Masih sangat jelas diingatanku 3 tahun yang lalu aku mengenalmu melalui salah satu akun media sosial. Kamu menyapaku dengan ramah disertai dengan stiker lucu.Aku yang pada saat itu masih diselimuti luka di masa lalu hanya menjawab pesanmu dengan singkat. Seiring berjalannya waktu, kamu memposisikan diri sebagai teman untuk berbagi keseharianku. Dan tibalah waktunya aku dan kamu bertemu untuk pertama kalinya.Kamu menjemputku tepat di depan rumahku, aku menyapamu seakan-akan kita sudah pernah bertemu dan berteman sejak lama.


Tidak ada rasa canggung diantara kita,yang ada hanya tawa dan canda sepanjang perjalanan di malam hari itu.Malam itu juga aku memberimu status sebagai sahabatku, aku bersyukur kepada Tuhan karena telah menghadirkanmu di hidupku.


Advertisement

Setelah pertemuan itu, aku dan kamu menjadi lebih dekat.Kamu sering menanyakan kabarku begitu juga sebaliknya.Dan pada akhirnya rasa yang tidak ingin aku hadirkan diantara kita ,itu muncul. Rasa yang sampai saat ini ,saat aku menulis ini masih kurasakan, Aku jatuh cinta padamu.Berulang kali aku ingin mematikan rasa ini tapi aku tidak bisa,dan pada akhirnya aku mengungkapkan padamu bahwa aku mencintaimu. Aku juga masih ingat bagaimana tanggapanmu saat aku mengungkapkan itu, kamu terlihat tidak percaya tapi aku meyakinkannya padamu. Di saat itu juga kamu menceritakan bahwa kamu mencintai wanita lain, wanita yang sudah kamu inginkan sejak lama.Aku menerima itu,dan mengatakan bahwa kamu tak perlu membalas perasaanku.


Tapi ternyata hatiku tak kuat seperti yang ada di dalam pikiranku.


Hatiku patah di saat aku tahu kamu menjalin hubungan dengan wanita yang kamu cintai itu.Pada awalnya aku pura-pura ikut bahagia,memberikan ucapan selamat,menerima semua cerita bahagiamu dengan kekasihmu.Perlahan aku mundur dan menjauh darimu.Kamu menyadarinya dan bertanya padaku penyebabnya.Aku mengungkapkan dengan jelas dan lugas bahwa aku tidak bisa berteman dan bersahabat dengan orang yang aku cinta.Kamu memahaminya tetapi mencegahku untuk pergi dengan alasan akulah satu-satunya sahabat di hidupmu.

Advertisement

Aku mengesampingkan rasa sakitku, aku berusaha untuk menjadi orang yang selalu ada di saat kamu sedih.Aku tahu kamu datang kepadaku di saat kamu sedang bermasalah dengan wanitamu tetapi aku hanya berpura-pura tidak tahu agar aku bisa menghiburmu.Aku juga masih ingat bagaimana perjuangan kamu untuk menyelesaikan kuliahmu,kamu memintaku untuk membantumu menyelesaikan tugas-tugasmu.Aku abaikan semua lelahku untukmu.Tapi ternyata kamu tidak mengundangku di saat sidang dan perayaan wisudamu. Berulang kali aku memukul dadaku yang sesak melihat foto wisudamu dengan didampingi wanitamu, berulang kali aku menghapus air mataku di belakang punggungmu disaat aku sadar kamu bukan milikku.


Apakah kamu masih ingat, bahwa kamu mengatakan kamu jatuh cinta denganku tetapi tidak bisa melakukan apa-apa?


Sekarang aku memilih mundur.Aku sadar tidak ada tempat di hatimu untukku.Terima kasih untuk semua suka dan luka yang kamu berikan,serta pengharapan yang kamu bangun tinggi untukku.Aku tak menyalahkanmu atas rasa sakitku.

Mulai detik ini aku mengikhlaskanmu pergi dari sisiku.Terima kasih sudah merelakan dan tidak mencegahku untuk pergi seperti dulu.Aku percaya Tuhan akan memberikan seseorang yang aku butuhkan, bukan yang aku inginkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya