Tidak ada yang pernah tahu bagaimana jalan takdir seseorang, kita hanya bisa mengusahakan dan memintanya kepada Sang Pemilik Hidup. Aku tak pernah menyangka jika apa yang pernah aku semogakan ternyata menjadi kenyataan, meski dia harus menempuh ratusan hingga ribuan hari hingga akhirnya berjumpa.


"Untung aku tidak pernah lelah untuk mendoakannya dan ternyata Tuhan luluh hingga akhirnya mengabulkan apa pintaku"


Advertisement

Singkat cerita, sekitar lima tahun yang lalu aku menemukan sosok laki-laki yang membuatku sudah jatuh hati pada pertemuaan pertama.. Dia laki-laki biasa saja, sederhana, dan tidak menonjol seperti laki-laki lainnya di ruangan itu. Pandanganku langsung tertuju padanya, bukan kepada laki-laki lain yang sepertinya jauh lebih pantas dielu-elukan. Dia adalah si laki-laki berkacamata dengan kemeja biru lengan panjang yang sedang tertawa ringan di depan laptop warna hitamnya. Itu kali pertama aku bertemu dengannya. Tak ada adegan dramatis yang terjadi di antara kami saat itu. Hanya aku yang terpaku melihatnya saja.

Ternyata Tuhan begitu baik kepadaku, kami dimasukkan ke dalam project yang sama selama satu tahun setelah hari itu. Aku makin mengenal baik pribadinya. Dari situlah aku makin kagum pada semua sikap dan tutur katanya. Sosok sederhana yang selalu menenangkan kami semua ketika kepanikan datang. Sosok sederhana yang selalu sholat tepat waktu. Sosok sederhana yang begitu cerewet ketika kami masih sibuk bekerja saat jam makan siang telah tiba. Tak ada yang istimewa darinya, namun makin hari aku makin tertambat padanya. Pandanganku seperti terhipnotis untuk mencari sosoknya ketika pagi telah datang.


"Aku males cari cewek, nanti aja lah kalo memang aku udah ingin untuk menikah. Males ribet," ujarnya saat kami berlima sedang membicarakan perihal urusan asmara. Kekagumanku semakin meningkat kepadanya.


Advertisement

Ada banyak hal yang akhirnya aku ketahui tentang dia setelah kami menghabiskan masa satu tahun terikat dalam satu project yang sama. Semakin hari kekagumanku akan dirinya semakin tidak terhitung lagi. Hingga akhirnya, project kami selesai dan kami berpisah. Benar-benar berpisah. Tidak lagi intens berbincang dan bercanda dengan hitungan 10 jam x 5 hari. Tahun berikutnya kami berpisah, tapi kami tetap masih berada pada kantor yang sama.

Seperti ada yang hilang ketika menjalani hari-hari pertama setelah berpisah project dengannya. Tidak lagi ada sosok sederhana yang membuat kupu-kupu dalam perutku beterbangan ke sana ke mari. Mungkin aku hanya terjebak kenyamanan karena kami sering berjumpa, itu pikirku pada awalnya. Namun ternyata makin hari, aku makin merasa hampa. Aku makin mengharapkan pertemuan dengannya, namun aku terlalu gengsi untuk mulai menyapa. Aku diam saja dan ternyata rindu itu makin nyata.


Hingga akhirnya aku mulai menyebutkan namanya dalam setiap sholat lima waktu, "Jika benar dia adalah sosok terbaik untukku, maka bukakanlah jalan agar kami berdua bisa bersatu. Jika dia bukan sosok terbaik untukku, maka hilangkanlah semua perasaanku kepada dia." Kalimat panjang yang tidak pernah absen aku ucapkan di antara munajat-munajatku yang lain.


Aku tidak tahu harus melakukan usaha apa selain mendoakan hajatku itu, sembari aku memperbaiki diri. Aku hanya berpasrah kepada Sang Maha Membolak-balikkan Perasaan hamba-Nya. Aku percaya bahwa jika memang kami ditakdirkan untuk bersama, pasti akan ada jalan yang terbuka. Jika memang tidak, pasti rasa ini akan luntur dengan sendirinya. Di tahun kedua itu, aku hanya banyak berharap dan berdoa supaya keajaiban itu bisa terjadi di antara kami.

Pertengahan tahun ketiga, aku mendengar kabar bahwa dia akan resign dalam waktu dekat dari kantorku. Bagaimana perasaanku saat itu? Kosong, aku tidak tahu harus berkomentar apa. Sepertinya Tuhan memang tidak mengabulkan pintaku. Mungkin ini memang jawaban dari Tuhan bahwa kami tidak bisa bersatu. Sudah saatnya aku melupakan khayalanku tentang dia. Sudah cukup waktu menantiku, jangan diperlama lagi karena tidak akan baik untukku.


"Gimana perasaanmu ke dia ?"

"Hmm yaa gitu. Udah ilang mungkin. Udah gak pernah ketemu juga, udah gak pernah saling kontak juga"

"Yakin?"

"Yaaa gimana ya? Belum ilang sih, cuman kok kayaknya sia-sia aja gitu."

"Udah coba doain aja lagi."

"Kemarin udah didoain juga ujung-ujungnya dijauhin kan?"

"Tapi kan perasaanmu belum ilang betul, berarti hasilnya masih abu-abu."


Aku kembali menyebut namanya dalam rentetan panjang doaku. Kini kusebut dengan nama lengkapnya. Namun kali ini aku sudah tidak semenggebu dahulu. Aku lebih berpasrah, menyerahkan semua pada Tuhan. Jika memang jawabannya "iya", nanti pasti ada jalannya.

Di pertengahan tahun keempat, akhirnya kami bertemu kembali setelah setahun kami berpisah. Ada titipan undangan pernikahan dari teman kantor kami yang harus aku sampaikan kepadanya. Aku menghubunginya dan kami berdua memutuskan untuk berjumpa di sebuah kedai kopi. Akhirnya kami berdua akan berjumpa juga setelah hampir setahun ini tidak saling sapa.


Aku masih mendoakannya. Aku pun tidak tahu mengapa. Namun aku percaya bahwa dia adalah seseorang yang memang aku cari selama ini. Walaupun aku tahu bahwa kemungkinan kami bersatu sangatlah kecil. Aku jauh dari kata sempurna dan pasti dia bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih sempurna daripada aku. Aku sudah sangat berpasrah.


Kami pun berjumpa. Kami duduk berdua saling berhadapan. Membicarakan tentang segala hal yang terjadi selama setahun belakangan, tentang pekerjaan kami masing-masing, tentang kantorku yang juga mantan kantornya, tentang kabar teman-teman kami. Seperti layaknya kawan yang sudah lama tidak berjumpa. Aku kembali bisa melihat tawanya seperti dahulu lagi. Aku seperti kembali ke masa-masa awal kami berjumpa. Aku bahagia sekali, seperti mimpi rasanya.

Tidak seperti dulu yang kami hanya berbicara seputar pekerjaan, malam itu entah apa yang mendorong kami berdua untuk bercerita mengenai diri kami sendiri. Dia menceritakan tentang dirinya dan keluarganya. Aku juga menceritakan tentang aku dan keluargaku. Tiba-tiba kami berdua juga bercerita tentang masa depan. Tentang bagaimana bentuk keluarga masa depan yang kami impikan, tentang di mana masing-masing dari kami ingin tinggal, tentang pekerjaan seperti apa yang ingin masing-masing dari kami kerjakan saat sudah berkeluarga nanti.


"Memangnya kamu ingin kapan?" tanyaku kepadanya.

"Pengennya tahun depan, tapi entahlah."

"Wiih tahun depan bakalan cepet banget sih. Semoga deh yaa dipermudah jalannya," ucapku. Ada sebuah bentuk patah hati yang tiba-tiba kurasakan dalam diriku.

"Anyaway, kamu emang belum ingin menikah?" tanyanya kini kepadaku.

"Hmm ya ingin sih, cuman yaa nunggu yang mau nikahin itu. Belum ada yang datang juga,"

"Kalo nikah sama aku mau enggak?" ujarnya. Aku diam, mungkin aku salah menangkap maksudnya.

"Heh?" itu reaksiku.

"Hahaha aku gak becanda ini. Aku seriusan. Mau nggak?"


Malam itu juga akhirnya mengiyakan. Hari ini, pertengahan tahun kelima aku mengenalnya, aku dengan gusar sedang menantikan dia yang kini berhadapan dengan ayahku untuk mengucapkan Qabul atas diriku. Aku tidak pernah membayangkan bahwa seperti ini bentuk terjawabnya doaku kala itu. Aku bersyukur bahwa aku tidak pernah menyerah untuk mengucapkan pintaku dalam untaian doa panjangku selama empat tahun terakhir ini. Semoga memang inilah jawaban terbaik itu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya