Menjalin hubungan jarak jauh denganmu tidak pernah terasa membosankan. Bagiku, karena ada saja hal-hal yang ingin kulakukan sendiri tanpamu. Seperti perihal merindukan. Aku tidak akan bisa merindukanmu kalau kita tidak terpisah jarak ratusan kilometer ini.

Tiga tahun berlalu dan merindukanmu menjadi rutinitas yang tak kunjung usai. Aku mulai merunut lagi benang merah yang menjalin kisah kita. Di mana simpul awalnya? Kenapa setelah tiga tahun, benang ini memudar dari warna merah segarnya dan semakin rapuh hingga aku merasa, tidak akan kita temukan simpul kisah ini nantinya, Sayang. Aku mulai takut, telah banyak hal-hal selain rutinitas merindukanmu yang telah mengikis segala yang terbentang di antara jarak kita, dan akhirnya menjadikan kisah ini putus begitu saja.

Advertisement

Berdasarkan ketakutan itu, aku buka kembali akun sosial media yang telah lama kita tinggalkan karena tak lagi signifikan. Dan ingatkah kamu, Sayang? Kamu menitipkan sederet kalimat-kalimat rindu untukku, meski telah bertahun-tahun yang lalu, pada catatan di platform itu. Kubaca dengan haru, membiarkan nostalgia menghantuiku.

Satu yang bisa kusimpulkan, kita pernah saling merindukan, Sayang. Tapi aku dan kamu, tidak pernah saling mengutarakan. Dan itulah yang memudarkan kasih di antara kita setelah tiga tahun berlalu.

"Embun pagi yang menyambut pagiku, menggantikan pesan-pesan darimu yang tak pernah sampai di langit kotaku, atas kekhawatiranku padamu malam tadi." Tulismu.

Advertisement

Kamu kembali berkelakar, seandainya bulan Desember lalu ketika ulang tahunku, kamu menyempatkan datang ke kotaku dengan harga tiket pesawat paling mahal karena musim berlibur. Bukannya berdalih malas bepergian karena musim hujan. Mungkin saat itu aku akan lebih menyayangimu. Mungkin saat itu, kamu akan merasa, perjuangan kita untuk menghapus jarak itu memberikan arti pada tiga tahun yang sudah kita lalui hingga hari ini. Mungkin saat itu aku tidak akan mendiamkan pesanmu hingga membuatmu menuliskan catatan klise di akun media sosial yang kini tak pernah lagi kau kunjungi.

Sungguh, Sayang. Tak kutemukan lagi ujung permulaan simpul kisah kasih kita. Tak ada lagi jejak yang membentuk peta di antara kotaku dan kotamu yang mampu memberi harap bahwa kita bisa bersatu. 

Maka dari itu, lenyapkan saja jarak ini, ya? Mari kita relakan, bahwa rutinitas merindu, tidak terlalu cocok bagi aku dan kamu yang di kepalanya terlalu riuh oleh prasangka. Perkara merindu yang tak berkesinambungan ini, hanya sanggup membuatku berpura-pura masih menyayangimu. Padahal sesungguhnya aku hanya merasa nyaman, dengan keberadaanmu yang jauh dariku. Dan kamupun terlalu masif untuk menantiku menyeberangi jarak itu demi bisa menjangkaumu dengan nyata.


"Terkadang kamu hanya terasa seperti sebentuk memori. Terlalu jauh dan tak sanggup aku telisik dengan nyata, hangat dan tenangmu. Menunggumu terlalu merumitkanku, hingga aku sanggup menyederhanakan penantian ini hanya ketika embun pagi menyapaku." 

Tulismu, di barisan pesan terakhir yang kau titipkan di catatan itu.


Maka izinkan kubalas barisan kalimatmu itu, dengan barisan lain yang semoga, membuat benang merah yang telah kusut dan pudar ini, hanya menyisakan hangat di kotamu. Untukmu, yang pernah menghangatkanku dari jarak ratusan kilometer itu.

 

*to be continued*

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya