Aku sudah ingin bersulang, merayakan sebuah pesta penyambutan saat kamu pulang. Senyum merekah, obrolan panjang dan tatapan singkat yang biasa kamu berikan. Sudah beberapa tahun sejak kepergianmu, melangkahkan kaki dari pintu. Satu tahun tanpa kabar kapan kamu pulang. Dua tahun kepergianmu, akhirnya aku mendapatkan kabar, ternyata kamu sudah bertamu ke rumah yang lain.

Baiklah, pergi saja sesuka hatimu, bawa saja langkah kakimu kemana kamu mau, ikuti saja insting egomu untuk terus mengembara. Aku masih rumah dengan pintu, namun tanpa kunci. Sengaja, aku ingin mendengar ketukan pintu dan berharap di depan pintu itu kamu. Karena aku yakin pergi akan selalu sepaket dengan pulang, pulang kembali. 

Jika kelak kamu merindukanku dan merasakan pedih dalam hatimu percayalah semua sudah terjadi dan aku baik-baik saja. Tetaplah jadi orang yang kukenal yang mengajariku tentang arti kehidupan. Karena kamu tahu di tempat yang memang khusus disediakan untukmu menemukan kenyamanan sekalipun tidak ada satu bidadari yang menunggumu dan hanya aku si buruk rupa yang bersedia menunggunmu lama. 

Kemana pun kamu pergi menjauh, kamu akan tahu kemana harus pulang. Kamu pasti akan selalu menemukan jalan pulang dari ketersesatanmu. Mungkin segalanya telah berakhir, tapi tidak  dengan segala kenangan kita. Mungkin kamu sudah pergi tapi tidak dengan aku, selangkahpun aku tak pernah pergi, karena aku masih rumah yang menunggu penghuninya pulang. Aku tahu persis bagaimana aku dan bagaimana kamu, kita memiliki banyak kesamaan, bagaimana tidak?

Hampir semua yang ada padamu aku tahu, baik yang tak tampak maupun tak tampak. Bahkan segala desas-desus itu, ya tentang masa lalumu dengannya aku paham benar detailnya. Tapi sayang, mungkin waktu memang belum memihak kepadaku hingga saat ini, tapi tak mengapa. Pergilah berkeliling dunia, jika kamu sudah lelah, pulanglah, aku menyediakan secangkir teh untuk menemani perbincangan kita berdua.

Saat keriputmu sudah ada di dahi, saat kakimu sudah tak mampu berdiri, hanya aku tempatmu berpulang dan menghabiskan masa tua kita dengan obrolan secangkir teh. Bukankah dulu kamu pernah bilang bahwa aku adalah rumah, tempatmu akan selalu pulang. Kemana pun kamu pergi, sejauh apapun kamu merantau, kamu akan tetap selalu pulang ke sini, ke rumahmu ini.

Pada akhir ujung kebersamaan kita, jadikanlah aku rumah bagimu. Dan kembalilah, jika memang aku rumah.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya