruangan kelas. Kondisinya agak kurang terawat, banyak semak belukar dan pohon-pohon besar yang entah apa jenisnya.

Dan bola itu tampak tersangkut di salah satu pohon. Pohon yang paling tinggi, pohon yang kelihatan sudah mati, tetapi tetap berdiri kokoh disana. Danang menarik nafas panjang, berusaha menenangkan diri. Ini tidak mudah, ia tidak bisa memanjat pohon. Ia lalu mengambil sebuah batu dan melemparkannya ke arah bola. Berharap batu tersebut mengenai bola dan menjatuhkan benda itu. Lemparannya meleset, mungkin karena ia terlalu tegang. Ia kembali mengambil batu dan melakukan tindakan yang sama. Kali ini batu berhasil mengenai bola, tetapi bola itu tidak jatuh. Bila dilihat dengan lebih jelas, bola itu terjepit diantara cabang-cabang pohon. Seperti dicengkeram dengan sangat keras….oleh….sesuatu.

Hii…..Danang jadi merinding karena di pikirannya mulai terlintas hal-hal yang seram. Sebaiknya ia kembali ke dalam sekolah dan menjelaskan pada Pak Baskoro. Ia akan minta bantuan anak-anak lainnya untuk membawa tangga dan mengambil bola tersebut. Baru beberapa langkah ia berjalan meninggalkan kebun belakang sekolah, ia dikejutkan dengan suara pantulan bola…..dari arah belakang. Tidak lama kemudian benda itu menggelinding dan berhenti tepat di depan kakinya.

Ia tidak berani menengok ke belakang atau kembali untuk sekedar meliihat siapa atau apa yang melempar bola itu kembali kepadanya. Danang segera memungut bola yang ada di dekat kakinya dan berlari kembali ke lapangan. Jantungnya berdetak sangat kencang. Jangan lihat ke belakang! Jangan! Berkali-kali ia mengatakan hal itu pada dirinya. Ia yakin di belakang sana ada sosok lain yang sedang mengawasinya.

Danang merasa cukup lega saat kembali ke lapangan, ia melihat anak-anak sedang berlari mengitari lapangan. Latihan menendang bola sudah usai. Danang berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menendang terlalu kencang, ke arah belakang sekolah. Biar saja besok-besok tendangannya dengan mudah ditangkap oleh Hendra. Pak Baskoro sempat bertanya mengenai wajahnya yang tampak pucat, tetapi Danang menjawab bahwa ia baik-baik saja.

Sambil duduk di atas dahan pohon, pohon yang tertinggi di kebun, sosok itu tersenyum tipis. Masalah bola yang menyangkut di atas pohon tidak dianggapnya sebagai gangguan. Anak itu pasti tidak sengaja. Tidak seperti temannya yang kemarin berusaha melihat keberadaannya.