episode 2

GULITA (Asmara dan Sisi Lain Sarwani)

Nitis, Kelahiran Sarwani

Advertisement

(episode 2)

Hari kamis menjelang magrib Hartanti (nama Ibu Sarwani) merasa sakit yang sangat dahsyat pada perutnya. Hal ini bukan karena penyakit, mungkin disebabkan oleh usia kandungan yang genap sembilan bulan.

“Bapaaak, perut ibu sakit sekali” teriak Hartanti.

Advertisement

“Kenapa bu? Apa sudah waktunya Sarwani lahir?” Saut Suwarni

Dengan wajah panik melihat istrinya yang berteriak kesakitan.Saat itu Hartanti sedang berbaring di atas kasur tipis di lantai rumah mereka, tepatnya di ruang tamu.

“Tahan ya bu, saya panggil Mbah Semi” Suwarni bergegas menuju rumah Mbah Semi yang merupakan satu-satunya dukun beranak di daerah tersebut.

Rumah mbah semi tak terlalu jauh jaraknya dari rumah mereka, sekitar tujuh menit jika ditempuh dengan jalan kaki. Dengan terburu-buru dan fikiran yang tidak karuan, Suwarni berlari menuju tempat dukun beranak. “Astagaa, si Ibu sendirian di rumah, kenapa tadi aku tidak minta tolong dulu ke tetangga”, sesal resah Suwarni saat berada di tengah jalan. Suwarni pun berlari sekencang-kencangnya agar cepat sampai ke rumah Mbah Semi.

Tak lama kemudian, Suwarni dan Mbah Semi (dukun beranak) tiba di rumah, dan saat itu pula mereka berdua terkejut.

“Lho Bu,,, ko malah makan? Nggak jadi ngelahirin? Perutmu sudah nggak sakit?” Tanya Suwarni dengan nafas terengah-engah dan penuh terkejut.

“Tadi kan Mbah Semi sudah ke sini, terus ibu di bilangin kalau Sarwani belum waktunya lahir. Kata Mbah Semi nanti hari kamis malem minggu depan lahirnya” jelas Hartanti pada suaminya.

“Ibu,,, ibu nggak papa kan?” Lirih ucap Suwarni sambil sejenak mendekap istrinya.

“Kamu lanjut makannya ya bu, ayah ngobrol di luar sebentar sama mbah Semi” Suwarni sambil mengajak Mbah Semi keluar rumah dengan wajah sedikit bingung, Hartanti mengangguk sembari melanjutkan makan.

Suwarni yang kebingungan oleh tingkah istrinya memulai percakapan dengan mbah Semi di luar rumah.

“Saya masih bingung mbah, kok bisa istri saya malah makan padahal tadi merengek kesakitan? Terus, daritadi kan si mbah bareng sama saya. Tapi, dia malah bilang kalau si mbah tadi sudah di sini, ini ada apa ya mbah?”.

“Gini Suwarni, sepertinya ada yang menjaga kandungan istrimu. Mbah juga kaget, mungkin tadi yang jaga itu membo (berubah menyerupai) jadi mbah terus nemenin istrimu” terang Mbah Semi.

“Tapi, bahaya apa ngga ya mbah? Saya takut kenapa-kenapa, karena ini calon anak pertama saya” tanya Suwarni memastikan. “Nggak apa-apa kok, kalau saya lihat baik-baik aja. Oiya, ni saya mau nanya. Kamu sama istrimu kok sudah memberi nama calon anakmu itu dengan sebutan ‘Sarwani’, kalian tahu dari mana kalau jabang bayi dalam kandungan istrimu itu laki-laki?” Tanya Mbah Semi dengan sorot mata sedikit tajam.

Emm... Dulu Ayah saya (Mbah Emprot) sempat berpesan, kalau dia akan nitis di anak pertama saya mbah. Terus, kami juga sering bermimpi sama. Mimpinya itu agak aneh, kami sering bermimpi digendong bayi kecil laki-laki. Anehnya, bukan kami yang menggendong, tapi kami yang digendong. Dan mimpi itu sudah datang berulang kali mbah” jelas Suwarni.

