Cerpen singkat yang menginspirasi. Selamat Membaca…


Seperti biasanya, pagiku diawali dengan ketukan pintu mbak Ima yang selalu membangunkanku tiap paginya. Ya, perkenalkan namaku adalah Adara Fredella Ulani, aku biasa dipanggil Della. Sesuai dengan namaku, aku adalah gadis yang cantik, periang dan suka kedamaian. Dan aku adalah gadis cantik yang lahir dari keluarga terhormat yang dipandang dimana-mana dan anak tunggal dari seorang pengusaha sukses yang hidup dengan kemewahan. Ya, lagi-lagi aku hidup dengan serba ada, semua bisa aku miliki. Mulai dari punya banyak teman, dikenal dimana-mana dan masih banyak lagi. Dan aku juga memiliki 2 orang sahabat yang selalu setia padaku, yaitu Arif dan Gabriel ( aku selalu memanggilnya Gab ). Aku merasa hidupku sungguh sempurna, bahagia, canda ,tawa, semuanya membuatku bahagia dengan apa yang aku punya.

Advertisement

Tapi, semua berubah, ya berubah. Saat kecelakaan tragis itu menimpaku, kecelakaan parah itu merenggut kedua tanganku. Kehidupanku berubah 360 derajat, aku yang awalanya adalah gadis terpandang menjadi gadis yang sangat memalukan. Kecelakaan tragis itu membuatku sangat putus asa. Ratusan pertanyaan mengelilingi pikiranku, pikiranku serasa sempit sekali, bagaimana mungkin aku hidup tanpa lengan ? Dan apa yang bisa dilakukan oleh gadis tanpa lengan ini ? aku merasa sangat depresi dengan apa yang terjadi dengan kehidupanku ini. Aku hanya akan menyusahkan orang lain dan mempermalukan keluargaku sendiri. Aku selalu berpikir, apa kata orang, kalau anak tunggal pengusaha terpandang tak punya lengan ? Dan apa pendapat teman-temanku tentang keadaanku saat ini.



Aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan sekarang ini. Setiap harinya aku harus menjalankan terapi dan menjalani penanganan medis yang membuatku bosan. Tidak hanya itu saja, akibat dari pengobatan yang terus menerus harus dilakukan membuatku kehilangan segalanya. Ya segalanya. Aku yang awalnya memiliki banyak kendaraan mewah, perlahan harus kehilangan itu satu persatu. Hal-hal mewah yang kumiliki sejak lahir, kini hilang satu persatu. Mulai dari mobil yang harus dijual untuk biaya pengobatanku yang begitu mahal. Dan berlanjut pada pemberhentian satu persatu pegawai papa, untuk meminimalisir pengeluaran. Hal itu sungguh membuatku frustasi, karena gara-gara aku semua menjadi hilang begitu cepat. Dan berakhir pada rumahku, aku yang awalnya tinggal di rumah kawasan mewah kini harus tinggal di kawasan yang sungguh tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Mau bagaimana lagi, kecelakaan yang aku alami tidak hanya merenggut kedua tanganku, tapi semua yang aku punya. Aku terus-menerus menyalahkan diriku sendiri, karena jika kecelakaan itu tidak terjadi, maka aku tidak mungkin kehilangan segalanya.

Tiap harinya air mataku tak berhenti mengalir, aku benci dengan apa yang terjadi padaku dan aku sungguh marah kepada Tuhan, kenapa Tuhan tidak sayang kepadaku, dan kenapa harus aku yang menanggung beban yang begitu berat ini. Karena, aku tak bisa menerima keadaanku yang seperti ini, aku mengurung diriku terus-menerus. Aku tidak mau bicara dengan siapapun dan aku tidak mau keluar dari kamarku. Lagi-lagi aku hanya memandang diriku dikaca, dan memandangi lenganku, yang biasanya bisa berisi dengan tanganku, kini berubah menjadi hal yang begitu aku benci. Aku mengurung diriku di kamar selalu 6 bulan lamanya, aku hanya merenung, menangis dan marah. Hanya itu yang terus menerus aku lakukan dengan jangka waktu yang begitu lama.

Advertisement

Tapi, disisi lain Arif dan Gabriel setiap harinya selalu mengunjungiku, memberiku semangat dan memaksaku agar mau makan dan lain sebagainya. Tanpa jenuh, mereka selalu berusaha untuk membuatku tetap semangat. Membuatku agar bisa tersenyum dan melupakan apa yang terjadi pada diriku. Dan mereka selalu memaksaku untuk masuk sekolah lagi, tapi aku selalu menolaknya. Karena aku malu dengan apa yang terjadi padaku, aku takut dengan komentar teman-temanku nantinya. Maka, aku selalu menolak tawaran Arif dan Gabriel yang selalu membujukku untuk masuk sekolah lagi. Walaupun, pihak sekolah tidak mempersalahkan keadaanku yang sekarang. Aku pun heran, kenapa Arif dan Gab tak pernah bosan memaksaku untuk masuk sekolah, padahal aku sudah menolaknya berulang kali. Dan terkadang aku marah kepada mereka, karena mereka tak merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Tapi mereka tak pernah putus asa, mereka selalu menemaniku setiap saat, berusaha membuat ku tertawa, menghiburku dengan banyak hal yang terkadang konyol. Dan aku merasa lebih baik berada di dekat mereka. Arif dan Gab perlahan membuatku bisa tersenyum, membuatku bisa tertawa kecil dan juga perlahan membuatku bisa menerima keadaanku saat ini. Dan akhirnya, aku menerima tawaran mereka untuk kembali bersekolah.

Dan hari ini, adalah hari pertama aku masuk sekolah, maksudku adalah hari pertama masuk sekolah tanpa lengan. Awalnya aku ragu dengan keputusanku, tapi Arif dan Gab memaksaku untuk turun dari mobil sebelum bel masuk berbunyi. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk turun, kaki ku terasa sangat lambat melangkah ke depan gerbang sekolah. Dan tanpa sadar, aku sudah berada di depan pintu masuk. Arif dan Gab mendampingi ku. Dan, apa yang aku takutkan ternyata benar-benar terjadi. Saat aku melangkah menuju kelas, semua orang memandang ke arahku. Tatapan mereka sungguh membuatku tidak nyaman. Kakak kelas, adik kelas dan guru-guru memandangiku, aku takut akan pandangan itu. Mungkin mereka bertanya-tanya dengan apa yang terjadi padaku dan apa yang dilakukan gadis tanpa lengan ini ? Tapi Arif dan Gab selalu menjaga dan melindungiku, hingga akhirnya aku sampai di depan pintu kelas. Dan lagi-lagi pandangan aneh mulai berdatangan, ratusan pertanyaan mereka mulai memenuhi otakku dan itu sungguh membuatku sangat tidak nyaman. Dan ternyata benar, aku kehilangan banyak temanku. Aku maklumi itu, mungkin karena mereka malu punya teman yang tanpa lengan ini. Aku tidak terlalu memikirkan itu, yang penting aku selalu punya Arif dan Gab. Itu saja sudah sangat cukup bagiku.

Bel masuk berbunyi, dan guru mata pelajaran mulai memasuki kelas untuk memberikan materi pembelajaran. Dan aku rasa, semua guru sudah tahu dengan keadaan ku dan apa yang terjadi padaku. Jadi mereka memaklumi keadaanku saat ini, tapi aku juga bingung, bagaimana aku bisa terus mengikuti pembelajaran, sedangkan hal itu pasti identik dengan tulisan, ya menulis catatan, latihan, ulangan dan lain sebagainya. Dan tak mungkin aku selalu meminta bantuan orang lain untuk melakukan hal itu.

Akhirnya, aku mengajak Arif dan Gab untuk pulang bersamaku. Aku menceritakan keluhanku kepada mereka. Dan Arif menyarankan untuk menggunakan kakiku dalam melakukan segala aktivitas. Awalnya, aku terkejut dengan saran Arif, tapi hanya kakiku lah yang bisa aku gunakan. Hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, melakukan semua aktivitasku dengan kaki ? mulai dari makan, menulis, menggunakan pakaian dan lainnya. Disitu, aku mulai belajar, Arif dan Gab selalu menemaniku dalam setiap tahap latihanku. Awalnya memang sangat susah, aku hampir putus asa melakukannya, namun karena mereka memaksaku untuk terus berlatih, akhirnya aku mampu melakukan segala aktivitasku menggunakan kaki. Dan aku bisa beradaptasi dengan hal itu. Hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, dan hal tersebut menemani kehidupanku setiap harinya. Aku pun bisa terbiasa melakukan aktivitasku menggunakan kedua kakiku. Di saat orang lain memegang sendok menggunakan tangan mereka, aku memegang sendokku menggunakan kaki, di saat orang lain menggunakan tangan mereka untuk menulis, aku mengandalkan kakiku untuk menulis. Dan aku bisa menjalani kehidupanku seperti normalnya orang lain.

Dan ada satu hal lagi yang membuatku hilang harapan, aku kehilangan harapan besarku. Yaitu impianku untuk menjadi seorang model jelas kandas. Impian yang sedari kecil aku inginkan, ketika besar tak dapat aku wujudkan. Karena, tak akan ada desainer yang mau mempromosikan karya mereka melalui model tak berlengan seperti aku. Impian menjadi seorang model terkenal adalah suatu yang mustahil untuk kehidupanku kedepannya. Aku sungguh kehilangan harapan akan hal itu.

Namun, Tuhan berkehendak lain, aku mulai bangkit untuk mewujudkan impianku. Jika aku tidak bisa menjadi seorang model, maka Tuhan memintaku untuk menjadi seorang desainer. Ya desainer tanpa lengan. Itu sungguh harapan besar bagiku. Orang-orang tak akan melihat desainernya tapi modelnya bukan ? Dan aku sungguh bersyukur, Tuhan menuangkan bakat gambarku. Aku memang hobi menggambar sejak kecil, sampai semua dinding kamar penuh dengan coretan gambaranku sendiri. Akhirnya aku mendapat ide untuk mendesain karyaku sendiri. Ya, karya gadis tanpa lengan yang menggambar desainya dengan kaki.

Aku menjadikan Arif dan Gab sebagai model perdanaku. Memang awalnya, banyak yang tidak percaya dengan kemampuanku, tapi aku yakin bahwa dengan kecelakaan tragis ini, Tuhan mewujudkan impianku yang lebih besar. Aku mulai mendesain karyaku, karya sederhana yang penuh makna bagiku. Aku mulai belajar menjahit, membuat dan merangkai sendiri karyaku. Memang awalnya cukup sulit, tapi semangatku gigih untuk mewujudkan impian besarku ini. Menjahit sendiri karyaku memang memakan waktu yang cukup lama. Aku yang baru belajar menjahit juga menemukan banyak kesulitan, mulai dari tertusuk jarum berkali-kali yang membuat kakiku berdarah tiap waktunya. Tapi, aku adalah Adara Fredella Ulani, anak yang periang dan pantang meyerah. Aku akan menyelesaikan karyaku.

Tanpa diduga, beberapa bulan kemudian pakaian karya gadis tanpa lengan ini jadi. Aku sungguh senang luar biasa. Arif dan Gab juga bahagia akan hal itu. Tanpa berpikir panjang, Arif dan Gab langsung mengenakan pakaian karyaku. Aku penuh haru melihat mereka berdua. Dan aku langsung mempromosikannya di semua akun media sosialku dan akun Arif dan Gab. Tak kusangka, banyak orang yang menyukai karyaku. Banyak orang yang memuji hasil karyaku. Dan aku pun menerima banyak pesanan. Aku sungguh bahagia saat orang lain mengenakan karyaku.

Aku pun mulai mempekerjakan orang untuk membantuku. Yang awalnya hanya aku sendirian, kini aku mempunnyai 1 karyawan dan berlanjut merekrut 2-3 karyawan lagi untuk menyelesaikan orderan pembeliku. Dan hal yang tak kusangka, hasil tersebut perlahan bisa aku belikan 3 mesin jahit untuk memperlancar usahaku. Semakin berjalannya waktu, usahaku kian berkembang. Akhirnya aku bisa membeli 1 ruko untuk usahaku. Aku sungguh bersyukur dan sangat berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Aku belajar banyak hal tentang kehidupan yang aku jalani hingga kini. Sekitar 1-2 tahun ini, usahaku terus menunjukan angka yang terus naik secara signifikan. Membuatku bisa merekrut 5-10 karyawan baru untuk membantuku menyelesaikan permintaan pembeliku. Dan beberapa bulan berikutnya, aku bisa membuka cabang baru untuk usahaku ini. Kebahagiaanku ini sungguh tak terbayarkan dengan apa pun.

Dan hal yang tak pernah aku lupakan, saat aku mengikuti lomba perancang mode “Jakarta Fashion Week”. Aku menampilkan beberapa rancanganku dalam acara itu, memang awalnya nyaliku sedikit menciut karena harus bersaing dengan beberapa perancang terkenal. Tapi aku yakin, bahwa aku bisa menampilkan karyaku, karya sang gadis tanpa lengan. Dan aku sungguh terkejut, ternyata banyak orang menyukai rancanganku, itu merupakan hari yang begitu luar biasa bagiku. Semua orang memberikan tepuk tangannya untuk sang gadis tanpa lengan ini. Aku sungguh bahagia akan semua itu, dan bisa membuat mama dan papa bangga akan pencapaian yang aku raih.

Mulai dari acara itu, aku mulai diliput banyak media televisi. Rancanganku mulai ditampilkan di berbagai majalah bertaraf nasional. Gambar sang gadis tanpa lengan ini mulai ditampilkan di halaman utama setiap artikel. Dan gadis tanpa lengan ini mulai diundang di berbagai acara, mulai dari wawancara tentang kehidupanku dan pencapaianku. Dan satu hal lagi, sewaktu kecil aku pernah punya impian untuk menjadi seorang penulis . Aku pun mendapat tawaran, untuk membuat buku mengenai kehidupanku, akhirnya aku menerbitkan buku pertamaku yang berjudul “ Impian Gadis Tanpa Lengan”

Aku sungguh bahagia sekali, karena banyak orang terinsipirasi dari kehidupanku. Dan aku sangat berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah mengambil kedua lenganku, yang membuat aku bisa mewujudkan impianku. Serta papa dan mama dan juga Arif dan Gab yang telah mendukungku sepenuhnya hingga saat ini. Aku, gadis tanpa lengan yang punya banyak impian.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya