Benarkah sebuah keluarga dikatakan utuh,bila di dalamnya terdiri dari seorang ayah yang bertanggung jawab, seorang ibu yang merawat anak-anaknya supaya selalu sehat dan pintar? Berkelimpahan harta serta kehidupan keluarga yang tidak pernah diliputi dengan permasalahan? Jika itu benar,pantaskah mereka yang terlahir tanpa salah satu dari orang tua mereka atau bahkan sampai keduanya di katakan berbahagia?

Aku tak pernah tahu dan pula tak bisa memilih dari rahim siapa aku dikandung dan dilahirkan. Ketika tiba waktunya terlahir ke dunia, aku masih belum mengerti "mengapa saat itu aku menangis?" Apa aku telah benar-benar melihat dunia ketika secerca cahaya menerpaku? Kucoba tuk melihatnya dari celah-celah kedua bola mataku yang masih enggan terbuka. Akupun belum bisa melihat dengan jelas bahkan mengenali siapa "dia" yang memelukku dan menciumiku dengan haru.

Bahkan ketika aku menulis ini, aku tak tahu apakah memang benar seperti itu yang aku alami dan rasakan? Aku hanya mencoba mengambil dengan sudut pandang dari apa yang telah ku sangsikan, bagaimana seorang anak terlahir ke dunia. Ketika usiaku 2 tahun, aku hanya hidup bersama dengan ibuku. Begitu yang dikatakan sanak saudaraku. Ayah dan ibuku bercerai ketika aku belum mengenali siapa ayah kandungku. Setiap kali di tanya sanak saudaraku ataupun orang lain yang berkaitan dengan ayahku, aku selalu cuek dan bahkan malas untuk membicarakannya. Bagiku hidup bersama ibuku saja sudah cukup. Pernah suatu kali, saat itu ibuku bekerja dan harus lembur, pamanku sampai mengantarkanku menyusul ibuku karena aku menangis dan hanya ingin bersama dengan ibuku saja.

Bila ditanya apa dan bagaimana cerita bersama dengan ibuku,mungkin disini tidaklah cukup untuk bisa menuliskannya. Karena dari sejak kecil sudah banyak yang ku lewati bersama ibuku. Baik susah ataupun senang, ibuku selalu bersama denganku. Bahkan ketika usiaku sekarang menginjak dewasa, ibuku masih saja menganggapku sebagai putri kecilnya. Apalagi ketika aku harus bepergian dan aku memilih pakaian sesuai keinginanku dan itu menurut ibuku tidak sesuai dengan pandangan orang lain. Meskipun itu hal yang sepele tapi bagiku hal yang paling tidak menyenangkan karena aku sampai harus berdebat dengan ibuku.

Ibuku adalah alarm yang paling tak bisa ku hentikan detak deringnya. Ketika ku coba untuk mengabaikannya, beliau bahkan tak hentinya membangunkan, sampai benar-benar diriku beranjak dari kenyamananku. Alarm ketika ku mencoba melawan dengan keegoisanku. Alarm ketika aku lupa. Bahkan disaat aku ingat beliau adalah orang yang paling super marahnya karena kebiasaan burukku itu. Dan yang paling membuatku tak henti-hentinya berpikir adalah alarm ketika ibu ku mulai bertambah usia dan aku belum bisa membuat beliau berhenti bekerja. Ketika aku merasa takut jika pencapaian yang ku dapatkan ini hanya semata-mata untuk diriku. Ketika aku sedih harus meyakinkan ibuku kalau aku masih berusaha mewujudkan impianku untuk orangtuaku, ketika beliau bercerita tentang teman-temanku bahkan saudaraku yang bisa memberikan uang mereka yang banyak dari gaji mereka yang lebih. Bagiku ini adalah alarm dimana aku harus bergegas menjemput apa yang selama ini aku impikan dan tidak menundanya lagi karena alasan.

Dari beliau aku mengenal bagaimana menjadi seorang ibu sekaligus ayah yang merawat dan membiayai segala kebutuhanku bahkan keinginanku. Sebelum aku membuka mata, semua sudah tersedia baik itu makanan atau keperluanku yang lain. Sejak dini secara tidak langsung aku belajar bagaimana itu berjuang. Membagi waktu dan menyelesaian tanggung jawab bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan seorang diri. Itulah yang aku rasakan dari ibuku. Tapi dari sinilah aku belajar hidup mandiri. Bahkan jika aku ingin membeli barang atau sesuatu yang aku inginkan aku harus menabung dari uang sakuku sendiri. Karena seperti tak tega bila harus membuat beliau sedih karena beragamnya keinginanku apalagi itu berhubungan dengan uang.

Dalam lubuk hati yang dalam ingin rasanya bertanya pada beliau. Apakah beliau bahagia menjalani kehidupan seperti ini? Berjuang seorang diri demi membesarkanku. Menjadi seorang ibu dan tulang punggung keluarga. Ingin rasanya ku tahu rumus apa yang beliau pakai untuk tetap kuat dihadapanku. Bahkan ketika sakit. Tak satupun terlihat tanda kelelahan yang diperlihatkan beliau kepadaku. Pernah suatu kali aku bertanya kepada beliau,"kenapa bisa begitu?", beliau hanya menjawab dengan sederhana. "Karena justru kalau tidak bekerja rasa sakit akan lebih terasa. Jadi di buat bekerja saja."

Kegagalan dalam berumah tangga tidaklah untuk sekali itu, beliau menikah untuk ke dua kalinya, ketika aku kelas 2 sekolah dasar saat itu masih semester awal. Belum genap satu tahun usia pernikahan, ibuku harus bercerai kembali dengan ayah tiriku. Memang ibuku setelah menikah untuk kedua kalinya ini harus meninggalkan pekerjaannya dan fokus menjadi ibu dari ketiga anaknya. Aku dan ke dua saudara tiriku. Namun aku tak pernah membayangkan kehidupan semakin rumit saja dengan bumbu-bumbu tetangga yang setiap hari menambah pudarnya rasa dalam keluarga.

Meskipun masih kecil,tapi aku harus ikut merasakan bagaimana perjuangan ibuku, yang harus berhenti mencintai dan harus mengubur kembali kebahagiaan yang mungkin secara utuh belum sempat ternikmati. Tapi aku juga tak bisa menyalahkan ibuku atau mantan ayah tiriku. Padahal semua urusan kepindahanku dari sekolah dan semuanya sudah mulai selesai terurus tapi apa daya kenyataan berkata lain. Aku harus meninggalkan teman-teman bahkan saudara yang masih belum lama ku kenal. Ini mungkin semua berawal dari apa, aku masih belum tahu. Namun yang ku tahu ibuku ingin menyusul aku pulang ke rumah nenekku. Karena dulu, akulah yang sebelumnya kembali terlebih dulu ke tempat nenek ku. Dan aku tidak pernah menyangka ibuku harus bercerai dan kembali bersama-sama denganku. Kembali hanya hidup berdua denganku. Tanpa seorang suami, tulang punggung keluarga. Pernah aku berpikir apakah aku alasan ibuku harus mengakhiri pernikahannya kembali?

Ku ikuti setiap alur cerita hidup yang semakin hari mendewasakanku. Ibuku dan aku mulai menata kehidupan kembali,meskipun aku tahu ini berat bagi ibuku. Rasanya hidup dalam keluarga broken home sepertinya sangat cocok denganku. Karena seperti dilihat mata orang lain ibuku harus bekerja kembali dan merawatku seorang diri lagi seperti tidak pernah ada masalah apa-apa dalam keluarga kami. Gumamku dalam hati. Berkali-kali ingin rasanya aku menyalahkan Tuhan. "Kenapa harus aku? Apakah aku tidak layak mendapatkan kebahagiaan dalam keluarga seperti teman-temanku? Atau apa salah ibuku ?" Pertanyaan-pertanyaan itu bahkan pernah menjadikan kepahitan dalam dirku yang membenci kaum laki-laki. Tapi lagi-lagi aku tidak bisa menyalahkan keadaan ini.

Keadaan setiap hari selalu tak bisa ku tebak. Banyak hal yang tak terpahami bahkan dengan naluri sekalipun. Kelas 5 sekolah dasar,ibuku menikah lagi untuk ketiga kalinya. Kali ini memang usianya jauh lebih tua dengan ibuku. Dalam hati kecilku, lagi-lagi ibuku belum penah menanyakan pendapatku tentang keputusannya menikah lagi. Atau mungkin karena aku masih kecil dan belum bisa berpikir dewasa? Aku takut jika beliau harus kecewa untuk kesekian kalinya lagi. Tapi apapun keputusan beliau akupun tak bisa berbuat banyak. Sebagai seorang anak,aku selalu mendoakan semoga ini yang terakhir untuk ibuku.

Selama masih hidup di dunia ini,kemanapun dan dimanapun kita berdiri selalu saja ada orang yang ingin menjatuhkan kita. Karena sebaik-baiknya kita selalu buruk dimata mereka yang tidak menyukai kita. Kehidupan rumah tangga ibuku harus dihujani kabar yang tak sedap hampir setiap harinya karena ada beberapa orang yang tidak suka dengan kehadiran ku serta ibuku dikeluarga baruku. Ditambah lagi dengan saudara tiriku yang selalu mendapatkan hasutan dari orang yang sama pula. Sebenarnya saudara tiriku baik, tapi entah kenapa dia selalu berpikiran aku akan merebut harta warisan.

Padahal sama sekali aku dan ibuku tak pernah berpikiran seperti itu. Begitu sabarnya ibuku. Itupun ibuku orangnya tidak diam dirumah, enak-enakan santai atau hal mudah lainnya. Bagaimana kalau misalnya dirumah? Mungkin bisa lebih parah lagi. Karena suatu kali aku pernah mendengarkan dengan mata dan telingaku sendiri mereka membicarakan ibuku. Beliau setiap pagi harus bangun pagi untuk menyiapkan makan dan lainnya untuk aku dan setelah itu bekerja samapai sore hari dan kembali menjadi ibu rumah tangga lagi. Tapi apapun dan bagaimanapun itu semua kesabaran yang membuat aku dan ibuku bisa bertahan sampai sekarang ini.

Aku baru merasakan bagiamana dicintai dan mendapatkan kasih sayang seorang ayah meskipun beliau adalah ayah sambungku. Beliau melebihi ayah kandungku sendiri. Tapi sekarang beliau harus terbaring lemah dan tidak bisa bekerja maksimal setelah awalnya karena kecelakaan motor,dan kecelakaan kerja yang membuat jari serta kaki ayahku tidak bisa normal seperti sebelumnya. Di sini aku jauh lebih melihat kedalam dimana ibuku adalah Super Woman yang mana harus bekerja ,menjadi ibu serta merawat ayahku yang sakit pula. Mungkin jika itu aku , apakah aku bisa sesabar itu? Beliau lagi-lagi harus menjalani kehidupan sebagai seorang ibu dan bahkan menggantikan sementara posisi ayah yang sekarang tidak bisa bekerja. Dari itu semua aku benar-benar melihat bagaimana arti menjadi tulang punggung dari segala kesabaran dan tangguhnya ibuku menjalani itu semua.

Untukmu saudaraku, meskipun kita tak sedarah,izinkan aku dan ibuku perlahan meyakinkanmu, bahwa tidak semua ayah atau ibu sambung selalu jahat. Dan cobalah buka pikiran dan hatimu kita bersama sebagai keluarga dan bukan orang asing yang harus saling menyerang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Ijinkan kami memperbaiki salah dan lupa kami. Untukmu ayah sambungku, darimu aku bisa merasakan kasih sayang seorang ayah.

Dan untukmu ibu,tidak ada kata yang bisa membayar apa yang sudah kau perjuangkan selama ini untukku. Darimu aku belajar bagaimana menjadi tulang punggung. Berjuang sendiri memang tidaklah mudah,begitupun ayah yang pasti sebenarnya tak tega membiarkan ibu melakukan ini sendiri. Tak ada yang bisa kuberikan untuk membalas semua ini padamu,tapi izinkan disetiap hariku selalu berjuang bersamamu merawat ayah,meskipun dalam ketidakmampuanku yang masih selalu membuatmu sedih ibuku. Terimakasih untuk kasih sayangmu yang melampaui kekuatanmu sendiri ibu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya