Sebuah cerita dari narasumber yang bersedia menceritakan sepotong kisahnya untuk dijadikan refleksi kehidupan bahwasanya, kehidupan tidak pernah lepas dari rasa “Dikhianati”.

Dulu sekali pernah ada sebuah kisah yang membuatku terhenyak. Kamu pernah singgah di hatiku, orang pertama yang membuatku percaya bahwa cinta sejati itu benar adanya, terlihat mudah dipercaya dan melangkah seperti air, lancar dan membahagiakan. Aku selalu menjadi nomor satu untukmu, meskipun begitu aku memperlakukaanmu seperti biasa.

Hari berganti hari orangtua kita sudah saling mengenal dan aku ingin memilikimu secara serius. Saat itu seperti itu perasaanku. Aku tidak peduli kalaupun kamu orang biasa. Akupun tidak peduli banyak laki-laki yang lebih darimu mengejarku karena dimataku, cuma ada kamu.

Tidak mudah bagiku membuka hati pada seseorang kecuali aku percaya padanya, seperti yang terlihat bahwa kamu orang yang taat. Waktu sepertinya ingin membuktikan kebenarannya. Aku berdoa disela keraguanku padaNya disela malam hari

“Andaikan dia jodohku Tuhan, tolong dekatkan aku. Namun apabila bukan, jauhkan aku dan tunjukkan padaku”.

Advertisement

Sepertinya doaku mulai terjawab. Semakin lama, kulihat semua kebaikanmu mulai luntur. Keadaan yang harmonis mulai berganti menjadi perpecahan diantara kita. Aku mulai disia-siakan olehmu. Setiap aku sedang ada masalah, kamu selalu menghilang seperti ditelan bumi. Ketika aku berusaha memperbaiki kekuranganku, kamu semakin menuntutku banyak hal.

Waktumu lebih banyak untuk teman-temanmu dan gengsimu pada temanmu. Akhirnya kutemukan bukti kamu tidak setia lagi karena tergoda wanita yang mengejarmu. Padahal banyak laki-laki yang mengharapkanku pun, aku tidak pernah menoleh padanya. Aku mencoba menghargai harga dirimu. Berkali-kali, aku merasa akan kehilangan sesuatu. Kamu semakin menjauh dan menemukan wanita baru. Aku tak paham denganmu yang mulai berubah drastis hingga aku bertanya sendiri

Siapa kamu? Sudah sangat berbeda. Dari seorang yang sederhana berubah jadi orang lain.”

Dari seorang yang baik menjadi seorang yang tidak peduli padaku. Saat aku sakit, kamu pun sudah tidak peduli lagi. Aku berusaha memberimu semua keinginanmu, membuang sebagian pekerjaanku, tidak melakukan hobiku, menurutimu standar berpakaian, katamu aku harus menjauhi teman laki-lakiku, hingga semua teman laki-lakiku tahu kamu terlalu over protektif dan over posesif padaku, sedangkan kamu tidak melakukan hal yang sama.

Aku memang tidak menuntutmu macam-macam karena aku selalu bisa menerima kekuranganmu karena aku percaya. Lama kelamaan kesehatanku lebih memburuk, aku tidak memberitahumu kalau aku terserang penyakit yang lumayan serius apalagi setelah terlalu memikirkan hubungan ini. Aku sempat drop hingga aku harus istirahat di tempat tidur.

Untunglah aku masih kuat untuk melawan penyakit ini. Kupikir lagi, apakah aku harus terus seperti ini. Sahabatkupun khawatir dengan keadaanku. Aku hanya berbohong kalau aku sakit biasa dan nggak ada masalah sama sekali. Aku sudah tak tahan diperlakukan seperti pengemis lagi. Akhirnya aku akhiri hubungan yang sudah lama terjalin.

Hari berganti hari, aku menemukan seseorang yang lebih baik darimu. Dia selalu membuatku tersenyum dan menemaniku disaat aku sangat terluka. Bersamanya, aku temukan bahagia. Aku merasa bersyukur pada Tuhan. Keputusanku melepasmu bukanlah hal yang salah. Hubunganku dengannya, kini semakin dekat. Hal yang paling banyak ia berikan adalah senyuman padaku.

Saat aku menjalani hubungan dengannya, kadang aku masih mendengar cerita tentangmu, kamu menebarkan cerita pada pacarku kalau aku dulu selingkuh sebelum putus. Entah kabar miring itu datang darimana. Aku yang terluka, namun aku juga yang kena gossip nggak jelas. Kali ini aku bersabar lagi. Teman-teman mulai mengadu padaku kalau kamu menjelek-jelekkan aku. Aku memilih diam, walaupun sempat beberapa waktu aku membalasmu, namun kali ini aku menyerah dan memilih diam.

Bulan mulai berganti, kudengar kamu memiliki kekasih. Aku memilih biasa saja dan berusaha berteman denganmu. Kudengar lagi, kamu membandingkan pacarmu denganku. Aku memilih diam. Aku memilih mencintai pacarku dan tidak terpancing emosi dengan seseorang yang menjelek-jelekkan aku. Aku percaya Tuhan melihat kebenaran sesungguhnya, dan mendengar kebohonganmu.

Aku bersumpah pada Tuhan kalau aku benar dan gossip itu salah besar. Tahun berganti tahun aku mulai menapak dunia baru yaitu pekerjaanku. Aku sekarang sudah putus dengan pacarku, namun kami nggak pernah saling mengejek dan semua dalam keadaan baik. Waktu pacaran kami pun tergolong lama.

Saat aku sendiri dan kebetulan bertemu teman lama. Temanku masih menanyakan hubunganku denganmu. Aku menjawab berteman biasa .Temanku bercerita banyak kalau kamu sering gonta ganti pacar, menjadi perusak hubungan orang lain, menjadi pelarian dalam hubungan orang lain dan menjadi orang yang arrogan. Aku menjawab kalau semua itu sudah bukan urusanku karena sekarang aku juga sudah punya kisah baru.

Bahkan karenamu yang selalu mengganggu hidupku sampai aku bekerja, aku memutuskan menghapus semua kontak denganmu. Aku tidak ingin kamu mengganggu hidupku lagi. Kamu selalu bilang pada banyak orang tentang hal yang tidak benar tentangku, aku tidak bisa melawan gossip yang sudah menyebar. Kalau aku mencoba mengkonfirmasi, tidak pernah bisa menghapus cerita yang sudah beredar tentangku. Aku memilih tidak membalasmu karena aku selalu menyerahkan pada kuasaNya.

Suatu hari, aku teringat semua hal menyakitkan yang kamu lakukan, aku menangis terisak sambil bersujud dihadapanNya. Kenapa aku selalu dijelekkan padahal aku yang tersakiti? Kenapa aku selalu nggak bisa bicara saat lingkungan memojokkanku? Aku hanya bisa berdoa semoga aku bisa senbuh dari sakit hati ini dan aku bisa menemukan kebahagiaan baru.

Detik ini aku berdoa, beberapa jam kemudian aku mendengar kamu masuk rumah sakit karena kecelakaan. Aku kaget, walaupun aku selalu dihujat olehmu, aku juga tidak pernah membalasmu. Bukan berarti aku takut, bukan berarti aku lemah, bukan berarti aku kalah. Tapi, aku memilih diam karena aku percaya kebenaran suatu hari akan terungkap. Aku berlaku baik padamu? Tidak juga.

Aku membatasi diriku untuk tidak membiarkan diriku terlalu baik padamu dan berusaha tidak membencimu. Walaupun sulit sekali bertingkah biasa saat sudah disakiti. Banyak orang bertanya perasaanku padamu. Andaikan aku katakan jujur, aku sudah tidak ada rasa ingin kembali padamu, semua keburukan yang sampai ke telingaku membuatku menyalahkan diri sendiri

Bodohnya aku dahulu berpacaran denganmu, selain menghabiskan waktu, aku juga malu sekali saat mengaku pernah jadi pacarmu, andaikan waktu bisa diputar, aku ingin kembali ke masa itu dan aku ingin membatalkan semua hal ini, termasuk aku tidak akan jadian, tidak akan mengenalmu dekat. Disia-sia, dijelek-jelekkan, disakiti. Setelah kamu sembuh dari sakit, tidak pernah aku dengar kamu minta maaf padaku. Kamu pun masih sama, menjelek-jelekkan aku.

Kesalahan dalam memilih siapa pasanganku, membuatku sadar untuk lebih selektif dalam memilih pasangan. Terkadang, orang yang sangat dekat dengan kita, sangat berpotensi paling berniat jahat pada kita. Aku merasa seperti ditampar untuk disadarkan tentang kenyataan ini.”