Entah darimana aku harus memulai cerita ini. Hatiku terasa begitu hangat jika mengingat sosok ibu. Hangat bukan karena aku memiliki kisah kasih mesra layaknya hubungan ibu dan anak. Tak pernah ada ucapan cinta dari bibir ibu. Tak ada adegan seorang anak menangis di pangkuan ibu. Tak ada pula pelukan atau belaian lembut dari tangan ibu. Semua adegan manis itu hanya aku alami saat masih kanak-kanak saja. Harga diri ibu terlalu tinggi untuk menunjukkan perasaan cinta.

Aku berusaha keras mengingat apakah pernah ada cerita manis yang telah kami buat bersama. Yang kuingat hanyalah ibuku bukan sosok idaman. Tapi dia tak akan pernah membiarkan anaknya kelaparan. Ia memenuhi kebutuhan keluarga sesuai tuntutan zaman. Karena itu isi rumah kami boleh di bilang mirip kepunyaan bangsawan. Semua perabotan di rumah kami adalah hasil keringatnya. Ia mengumpulkan setiap rupiah agar kami hidup mapan. Ibu memastikan amak-anaknya tercukupi pangan, sandang, dan papan.

Advertisement

Jejak kerja keras ibu membekas di wajah, tangan, dan kakinya. Telapak kaki yang kering dan retak bukti bahwa ibuku adalah pekerja tangguh. Begitupula tangannya yang tebal dan keras. Kini menjelang usia 60 tahun wajah bulatnya sudah banyak dihiasi keriput. Ibu menutupi semua kekurangan itu dengan sikapnya yang keras. Ia tak akan membiarkan dunia tahu penderitaan yang sedang ia terima.

Aku memanggil ibuku dengan sebutan ibuk—sebutan lazim di desaku. Sebelum ia menikah dengan bapak, ibuk berstatus janda anak satu. Pernikahan pertamanya kandas lantaran perilaku suami yang kasar. Ibuk lantas menikah lagi dengan bapak. Semula kehidupan rumah tangga baru itu berjalan tenang. Hingga suatu hari bapak dipecat dari pekerjaannya sebagai karyawan koperasi saat aku berusia 5 tahun.

Pemecatan itu tentu saja berdampak pada kas keluarga. Orang tuaku hanya memiliki tabungan pas-pasan untuk mencukupi kebutuhan kakak tiriku, aku, dan adik perempuanku yang baru lahir. Beruntung ibuk memiliki kios kecil tempatnya berdagang pakaian di pasar yang sudah ia lakukan sejak sebelum menikah. Mulai saat itu dagangan ibuk menjadi satu-satunya sumber pemasukan keluarga. Aku terpaksa dititipkan ke rumah bibi—kakak dari bapak—agar bisa hidup sedikit sejahtera. Sedangkan kakak tiriku tinggal di rumah nenek—ibu dari ibu. Setiap pekan ibuk dan bapak menjemputku untuk menghabiskan waktu libur di rumah kami. Sebuah rumah beralas tanah yang dibangun dari jerih payah ibuk berdagang.

Advertisement

Ibuk berjualan baju dari pagi hingga siang. Kehidupan pasar yang keras membangun kepribadian ibuk. Ia menjelma sebagai pedagang yang ulet dan disegani. Ia melayani pembeli, menghitung untung rugi, membuka banyak relasi, dan memastikan dagangannya tak basi. Ibu tahu betul selera konsumen sehingga dagangan yang ia jual sejalan dengan zaman.

Bapak memang menemani ibu berjualan. Hanya saja semenjak menganggur ia bagai kehilangan semangat. Kesehariannya hanya mengantar ibu berangkat dan pulang berdagang. Selepas berdagang ia tidur-tiduran. Sedangkan ibuk masih sibuk memasak untuk makan siang kami. Bapak selalu beralasan ia lelah habis bekerja seharian. Ia membiarkan ibuk berjibaku di dapur. Alasan bapak itu omong kosong. Bapak jarang berada di kios. Ia kerapkali menghabiskan waktu bercengkerama dengan pedagang lain. Sekalipun di kios matanya akan terpejam seharian menahan kantuk.

Bukan hanya itu ia gampang marah. Tak segan ia meluapkan kemarahan di depan pembeli. Apa saja yang berjalan tidak sesuai dengan keinginannya maka ia marah. Ibuk cuma bisa menahan napas melihat kelakuan bapak. Bapak rasa-rasanya tak malu memarahi istri di depan umum. Ia juga seolah tak memiliki tanggung jawab sedikitpun sebagai kepala keluarga. Tak ada inisiatif darinya untuk mendapatkan pekerjaan. Ia menyerahkan kewajiban itu pada ibuk. Kelakuan bapak yang acuh itu menjadi sumber pertengakaran.

Setahun lalu aku bertanya pada ibu kenapa tidak berpisah saja dengan bapak kalau pernikahan kalian selalu diwarnai pertengakaran? Kenapa ibuk mau bertahan dengan suami yang enggan menafkahi keluarga? Dengan suara tertahan ibuk berkata “Aku tidak ingin anak-anakku menjalani korban perceraian. Aku ingin kalian memiliki ayah dan ibu lengkap. Cukup kakak tirimu saja yang berpisah dengan ayahnya.” Tanganku gemetar mendengar pengakuan ibuk. Inilah bentuk cinta ibuk pada anak-anaknya. Ia rela menjadi ‘tumbal’ dari pernikahan yang tidak sempurna demi buah hatinya.

Pengakuan ibuk itu menjadi momen berharga sepanjang hidupku. Aku memeluk dan meyakinkannya bahwa Tuhan pasti memberikan balasan terbaik bagi ibuk. Tak ada pengorbanan yang berakhir sia-sia. Ibuk akan mendapatkan surga kelak. Itulah saat pertama kali dalam hidup aku memeluk ibuk. Kuletakkan kepalaku di pundaknya yang mulai kendor. Kemudian aku bertanya lagi. “Kenapa aku dititipkan di rumah bibi?” Protesku. Ibuk menjawab “Bibi berjanji akan memenuhi semua kebutuhanmu. Saat itu kami hanya memiliki beberapa lembar uang saja. Tak cukup untuk memberikan kesejahteraan untukmu.”

Jawaban itu memanglah masuk akal. Bibi merawatku dengan baik. Ia memberiku penghidupan kelas menengah ke atas. Tapi aku tidak bahagia. Aku merindukan ibuk. Suatu hari saat berumur 8 tahun aku jatuh sakit. Berbulan-bulan aku menghuni rumah sakit. Ibuk lantas meminta bibi untuk mengembalikanku. Sejak itu aku hidup bersama orang tuaku lagi. Pun kakak tiriku yang mulai tinggal bersamaku. Ajaib! Aku tak pernah sakit lagi. Palingan flu dan batuk saja. Kakiku tak lagi menginjak lantai rumah sakit. Rasa-rasanya aku sakit karena tak kuasa menahan rindu pada ibuk.

Babak baru kehidupanku bersama orang tuaku bukan berarti ideal. Pertengkaran antara bapak dan ibuk kusaksikan hampir setiap hari. Aku dan adikku terkena imbasnya. Bapak seolah ingin menunjukkan kuasanya di rumah. Ia menutupi kekurangannya dengan menjelma sebagai sosok yang ditakuti. Tak segan ia memukul kami apabila melakukan kesalahan. Sementara ibuk tampil sebagai sosok yang dingin dan keras. Ia ingin menunjukkan bahwa keluarga ini mampu bertahan dari himpitan ekonomi berkat kehadirannya.

Hubungan suami istri yang sulit kupahami itu membuatku gerah. Aku pikir mereka tak menganggap keberadaanku. Karena itu selepas SMA aku memutuskan untuk kuliah di tempat jauh. Aku merantau ke Bogor. Saat itu aku tak punya perasaan takut meskipun belum pernah bepergian sendiri. Hatiku dipenuhi perasaan bahagia karena sebentar lagi akan bebas dari kebisingan rumah. Bapak mengantarku ke Bogor. Sementara ibuk melepas kepergianku sebatas halaman rumah. Aku bertanya-tanya apakah ibuk baik-baik saja? Tidakkah ia sedih karena kepergianku?

Pertanyaan itu kusimpan jauh di lubuk hati. Aku enggan berpikir macam-macam. Hingga suatu hari saat kakak tiriku menikah, seorang tetangga berseloroh. “Dulu ibumu sering menangis semalaman saat kamu pamit ke Bogor,” katanya. Ahhhhh…..aku sangat bahagia mendengar penuturan itu. Sebaris kalimat dari tetanggaku itu menyadarkanku betapa ibuk sangat sedih kutinggal pergi. Rupanya ibuk sama seperti ibu teman-temanku. Ia menyayangiku. Hanya saja ia enggan menunjukkan rasa sayang itu pada anaknya. Ia tak mau terlihat cengeng di depan buah hatinya.

Dari penuturan tetangga, saudara, dan kerabat pula aku tahu bahwa ibuk begitu bangga padaku. Bangga anak perempuannya mampu bersekolah di perguruan tinggi ternama. Bangga anak perempuannya tumbuh menjadi gadis pandai. Kini aku sudah memiliki pekerjaan tetap dengan gaji layak. Setiap bulan aku memberi ibuk uang untuk kebutuhan rumahtangga. Aku ingin sedikit mengurangi beban ibuk. Ibuk masih berjualan di pasar. Ia enggan pensiun. “Aku bisa mencari uang sendiri. Kamu dan adikmu kalau mau memberi ibuk uang silakan saja, tetapi nggak harus. Tabung uang kalian untuk bekal hidup.” katanya. Lagi-lagi inilah bahasa cinta khas ibuk. Ia mengungkapkan cinta dalam bentuk lain.

Momen yang masih membekasi di otakku adalah saat aku memberikan jam tangan. Tetiba aku ingin saja membeli jam tangan warna emas buat ibuk. Ibuk senang sekali menerimanya. “Berapa harga jam tangan ini? Pasti mahal,” ujarnya. Aku menjawab “Nggak apa-apa buk pakai saja buat ke pasar.” Keesokan hari ia memakai jam tangan itu dengan muka berseri. Sepulang dari pasar ia bercerita bahwa teman-temannya sangat mengagumi jam tangan itu. Ahhh…. ibuk wajah berserimu itu membuatku menangis dalam diam. Jam tangan itu tangan sederhana, tetapi kau bangga sekali memakainya.

Aku dan ibuk memang tidak mempunyai adegan ‘mesra’. Ia memiliki bahasa cinta yang berbeda. Jika aku menjadi ibuk bisa jadi tak akan sanggup menjalani kehidupan rumah tangga yang kusut ini. Ibuk bertahan dan tetap setia pada bapak apapun kondisinya. Di penghujung usia 20 tahunku ini aku ingin ibuk tetap menjadi ibuk. Jika pun terlahir kembali aku akan minta dilahirkan dari rahim ibuk lagi. Ia mengajariku mencintai tanpa balasan, menerima kehidupan yang Tuhan berikan, dan menjadi wanita kuat. Ibuk mencintai anak-anaknya dalam diam. Dalam doa yang ia lantukan usai solat. Dalam tindakan yang tersirat. Selamat hari ibu….ibuk. Dari anakmu yang susah mengerti bahasa cintamu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya