Seorang Anak Perempuan


Anak perempuan yang selalu bergantung di ketiak Papa


Advertisement

Sekarang anak perempuan Papa tinggal di sebuah kota kecil, ia jauh dari keramaian, ia jauh dari keadaan yang serba ada. Kini ia sudah mulai bertumbuh dewasa dan sudah mulai belajar untuk makan dari hasil kerjanya. Sesekali ia masih meminta Papa mengisi saldo di rekeningnya, bukan untuk makan, tapi untuk memenuhi keinginannya yang sebenarnya tidak begitu penting.

Anak perempuan Papa mungkin sudah terlihat mandiri tapi tidak seperti yang di tampakkannya. Ia terlihat kuat dan tegar tapi tidak terus begitu ketika ia mulai merindu. Masih ada keinginan tinggal bersama di rumah. Anak perempuan Papa kini tidak lagi membuat segelas kopi untuk Papa, ia hanya membuat segelas kopi untuk dirinya sendiri.

Anak Perempuan Papa yang dulu selalu meminta Papa untuk mengantar dan menjemputnya kini berjalan sendiri, sejauh apapun perjalanan itu selalu ia tempuh sendiri. Ia berjalan kemanapun ia mau, sesekali ia menceritakan tentang perjalanannya, sesekali ia menceritakan betapa sulit dan sukarnya untuk sampai ke tujuan, betapa curamnya jurang yang ada di sisi kiri perjalannnya, betapa dalam laut yang ia arungi dengan perahu kecil.

Advertisement

Mungkinkah anak perempuan Papa yang dulu bergantung di ketiak Papa, kini mulai belajar berdiri pada kakinya?

Ada Kenangan Dan Pelajaran Yang Tak Terlupakan


Setiap anak-anak akan keluar dari rumah untuk melanjutkan masa depan mereka. Tetapi hangatnya rumah akan selalu dirindukan, meskipun tempat yang baru jauh lebih menyenangkan.


Sewaktu bersamamu, tinggal bersama Papa…

Anak perempuan Papa tak pernah terluka, goresan kecil pun tak pernah ia rasakan perihnya.

Anak perempuan Papa tak pernah bersedih karena kata-kata ataupun perlakuan dari orang sekitar.

Anak perempuan Papa tak pernah kehujanan karena selalu ada payung yang terbuka baginya ketika ia berjalan pulang.

Anak perempuan Papa tak pernah kepanasan, karena Papa mampu menutup cahaya matahari

Anak perempuan Papa mungkin sedang merindukan itu…

Tetapi kini ia sadar bahwa sudah waktunya ia belajar untuk merasakan goresan luka atau bahkan luka yang sangat lebar agar ia tak membuat luka ataupun goresan pada tubuh orang lain.

Kini ia harus belajar bahwa kata-kata juga mampu untuk menyakiti, oleh sebab itu ia harus menjaga kata-katanya.

Kini ia harus tahu betapa dinginnya berada di tengah hujan, agar ia tahu menolong sesamanya yang sedang kedinginan.

Kini ia harus merasakan panasnya matahari agar ia tahu bahwa bekerja di bawah matahari adalah sulit dan melelahkan.

Kini anak perempuan Papa tahu bahwa pengorbanan yang Papa buat selama ini agar ia tahu untuk menghargai hidup, agar ia tahu untuk menghargai cinta.

Seburuk apapun, rumah akan selalu dikenang dan dirindukan, seburuk apapun perjalanan untuk pulang akan selalu ada keinginan untuk kembali. Karena dari tempat yang jauh itu ada pribadi yang mengajarkan banyak hal, ada pribadi yang tak pernah berhenti untuk mengasihi. Dan! Ada pribadi yang selalu siap memberikan pelajaran berharga untuk hidup.

Papa Dan Anak Perempuannya


Kopinya enak? Papa menjawab “iya, enak” (dengan senyuman).

Tetapi setelah itu, Papa akan pergi ke dapur untuk menambahkan gula pada kopinya.


Papa selalu tahu bagaimana cara untuk menghargai anak perempuannya, Papa tahu bagiamana cara untuk memotivasi dan tidak menghancurkan harapan dari anak perempuannya.

Anak perempuan Papa akan paham bahwa ia tak akan mungkin dikecewakan dan ia akan mengerti bahwa segala pertimbangan yang di buat bagi kehidupannya adalah untuk kebaikannya.

Papa bagaikan cinta pertama anak perempuannya yang tak pernah menyakitinya. Yang selalu siap untuk menemani kapanpun. Namun Papa sering kali terabaikan karena anak perempuannya memiliki cinta yang lain. Tapi sekalipun demikian Papa tidak akan berpindah posisi, Papa selalu setia pada anak perempuannya.

Papa tak pernah mengatakan sibuk untuk bercerita dengan anak perempuannya, ia mungkin sudah terlalu rindu.

Sekalipun nanti anak perempuannya pergi bersama suaminya, ia akan tetap menjadi anak perempuan dari Papanya. Akan selalu ada kamar di rumah bagi anak perempuan ketika ia kembali kerumah untuk berlibur. Mungkin saat itu Papa tidak akan lagi meminta segelas kopi, Papa hanya meminta air putih untuk kesehatannya. Papa tak lagi minta untuk dibuatkan makanan yang terlalu rumit, cukup bubur dan segelas susu.

Padahal saat itu anak perempuannya sudah tahu bagaimana cara membuat segelas kopi yang nikmat, ia sudah pandai untuk memasak di dapur. Hanya saja sudah terlambat, biarlah anak perempuan Papa memasak untuk keluarganya, untuk suami dan anak-anaknya. Papa akan tersenyum dan bahagia ketika melihat anak perempuannya bahagia. Papa akan bahagia ketika melihat anak perempuannya mampu menjadi orang tua yang baik.


Papa akan jauh lebih bahagia ketika anak perempuannya bahagia.


Papa tak pernah menuntut balas atas apa yang telah ia buat bagi anak perempuannya.

Sudahkan anak perempuan Papa berterimakasih untuk kebaikan hati Papa??

Sebuah surat untuknya…

Terima Kasih..

Untuk setiap perhatian, setiap pengertian, setiap kasih sayang dan perlindungan.

Sekalipun Papa tak pernah mengatakan bahwa Papa mengasihi, namun perlakuan Papa kepada anak perempuanmu sudah menunjukkan semuanya.

Papa tidak pernah mengatakan kalimat “Tidak bisa” walaupaun kenyatannya hal tersebut sulit untuk Papa lakukan, tetapi Papa melakukannya dengan baik.

Terima kasih

Untuk kesempatan mendapatkan pendidikan, disaat banyak anak-anak harus diam di rumah. Anak perempuan Papa yang kini ada di kota kecil ini bersyukur dilahirkan sebagai anak perempuan Papa yang mendapat kasih sayang dan perhatian, ada dalam keluarga yang hangat. Terima kasih Papa berkenan untuk membesarkan, merawat dan mendidik anak perempuan Papa.

Mungkin apapun yang dilakukan oleh anak perempuan Papa tak akan sama dengan apa yang sudah Papa berikan padanya. Ketika malam Papa akan memetik gitar dan menyanyi, menjaga agar anak perempuan tertidur lelap, ketika pagi Papa akan memastikan bahwa anak perempuan Papa sampai kesekolah dengan selamat, ketika siang Papa akan memastikan bahwa ia pulang kerumah dan langsung beristirahat.

Maaf, pernah membuat Papa menangis.. Pernah membuat Papa kecewa. Penah meragukan keputusan yang Papa buat untuk kehidupan anak perempuan Papa.

Kata maaf tak akan mampu menyembuhkan luka di hati, kata maaf tak akan mampu menghapus air mata. Sekalipun demikian, anak perempuan Papa akan terus mengatakan…. Maaf ..

Untuk Papa terhebat, saya mengasihimu…

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya