Aku seorang wanita berperawakan mungil tapi sintal karena aku memang suka senam, kulit lumayan bersih dan wajahku meski ndak cantik, tapi luamayan menarik menurut teman-teman. Dan aku sudah menikah, mempunyai dua orang putri, keduanya sudah bersekolah, yang pertama sudah SMP kelas 2, dan yang kedua baru SD kelas 6. Aku dilahirkan dalam keluarga bangsawan sebut saja namaku Ayu, tetapi menikah dengan orang bukan bangsawan dari desa yang sama sebut saja namanya Bli Komang.

Awalnya hubunganku dengan Bli Komang baik-baik saja, seperti layaknya sepasang pengantin baru. Kami melakukan banyak aktifitas bersama, makan, jalan-jalan, kadang mandi berdua dan semua kegiatan layaknya sebuah keluarga. Tak terasa waktu terus berjalan setahun berlalu lahirlah putri kami yang pertama. Kebahagiaan terasa semakin lengkap oleh kehadiran buah cinta kami. Aku tetap bekerja di supermarket, dan suamiku tetap bekerja sebagai seniman.

Seiring waktu berjalan, putri pertamaku sudah 2 tahun, dia sehat dan sangat lucu, membuat suka cita kami terasa sempurna. Kami pun berniat untuk memiliki momongan lagi, karena sudah kami rencanakan bersama saat masih pacaran, ingin punya dua anak. Tak lama berselang aku pun hamil kembali.

Sembilan bulan berlalu lahirlah buah cinta kami yang kedua, seorang putri yang cantik, mungil dan sehat. Dia adalah refleksi cinta kami berdua. Aku sangat senang dengan kelahirannya. Namun ternyata kebahagiaanku itu tak bertahan lama, tak lama berselang, Bli Komang mulai terjadi perubahan. Dia seperti menjauh dariku. Dia jarang sekali mau bicara padaku tanpa aku tahu alasannya. Aku mencoba membuka pembicaraan untuk mengetahui akar permasalahan dan mendapatkan solusinya, tetapi ternyata menemukan jalan buntu.


Bli Komang malah semakin menjauh, bahkan tidur pun kami jarang bersama lagi. Dia benar-benar seperti asing bagiku.


Permasalahan ini terus berlanjut hingga berbulan-bulan dan aku mulai merasa sendiri tanpa kasih sayang dari Bli Komang lagi. Rasanya sedih sekali diabaikan meskipun kami tetap tinggal serumah. Aku berusaha bertahan demi untuk kedua putriku. Mengabaikan kesedihanku karena perlakuan Bli Komang padaku. Dia tidak saja jarang komunikasi, melakukan kewajibannya sebagai suami terhadapku juga sangat jarang. Aku mulai merasakan kesepian, dan kebutuhan biologisku tidak terpenuhi. Tapi aku hanya bisa diam dan menerima keadaan itu.

Suatu hari dalam sebuah acara hajatan tetangga di kampung aku bertemu dengan seorang laki-laki yang juga dari kampung yang sama, sebut saja namanya Pak Ketut. Aku dan Pak Ketut juga keluarga sebenarnya memang sudah saling mengenal karena kami satu lingkungan. Aku sebut Pak Ketut karena dia lima belas tahun lebih tua dariku. Aku kenal dia sebagai seorang pengusaha yang cukup berhasil, hidupnya sudah sangat mapan, sudah berkeluarga dan juga punya anak, bahkan hampir semua warga kampung mengenalnya.

Saat itu kami kebetulan duduk berdampingan dan Pak Ketut menyapaku berusaha membangun komunikasi dan keakraban. Tak terasa obrolan kami mengalir begitu saja hingga usai acara, rupanya kami sudah dua jam dalam keakraban yang sebelumnya tidak pernah terjadi, dan aku merasakan ada perasaan nyaman dengannya. Hingga pada akhir obrolan, Pak Ketut meminta nomor hp ku. Akupun memberikannya begitu saja dan aku juga menyimpan nomornya, lalu bergegas pulang.

Pertemuan itu berlalu begitu saja, tak terasa sudah lebih seminggu, tak pernah lagi ketemu juga tidak ada komunikasi apapun karena awalnya aku pun tudak begitu memikirkannya. Hingga pada suatu malam, ketika aku hendak beranjak tidur ada WA masuk, saat aku baca ternyata Pak Ketut menyapaku dan menanyakan kabarku. Aku menjawabnya dan tanpa disadari malam itu kami chatting hingga jam dua dini hari.

Kami saling cerita kehidupan keluarga masing-masing dan Pak Ketut sepertinya berusaha memahamiku dan memberiku dukungan saran dan pemikiran. Aku mulai merasa semakin nyaman dengannya. Seperti mendapatkan tempat mengadu yang selama ini hilang karena perubahan yang terjadi pada Bli Komang setelah kelahiran putri kedua kami.

Sejak malam itu, Pak Ketut makin sering menyapaku, memberiku perhatian dan dukungan, aku mulai merasakan kokosongan dalam hatiku terisi lagi oleh kehadiran Pak Ketut, walau aku sendiri juga tahu Pak Ketut punya keluarga. Namun semakin lama komunikasi kami bertambah akrab, Pak Ketut sering telepon dan kadang sesekali video call. Kami berbicara tentang berbagai hal hingga lupa waktu. Pak Ketut benar-benar tahu memperlakukan aku dengan baik hingga aku semakin nyaman dengannya, bahkan ketika dia tidak sempat menyapaku karena ada kesibukan, mulai terasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupku.


Semua mengalir begitu saja, hingga aku tidak menyadari bahwa hubungan kami semakin akrab.


Suatu hari tak terduga Pak Ketut menelepon untuk menawariku makan malam sambil ngobrol, katanya kebetulan lagi senggang dan keluarganya sedang ada acara di daerah lain, meski awalnya ada keraguan, akhirnya aku putuskan menerima tawaran itu. Dan sepakat ketemu di sebuah supermarket di perbatasan desaku, lalu kami pergi bersama naik mobil Pak Ketut.

Malam itu aku diajak makan malam di sebuah rumah makan yang cukup favorit, suasana tenang dengan lampu temaram, dan ada nyala lilin yang semakin menambah kesan romantis malam itu. Kami menikmati makan malam sambil ngobrol ringan, sesekali diselingi gurauan dan suasana semakin hangat dan waktu berlalu begitu cepat.

Usai makan, masih duduk di meja yang sama, berhadapan di bawah temaram sinar lampu dan dan kelap kelip cahaya lilin, Pak Ketut menantap mataku dalam-dalam, aku grogi dan kebingungan tak sanggup membalas tatapannya. Lalu dia menyebut namaku dan menyentuh jariku, lalu pegang tanganku sambil terus menatapku, lalu dia mulai menyatakan perasaannya padaku, aku bingung dan ragu. Karena aku menyadari masing-masing punya keluarga, tapi disatu sisi aku mulai merasakan aku membutuhkan kehadirannya.

Singkat cerita akhirnya malam itu aku menerima Pak Ketut dalam kehidupanku, dari situlah dosa itu dimulai, dan malam itu aku tak kuasa menolak ajakan Pak Ketut yang begitu pandai membuatku merasa nyaman dan menerimanya. Meski Pak Ketut bukan orang yang berparas rupawan, namun perhatiannya telah meluluhkan dan menaklukan hatiku.

Setelah melampaui keraguan yang melanda dalam diriku akan status dan perasaan berdosa, akhirnya malam itu kami melakukan hubungan seperti layaknya suami istri di sebuah penginapan yang tidak jauh dari tempat kami makan. Aku merasakan hidup kembali sejak sejak saat itu, dan pulang dengan perasaan yang sumringah, walau ada perasaan was-was. Malam itu kami sepakat untuk menggunakan panggilan papa dan mama.

Sejak malam itu kami sering ketemu, walau harus nyuri-nyuri kesempatan dari keluarga masing-masing. Kami mulai seperti ketagihan, saling ketergantungan dan perasaan semakin dalam, namun hubungan dengan Bli Komang justru semakin hambar. Aku pun mulai tak tertarik lagi padanya, tergerus oleh kehadiran si papa dalam anganku. Papa semakin sering menemuiku, termasuk datang ke tempat kerjaku hanya sekedar untuk membawakanku makan atau makan bersama.

Tak jarang kami melepaskan kerinduan di dalam mobil si Papa diparkiran tempat kerjaku, yang membuatku semakin merasa dibutuhkan dan dihargai. Selain perhatian, Papa juga orang yang sangat loyal padaku, setiap kali aku kehabisan bekal, papa selalu memberiku uang saku, kadang lima ratus ribu, kadang satu juta rupiah. Bahkan papa tak segan-segan membelikanku sebuah mobil untukku. Papa sangat memanjakanku, yang buat aku takut kehilangan dirinya.


Akhirnya jadi rahasia umum, semua teman kerja tahu aku punya hubungan terlarang itu dengan papa, aku pun tak ada rasa malu lagi untuk mengakuinya kepada teman-teman, karena nyatanya aku semakin kuat terikat perasaan kepada si papa. Mereka juga tahu seperti apa si papa kepadaku. Begitulah terus berlanjut dan aku semakin akrab dengan dosa itu hingga hari ini.


Pernah suatu ketika si papa sedang menemaniku makan di kantin, ternyata Bli Komang juga datang mencariku, entah karena alasan apa, dan karena merasa bersalah aku jadi grogi dan kebingungan ketika Bli Komang tiba-tiba ada disebelahku. Untungnya tidak timbul permasalahan waktu itu, tapi aku tak tahu apakah Bli Komang curiga padaku atau tidak, namun yang pasti hubunganku dengan si papa masih terus berlanjut. Dan entah sampai kapan? Hanya waktu yang akan bisa menjawab.

Diakhir tahun 2017 hal yang tak terduga terjadi padaku, rasanya kaget dan bingung kepalang, betapa tidak saat waktunya datang bulan, ternyata aku tidak menstruasi. Tentu saja aku sangat khawatir jika ternyata aku hamil karena suamiku sudah sangat lama tidak pernah berhubungan denganku. Untuk mengatasai perasaan takut dan bingungku, Papa pun mengajakku periksa ke dokter untuk memastikannya.

Dan ternyata dari hasil pemeriksaan aku benar-benar hamil. "Bayinya laki-laki bu, apa mau di teruskan?" begitu kata dokter. Sebenarnya ingin sekali aku membiarkan bayi itu bertumbuh, mengingat anak-anakku hanya permempuan keduanya. Tapi karena aku dan suami tidak pernah berhubungan tentu akan menjadi pertanyaan besar jika tiba-tiba aku hami, sehingga akhirnya tidak bisa aku pertahankan.

Di lain sisi saudara Papa juga mulai sering menghubungiku berusaha mengajakku jalan, walau aku berusaha untuk terus menolaknya. Namun dia pantang menyerah, dia juga sangat baik dan murah hati padaku. Aku menyebutnya si Pipi. Meski begitu aku sendiri sudah menetapkan komitmen dalam hati, untuk tidak melayani keinginannya, dan akan terus bersama si Papa.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya