Hari ini sama saja dengan kemarin. Kamu mendatangi tempat yang sama. Mengawasi dia dalam diam. Iya, sama dengan cara dia masuk dalam hidupmu. 

Diam-diam kamu mencuri waktu sekadar menatapnya ingin tahu apa yang sedang dilakukannya. Diam-diam kamu mencuri dengar percakapan teman-temanmu tentangnya. Diam-diam mendatangi tempat dimana ia biasa menghabiskan waktunya.

Advertisement

Diam-diam menjadi stalker di sosial media miliknya. Diam-diam dia sudah terlalu jauh memasuki pikiranmu. Menganggu harimu jikalau rindu datang mengusik apabila tak melihatnya sehari saja. 

Kamu selalu berakhir seperti ini. Mengagumi seseorang dalam diam. Mengamatinya bersenda gurau lalu tersenyum sendiri karena tingkah lakunya yang bagimu sangat menggemaskan. Setidaknya hanya itu yang terekam oleh mata dan telingamu.Andai saja keberanian untuk menyatakan perasaan mudah didapatkan seperti membeli jajanan di pinggir jalan, kamu pasti sudah membelinya dari dulu.Sayangnya semua tak semudah dan seindah apa yang ada dibayanganmu. 

Suatu pagi kamu melihatnya menggandeng seorang yang spesial. Matanya berbinar bahagia. Kamu belum pernah menjumpai ekspresi itu melekat di wajahnya. Matanya tak pernah lepas darinya seolah itulah objek yang paling menarik. Senyum manismu luntur karena pemandangan yang tersuguhkan tepat di depan mata. Padahal sejak semalam kamu sudah menyiapkan cukup keberanian untuk bertegur sapa dengannya. Kamu kecewa. 

Advertisement

Pundakmu meluruh. Kenyataan baru saja menamparmu, mengembalikan kamu pada kenyataan. Helaan nafasmu memberat. Tiada lagi suntikan semangat di pagi hari. Tak ada senyuman merekah menutup harimu. Semuanya hilang digantikan dengan wajah murung. Kamu menutup diri dari keramaian. Merasa dirimu tak pernah cukup baik untuk mendapatkan seseorang yang selama ini berada di anganmu.


Tapi, hei! Langit tidak runtuh tepat di kepalamu bukan?


Aku tidak akan melarangmu untuk bersedih. Menasehati agar berusaha tegar dan bersabar. Aku tidak suka mengatakan kalimat bijak seperti itu. Sungguh. 

Siapa yang tidak galau jika sedang patah hati? Ditambah jika kamu memendam perasaan untuknya seorang dalam waktu yang lama. Justru akan sangat aneh kalau itu tidak terjadi.

Teman-teman kamu mungkin akan menertawakan nasibmu yang tak pernah mujur dalam asmara tapi tidak sedikit pula yang menatapmu iba. Prihatin dengan kemalangan yang menimpamu. Cukup! Kamu kali ini harus mulai mengambil pelajaran penting dalam hidupmu.

Tapi apa?

Menangislah sampai kamu merasa cukup. Kemudian renungkan apa yang salah dalam dirimu. Tidakkah kamu melupakan sesuatu? Ayolah! Seseorang yang selama ini kamu kagumi diam-diam tidak hanya mencuri waktu dan pikiranmu saja tetapi juga menjebakmu diam-diam memasuki lembah khayalmu. Jangan mencoba membohongi diri sendiri. Dia adalah fantasimu untuk masa depan yang tersimpan rapi dalam mimpimu.

Sekarang bangunlah sejenak. Hamparkan sajadahmu. Memohon ampunlah pada-Nya yang diam-diam kamu tinggalkan. Hubungi orangtuamu yang jauh di sana. Dengarkan suara mereka yang beberapa waktu lalu kamu lupakan. Terakhir, berbaur kembali dengan teman-temanmu. Mereka sudah lama menanti kedatanganmu yang seringkali menghilang tanpa sebab.

Aku pikir sekarang kamu sudah tahu. Ada yang lebih penting dan utama dari dia. Pasanglah senyum terbaikmu. Kamu tidak akan memulai semuanya dari awal lagi tapi sekarang, kamu sudah kembali ke jalan yang tepat. Cukup ambil pelajarannya.

Biar kuberi tahu satu rahasia. Sstt..Aku juga pernah berada di posisi yang sama. Aku yakin bukan hanya aku atau kamu yang pernah merasakan ini. Itu wajar, kamu adalah seorang manusia. Itu sudah menjadi fitrahnya manusia kok. Sederhananya sih manusiawi. Jatuh cinta lalu patah hati itu sama dengan kebiasaan kentut. Kalau kamu nggak kentut artinya kamu sakit. Ada yang tidak beres. 

Kalau dia memang jodoh kamu mau seberapa lama dia dengan kekasihnya sekarang, ujung-ujungnya putus juga. Sebaliknya kalau dia memang tidak ditakdirkan bersanding dengan kamu, mau kamu pontang-panting cari cara buat sama dia juga nggak bakalan mempan. Kamu sudah sering melihat contohnya dalam dunia nyata bukan?

Aku tidak tahu apa kalimat penutup ini akan kamu sukai. Tapi, entah mengapa tiba-tiba aku mau mengutip salah satu kalimat dari Friedrich Nietzsche seorang filsuf Jerman;


"Kecuali kamu memiliki kekacauan di dalam diri kamu, kamu tidak bisa melahirkan sebuah bintang menari."


Untuk mendewasakan diri tak ada seorangpun yang tidak mengalami kesusahan. Aku rasa kamu sekarang sudah tahu langkah apa yang akan kamu ambil. Percaya rencana Allah lebih baik, Allah tahu yang terbaik.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya