Mendung di langit, semendung hatiku. Suasana yang cukup mendukung untuk meninggikan lamunan. Masih terngiang di telinga kalimat ayah semalam. Pertanyaannya yang tiba-tiba muncul sontak membuat hatiku bergetar. Beliau menanyakan kabarmu. Rupanya beliau juga pernah menaruh harap padamu dulu. Katanya, kamu laki-laki yang baik. Katanya lagi, sebenarnya kita cocok.

Hatiku ngilu, lalu berbisik ‘kalau kamu memang laki-laki yang baik, semua ini takkan pernah terjadi.’

Advertisement

Sejak saat itu, sejak kita memutuskan hubungan tanpa kata aku berniat tak akan pernah memikirkanmu lagi. Sungguh begitu sulit untuk tidak mengingatmu. Begitu keras usahaku untuk membuang bayangmu jauh-jauh dari pikiranku. Bagaimana tidak? Hatiku sudah terpikat oleh pesonamu. Cerita kita penuh ketidaksengajaan. Tak sengaja aku melihatmu. Tak sengaja kita berkenalan. Tak sengaja juga aku menyukaimu. Ketidaksengajaan yang membawa kita bertemu cinta. Kupikir semesta mendukung pertemuan kita.

Kamu hadir dalam hidupku menawarkan cinta, membawa kasih sayang, lengkap dengan perhatian yang tak ada habisnya. Melukiskan warna warni baru di hariku. Membuat duniaku selalu bermusim semi. Mengajakku merajut mimpi-mimpi dan menerbangkannya di atas harapan-harapan indah. Menjadikanku wanita paling bahagia di dunia. Hatiku berhenti di kamu. Tak ada lagi laki-laki lain yang aku inginkan selain dirimu. Kamu sangat berhasil membuat diriku terbuai di tengah belaian lembut cinta. Bahagia yang kau berikan membiusku. Hingga terlupa dengan sakit yang bisa saja ditimbulkan oleh cinta itu sendiri. Terlalu silau hingga tak bisa melihat ada lubang menganga yang kapan saja bisa membuatku terperosok jatuh.

Hipnotis apa yang kamu pakai hingga tak sedikitpun aku sadar tersembunyi sebilah pedang di balik sayap cintamu. Yang sewaktu-waktu siap melukaiku.

Advertisement

Kuberikan sepenuh hatiku untukmu. Tapi apa yang kuterima? Benar saja, diam-diam pedang itu telah menusuk jantung hatiku hingga retak hampir patah. Kamu berkata hanya aku wanita yang kamu cinta, kamu berkata juga ingin menjalani hidup hanya denganku. Nyatanya masa depan yang telah kita rancang hampir sempurna harus berakhir penuh luka. Untuk apa kamu memulai semua ini? untuk apa kita bersama? apa arti perhatian dan kasih sayangmu selama ini? apa arti cinta kita selama ini bila akhirnya aku harus menemui kenyataan pahit, bahwa kamu sudah memiliki pendamping hidup.

Bagaikan petir yang menyambar bumi.

Kenyataan yang sama sekali tak pernah kubayangkan terjadi. Tak kuasa ku menahan amarah di dada. Air mata yang menderas cukup menjelaskan keadaan hatiku saat ini. Patah, hancur tak berbentuk. Mimpi itu, harapan itu, angan itu semuanya musnah. Semua kalimat yang kamu ucap hanya omong kosong. Semuanya palsu. Kamu yang kusayangi setulus hati setega itu melakukan kebohongan atas nama cinta.

Seribu alasan yang kamu jelaskan di depanku menguap percuma. Tak akan merubah keadaan. Cinta yang pernah membara kini membakar perasaanku sendiri. Hari-hari yang dulu indah terhias senyummu kini tak lagi ada. Malam-malam yang dulu hangat karna hadirmu kini telah hilang. Aku yang dulu selalu kau hujani dengan perhatian dan kasih sayang kini harus merasakan dicampakkan dan ditinggalkan.

Empat tahun sudah berlalu sayang. Ingatan tentangmu sudah terpendam.

Hatiku sudah terbebas dari jeratan cinta. Aku bisa bernapas lega. Sesekali kurindukan sosokmu. Yang penuh kasih sayang. Yang selalu kucari pada laki-laki lain, tapi tak juga kutemukan yang sepertimu. Mungkin aku hanya rindu dengan perasaan itu saja. Kamu, pencuri hati terbaik yang pernah kukenal. Semoga kamu bisa berubah dan hidup bahagia dengan istrimu. Dan untukku, semoga aku segera menemukan penggantimu yang bahkan lebih menyayangiku tanpa pernah melukaiku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya