Dear Lion Air..

Aku di sini bukan siapa–siapa, bukan pula bagian dari Lion Air. Tapi aku pernah merasakan kebersamaan denganmu. Saat ini, kamu sedang di uji kesabaran oleh Allah, bukan aku menyalahkanmu, maklumi saja. Tidak ada seorang pun yang senang jika harus kehilangan.

Advertisement

Sebelumnya aku mengucapkan turut berduka cita dan selamat jalan, untuk teman–teman di penerbangan pesawat JT 610 29 Oktober lalu. Kami semua berduka. Mari kira doa’kan, teman–teman korban dalam keadaan baik dan bahagia di sana. Yah di tempat yang kekal Pencipta.

Dear Lion Air..

Lagi–lagi aku katakan, aku bukan siapa–siapa untukmu, aku hanya seseorang yang pernah merasakan kebersamaan denganmu. Bagiku, kamu adalah penyelamat. Kala itu, aku pernah berjanji dalam hati untuk segera menemui nenek. Susah payah menabung, maklum saja, aku bukan seorang karyawan yang berpenghasilan, bukan pula seorang konglomerat yang berkecukupan. Aku hanya seorang mahasiswa penjual kue yang sangat merindukan Nenek dan keluarga di Medan.

Advertisement

Melihat harga tiket pesawat yang menurutku cukup menguras keuangan sedangkan aku sendiri belum berpenghasilan pasti. Tapi berulang kali nenek menelpon dan bertanya "Kapan, bisa ke Medan?" atau "Uangmu sudah cukup kah? Nenek rindu.". Sungguh rasanya sedih, merindukan Nenek yang usia nya semakin bertambah, bahkan kesehatannya pun sudah mulai menurun.

Sedikit demi sedikit tabunganku mulai mencapai angka harga tiket dan memang, hanya Lion Air lah yang bisa memenuhi itu semua. Meski saat itu saking rindunya, tak segan Nenek mengajukan penawaran "Nenek bantu tabungan mu yah..". Duh Nek.. Cucu macam apa aku, masih pula meminta uang nenek, sedangkan nenek sendiri bukan seorang pengusaha dengan harta melimpah. Nenek pun masih meraba yang serba seadanya.

Meski nominal tabunganku sangat minim, tapi karena Lion Air, aku bisa terbang melepas rindu di kampung Nenek. Yah memang, pernah aku mengeluh karena delay, bosen, jenuh dan marah rasanya. Perjalanan pertama harus merasakan delay. Schedule yang sempat tersusun rapi untuk segera bisa mencium Nenek, harus terpending.

Tapi ternyata aku sadar, Lion Air masih memikirkan keselamatanku, dia menunggu keadaan udara aman, agar aku masih berkesempatan memeluk Nenek erat. Nggak kebayang, kalau Lion Air kala itu asal membawaku terbang, mungkin tidak akan ada kesempatan pertama untuk memeluk Nenek.

Dear Lion Air..

Bagiku, kamu sudah membantuku, dengan harga tiket yang hemat aku bisa merasakan pertama kalinya terbang dan melihat awan, meski aku merasa takut dan was–was.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya