Ananda pernah melihat indahnya pelangi. Ananda juga pernah melihat derasnya hujan. Tetapi, Ananda belum pernah melihat senja dan pantai. Semua puisi serta tulisan Ananda selalu tertuju pada senja dan pantai. Namun, pada kenyataannya Ananda sedang meraba keindahannya. Suara angin di pantai selalu Ananda bayangkan sebagai desiran angin paling menyejukkan, indahnya langit senja selalu Ananda bayangkan sebagai warna paling indah yang diciptakan Tuhan.

Ananda ingin bercerita tetapi tak ada yang mau mendengar, mereka lebih suka sibuk mencari kesalahan Ananda. Ananda hanya ingin melihat dua keindahan itu, apa salah? Detik jam terus berputar, Ananda telah sering melewati fase terabaikan yang sangat panjang, Ananda juga sudah pernah merasa sangat terhina, dan Ananda juga pernah merasa menjadi manusia kerdil di antara yang lain. Bahkan Ananda memiliki masa yang kelam tepat di 17 tahun Ananda. Ananda begitu lemah kala itu, Ananda begitu hancur bahkan setiap hari hanya sendu yang menemani.

Tetapi, sekarang Ananda sudah siap menjadi dewasa yang tak kenal lelah, tak kenal putus asa dan tak takut merasa sendiri. Sebuah pengalaman kelam akan membawa Ananda menemui senja dan pantai dengan langkah Ananda sendiri. Terima kasih untuk orang-orang yang pernah mem-bully Ananda waktu sekolah dasar. Terima kasih untuk orang-orang yang mengabaikan setiap pendapat Ananda. Terima kasih untuk orang-orang yang selalu menganganggap Ananda tak ada, dan terima kasih untuk orang-orang yang telah mengajari Ananda, memberi Ananda cambuk untuk meraih semua cita-cita dengan kesendirian Ananda.

Kini Ananda merangkak mencari peraduan agar hati Ananda lega dan tenang. Suatu masa yang paling menyedihkan adalah saat Ananda dianggap tidak ada. Bahkan kehadiran Ananda dihindari oleh mereka. Saat Ananda MOS, Ananda takut sekali, takut untuk merasakan faktor bully dan ketidak adilan lagi. Ah sudahlah, usia Ananda 18 tahun saat ini dan Ananda sudah siap berjuang walau banyak orang yang meremehkan Ananda. Ananda tak pernah membenci mereka, karena Ananda tak ingin merusak hati dengan dendam.

Tolong jangan ada bullying lagi, karena kalian tak pernah tahu bagaimana perasaan si korban dalam diamnya. Hargailah setiap kehadiran seseorang, karena kalian tak pernah tahu semerana apa hatinya saat kesendirian. Tolong bersikap adil untuk mendengar pendapat seseorang, karena kalian tak pernah tahu sekeras apa dia berpikir. Terakhir, tolong jangan remehkan setiap cita-cita yang dicetuskan oleh seseorang, karena kalian tak pernah tahu bagaiamana usaha selama ini dan tiba-tiba langsung down setelah mendengar cibiran kalian.

Advertisement
Terima kasih untuk kalian.

Tertanda Ananda