“Suwarni, Bayimu nanti ga kayak anak-anak kecil lainnya. Anakmu bakal jadi orang yang linuih (memiliki kemampuan yang lebih), kamu harus pandai-pandai dalam mendidiknya” Pesan tukang urut itu kepada Suwarni.

“Baik Mbah” Jawab Suwarni sambil mengantarkan Mbah Semi sampai jalan depan rumahnya.

Minggu berikutnya, tepat hari kamis sesuai yang dikatakan Hartanti bahwa bayinya akan lahir pada malam hari kamis itu. Sejak sore sekitar jam empat, beberapa orang telah berkumpul di rumah Suwarni. Pak Mali (sesepuh sekaligus imam di mushola daerah sana), Mbah Semi, Kati (tetangga Suwarni), dan Suwarni sendiri menjaga dan menunggu kelahiran anak Hartanti. Sore itu tepatnya menjelang magrib, hujan turun dengan lebat dibarengi angin yang cukup kencang dan petir yang menyambar. Tampak pak Mali berkomat-kamit sambil berdiri dengan tangan sedekap di depan pintu rumah Suwarni.

“Prakk….” suara beberapa genting atap rumah Suwarni yang jatuh terbawa angin.

“Ayaah, perut ibu… sakit ayah…” ringkih Hartanti.

“Ibu, udah mau lahir bayinya bu? Mbah Semi tolong istri saya Mbah” sahut Suwarni kepada istrinya.

Tiba-tiba Mbah Semi menarik tangan Suwarni.

“Suwarni, kamu tunggu di luar dulu, dan kamu Kati, bantu saya di sini”.

“Baik mbah” sahut mereka berdua.

Kati berdiam di kamar (kamar tidur Suwarni dan Hartanti), dan Suwarni menunggu di ruang tamu. Saat itu Pak Mali masih di luar rumah, masih tetap sambil membaca doa untuk keselamatan orang-orang yang ada di rumah tersebut.

Saat itu tepat jam sembilan malam, hujan sudah reda dan terdengar ‘oeee….oeee…oeeee’, suara bayi menangis yang tidak lain adalah Sarwani. Suwarni bergegas masuk ke dalam kamar untuk melihat bayi dan istrinya. Suwarni nampak terkejut melihat Hartanti tak sadarkan diri, dengan Mbah semi yang terus berkomat-kamit membaca mantra di dekat telinga kanan Hartanti.

“Ibu sadar ibu, bangun ibu”, ucap Suwarni sambil memeluk istrinya yang berbaring di tempat tidur.

“Kati, bawa bayinya keluar, biar Pak Mali meng-adzaninya” perintah mbah Semi pada Kati.

Katipun keluar menggendong Sarwani menuju Pak Mali yang sudah duduk di atas kursi,di ruang tamu. Setelah Sarwani selesai di-Adzani, Katipun mengadu pada Pak Mali

“Pak, tadi Bu hartanti pingsan dan dijampi-jampi Mbah Semi”.

Seketika tanpa menjawab, Pak Mali langsung bergegas masuk ke dalam kamar dan melihat Hartanti duduk lemas dengan mata terpejam, dan badan tersandar di pelukan Suwarni, dengan di sebelah kanannya ada Mbah Semi yang masih berlanjut membaca mantra.

“Sebentar Mbah Semi, coba saya lihat” ucap Pak Mali memberi kode

pada Mbah Semi agar agak minggir sedikit.

Terlihat bibir Pak Mali melafalkan sesuatu kemudian meniupkan pada telapak tangan kanannya, kemudian mengusapkan ke wajah Hartanti dari dagu melewati bibir, hidung, dan kening hingga atas kepala Hartanti, dari bawah-ke atas (berlawanan dengan usapan seseorang kepada orang yang meninggal). Seketika Hartanti membuka matanya.

“Ibu, syukurlah ibu tidak apa-apa” eluh Suwarni dengan air mata tipis yang mengalir di pipi hingga atas bibir sejajar hidungnya.

“Di mana Sarwani, ayah?” Tanya Hartanti dengan agak berteriak cemas.

Kati yang berada di ruang tamu pun mendengar teriakan Hartanti, dan kemudian masuk ke kamar sambil membawa Sarwani.

Tepat pukul 12.00 malam, Suwarni, Pak Mali, Kati, dan Mbah Semi mengobrol di ruang tamu, Hartanti dan bayinya masih berada di kamar.

“Suwarni, tadi sebelum Sarwani lahir ada seperti sesuatu yang tidak terlihat dengan jelas keluar dari jalan lahir istrimu. Saya tidak tahu itu apa. Begitu keluar langsung terbang menembus atap rumah” Mbah Semi memulai obrolan.

Suwarni terdiam kebingungan dan cemas.

“Itu yang ngemong (menjaga dan merawat) anakmu, Suwarni. Saya tadi juga merasakan saat berada di ruang tamu. Ada sesuatu yang lahir selain anak kamu. Tidak usah cemas, itu tidak apa-apa kok. Barangkali Tuhan sengaja memberikan kelebihan pada anakmu” terang Pak Mali yang kemudian membuat lega Suwarni.

Tak lama kemudian, Mbah Semi pamit untuk pulang. Pak Mali dan Kati tetap berada di rumah Suwarni untuk menemani. Suwarni mengantar Mbah Semi pulang, dan dia merasakan bahwa suasana di sekitar rumahnya begitu damai dan tenang, bulan pun terlihat bersinar terang, padahal menjelang magrib tadi hujan begitu lebatnya ditambah angin dan petir.

“Mbah, kok langitnya terang sekali ya, udaranya juga tidak panas atau dingin, tapi sejuk seperti pagi hari” ucap Suwarni keheranan.

“Kamu beruntung, saya kan dulu sudah bilang kalau anak kamu itu

linuih” Terang mbah Semi pada Suwarni sembari berjalan.

Setelah selesai mengantar Mbah Semi sampai rumah, Suwarni berjalan pulang dan dia terkejut karena ada seseorang yang entah dari mana, datang menghampirinya. Saat itu di pinggir jalan, sudah dekat dengan rumahnya. Jalanan sepi, maklum saat itu sekitar jam satu malam, selain itu, di daerah tersebut juga belum padat penduduk, warga sekitarpun sudah terlelap tidur.

“Bapak, kok bapak ada di sini?” ucap Suwarni dengan sangat terkejut.

Bagaimana tidak, Mbah Emprot (ayah Suwarni yang sudah lama meninggal) pada malam itu tiba-tiba muncul di hadapannya.

Le, seperti yang aku bilang dulu, aku nitis di anakmu. Bukan benar-benar lahir kembali sebagai anakmu, tapi anakmu nanti memiliki semua kelebihan yang dulu ku miliki, bahkan mungkin lebih. Rawat dia baik-baik, nanti saat dia berumur sembilan tahun, semua kelebihannya akan mulai muncul. Ajari dia dalam berbicara yang baik, Le. Sebab mungkin apa yang dia ucapkan bisa jadi kenyataan, terus kamu banyak lakukan puasa dan melek (tidak tidur) supaya kamu kuat menghadapi sesuatu yang nantinya akan datang. Ada kemungkinan juga anakmu nanti akan bisa tau apa yang akan terjadi sebelum waktunya” pesan Mbah Emprot kala itu.

“Baik bapak, saya akan lakukan semua yang dinasehatkan Bapak” ucap

Suwarni sembari menunduk.

Karena tidak ada jawaban dari Mbah Emprot, Suwarni mengangkat kepalanya dan Mbah Emprot sudah menghilang entah kemana. Suwarni pun pulang ke rumah. Mulai saat itu, Suwarni bersama istrinya mulai merawat dan membesarkan Sarwani. Kelauarga mereka pun nampak sangat bahagia karena telah menjadi keluarga kecil yang utuh.

Le: sapaan seorang ayah kepada anak, seperti “nak”

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya