Covid-19 yang Menyebabkan Terbentuknya Pola Hidup New Normal

Pemerintah Indonesia memberikan kebijakan pola hidup New Normal saat pandemi

Pada saat maraknya penyakit cacar, penemu vaksin cacar, Edward Jenner, dengan susah payah mendapat pengakuan atas keberhasilannya. Berkat penemuan itu, penyakit cacar dapat diusir dari muka bumi setelah hampir 180 tahun.  Lalu ada penemuan Vaksin untuk menjinakkan bakteri tuberkolosis Albert Calmette dan Camille Guerrin yang bekerja di Institut Pasteur, Perancis, berhasil menjinakkan bakteri tuberkulosis yang berasal dari sapi untuk dijadikan vaksin, dinamakan BCG. Vaksin ini berhasil mencegah infeksi tuberkulosis pada manusia. Tahun 1951 Hadiah Nobel untuk bidang kedokteran, satu-satunya terkait penemuan vaksin, diberikan kepada Max Theiler yang berhasil mengembangkan vaksin demam kuning yang efektif dan aman.


Lalu bagaimana dengan vaksin untuk mencegah Covid-19?


Ada 120 calon vaksin dikembangkan di berbagai laboratorium atau perusahaan biofarmasi di seluruh dunia. Perusahaan Sinovac Biotech Tiongkok menggunakan virus yang sudah dimatikan (inaktivasi) telah berhasil menimbulkan kekebalan pada monyet dan aman bagi manusia. Dan adapun Vaksin yang dikembangkan Universitas Oxford tak menimbulkan kekebalan pada monyet. PM Inggris Boris Johnson, yang selamat dari Covid-19, meragukan pengembangan vaksin akan berhasil. ”Kita harus menemukan cara lain untuk mengendalikan virus ini,” katanya. Kalbe (Indonesia) dan Genexine (Korsel) merencanakan uji klinik atas vaksin GX-19 berbasis DNA(sesuai informasi dari RNA virus) yang sudah terbukti dapat mencegah infeksi virus penyebab Covid-19 pada monyet. Pengembangan vaksin ini tentu tidak didasarkan pada perhitungan komersial, tetapi mengisi celah kemungkinan jika jumlah unit vaksin yang dibutuhkan di seluruh dunia tak mencukupi.

Pada saat vaksin Virus Corona belum ditemukan, pemerintah Indonesia memberikan kebijakan pola hidup New Normal saat pandemic Covid-19. Sekalipun jumlah kasus terus bertambah dan korban Covid-19 masih berjatuhan, euforia menuju normal baru (the new normal) di Indonesia begitu membuncah. Bahkan, data Ismail Fahmi dari Drone Emprit menunjukkan, Indonesia paling bersemangat menyuarakan istilah ini di jagat media sosial Twitter.

Kata normal baru disebutkan 86.569 kali di Indonesia, disusul Amerika Serikat 11.073 kali, Inggris 8.039 kali, dan India 3.836 kali. Mereka yang paling riuh menyuarakan normal baru ini adalah akun yang berasosiasi dengan Polri, serta para pendukung pemerintah dengan tagar utama ”#NewNormal” dan ”#TataKehidupanBaru”. Ada sebuah penjelasan bernama The 4 Mega Shift Consumer Behavior,yaitu Stay At Home Lifestyle, The Bottom of The Pyramid, Go Virtual dan, Emphatic Society. Apakah kita siap melakukan New Normal ? Siap tidak siap harus kita lakukan. Meskipun bebas dari kata kerja, secara sintaksis, normal baru merupakan frasa yang menyiratkan tindakan. Ini menunjuk pada keberadaan kode tersembunyi tentang bagaimana kita harus bersikap sehingga frasa ini berpeluang menjadi alat komunikasi yang efektif.

Dengan cepat, frasa aktual yang diterjemahkan dari bahasa Inggris ini menjadi populer di kalangan publik setelah berulang kali diwacanakan pemerintah. Normal baru seolah menjadi muara dari rentetan narasi ”kurva harus melandai di bulan Mei” dan ”saatnya berdamai dengan korona”.  Berikutnya, pemerintah daerah berkreasi dengan frasa PSBB (pembatasan sosial berskala besar) dengan pelonggaran dan PSBB dengan pengecualian yang diperluas, dan bukan tidak mungkin nantinya PSBB tanpa pembatasan.

Pemerintah memang menyampaikan bahwa normal baru tetap harus dengan menerapkan protokol ketat, seperti memakai masker dan rajin cuci tangan. Namun, dalam komunikasi massa, publik biasanya hanya akan menangkap kesan pertama yang menyenangkan dan mengabaikan anjuran berikutnya yang memberatkan. Daripada mendengungkan normal baru, pemerintah sebaiknya fokus meningkatkan kapasitas dan memberikan stimulus sosial ekonomi agar masyarakat lebih disiplin menerapkan pembatasan guna menekan penularan.

Harus ada bukti bahwa transmisi virus korona dikendalikan, kapasitas sistem kesehatan mampu mengantisipasi potensi ledakan kasus lagi dengan tes, penelusuran kontak dan perawatan, meminimalisasi risiko penularan di wilayah dengan kerentanan tinggi, memantau risiko penularan impor kasus, dan melibatkan masyarakat. Jika syarat-syarat itu terpenuhi, bahkan tanpa mengerahkan juru propaganda, masyarakat pun akan kembali produktif seperti semula.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis