Kau pasti takkan pernah lupa.

Hari itu adalah hari untuk kali pertamanya kau melihat raut pandang ayah ibumu yang seperti itu. Mungkin kau hanya melihat apa yang bisa kau lihat saat itu, raut muka yang mengartikan kesedihan dibalik senyumannya. Tapi apakah kau tahu, tak hanya sekedar itu saja. Raut sedih itu adalah ketidakikhlasan mereka atas kepergianmu. Memang yang kau tau mereka setuju atas keputusanmu, namun kau tak tahu butuh beribu keyakinan yang harus mereka kumpulkan agar bisa menerima kenyataan bahwa anaknya akan hidup tanpa jangkauan dan perlindungan dari mereka.

Advertisement


Karena mereka menganggapmu lebih dari diri mereka sendiri, itu sebabnya kau dibawah perlindungan kasih sayang dan cinta mereka. Mimpi, cita-cita, harapan, dan masa depan. Adalah alasan yang kau punya saat itu. Dengan tekad kuatmu kau yakin jika kau pergi maka semua itu akan jadi kenyataan dan itulah yang membuatmu bahagia.


Lalu, apalagi yang bisa mereka ucapkan atas pernyataan dan semangatmu itu? Belum apa-apa saja sudah membuatmu bergelora, apalagi jika mimpimu menjadi nyata, kau akan tersenyum bahagia. Pasti itu, pikir mereka. Resikonya, sangat berat bagi mereka. Bahkan resikonya jauh-sekali lebih berat daripada percintaan rindu Dilan pada Milea. Rindunya padamu tiada bandingnya dengan rindu apapun di dunia ini.

Tidakkah kau masih ingat, koper yang kau dorong itu apa isinya? Barang-barang yang kau bawa untuk kehidupanmu diluar sana. Tapi tak sesederhana itu bagi mereka. Jika kau setuju dan memperbolehkan, akan mereka isi koper itu dengan seluruh barang—barang yang ada di rumah. Semuanya. Agar ditempat barumu, kau takkan kesulitan.

Advertisement

Apa saja yang kau bawa? Itu yang kau bawa? Yang selain itu tidak kau bawa?” tanya mereka saat kau tengah berkemas. Tapi kau tak tahu, dalam hatinya, masih banyak pertanyaan yang sulit terutarakan padamu.

Setelah kau tiba ditempat barumu, kau bertemu dengan suasana baru. Kau mencoba membaur. Kau mencoba beradaptasi meski nyatanya itu tidaklah semudah yang kau bayangkan sebelumnya. Tapi kau masih dengan tekadmu itu. Mimpi dan cita-cita.

Lalu, tahukah apa yang sedang mereka lakukan di rumah tanpamu? Memikirkanmu. Mengkhawatirkanmu. Terus begitu tanpa henti. Mungkin kau hanya tau, saat mereka menghubungimu, hanya beberapa pertanyaan dan itu terus mereka ulangi setiap kali mereka menghubungimu.

“Sedang apa kau sekarang? Kau sudah makan? Apa yang kau makan? Bagaimana di sana? Kau betah?

Kau hanya bisa mendengar dan menjawab ringan pertanyaan itu. Namun tidakkah kau tahu mengapa hanya pertanyaan—pertanyaan seperti itu saja yang mereka ucapkan? Karena jika mereka mengungkapkan seribu pertanyaan atas kekhawatirannya padamu, itu pasti tidak mungkin bagi mereka. Mereka tak sanggup jika kau terganggu atas kekhawatirannya yang diungkapkan kepadamu.

Apalagi jika kau perempuan, menurutmu bagaimana perasaan mereka? Jujur saja, jika kau melihat sesuatu yang mampu mengingatkanmu pada mereka, kau pasti akan menangis, paling tidak kau merasakan rindu.


Tapi berbeda dengan mereka. Kau mungkin hanya sesekali saja merasakan itu karena kesibukanmu dalam mewujudkan mimpimu itu. Tetapi mereka merasakannya setiap hari, bahkan tak berjeda sekalipun.


Disela-sela kerinduan dan bayang-bayang kekhwatiran mereka padamu itu, mereka selalu memberikan doanya kepadamu. Untuk apa? Agar mimpimu lekas menjadi nyata. Pasti hanya itu saja yang kau tahu, bukan? Asal kau tahu, mereka berdoa agar mimpimu segera terwujud, kau dalam keadaan baik-baik saja. Sehingga kau bisa lekas pulang dan kembali ke pelukan mereka dengan keadaan selamat.

Kalau sudah tahu semua itu, apa yang akan kau lakukan sekarang? Hanya berdiam diri dan sesekali mengeluh karena hal ini-itu yang memberatkanmu? Percayalah. Doa mereka selalu untukmu. Sekarang, fokus saja pada tekadmu itu. Dan jika itu sudah terwujud, lekaslah pulang, mereka selalu menanti dirimu di sana.

Sungguh.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya